Al Fadi, Hafiz Qur’an yang Murtad karena Ajaran Radikal Wahabi

oleh

Oleh : Win Wan Nur*

Kemarin, 27 Februari 2021, media ini menerbitkan berita tentang kunjungan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, MH ke Aceh Tengah. silaturrahmi kebangsaan dengan pimpinan daerah dan masyarakatnya dalam kaitannya dengan upaya melanjutkan program sinergi dalam bidang pencegahan dan penanggulangan terorisme.

Di berita itu dikatakan kalau menurut Boy Rafli Amar, upaya pencegahan paham radikal terorisme ini tidak akan berhasil bila hanya dilakukan oleh unsur BNPT dan pemerintah saja, namun juga harus melibatkan banyak unsur seperti pemuda, akademisi, paguyuban kesukuan, dan forum-forum masyarakat untuk umat beragama. Melalui pelibatan tersebut, narasi kebangsaan ini akan semakin baik diterima masyarakat terutama generasi muda.

Pernyataan Boy Rafli tentu tidak terlepas dari kekhawatiran atas apa yang berlaku di masyarakat yang meremehkan bahaya dari terorisme yang didasari oleh paham radikal dalam beragama.

Kalau kita perhatikan, tidak sedikit orang-orang di sekitar kita, lingkungan keluarga terdekat dan lingkaran pertemanan kita yang memandang sinis lembaga seperti BNPT yang dianggap sebagai usaha mendiskreditkan Islam. Ada pandangan yang menganggap bahwa sebutan Islam radikal adalah dongeng yang sengaja dibuat oleh musuh-musuh Islam supaya kita memiliki pandangan negatif dan meragukan agama kita sendiri.

Lalu, entah kenapa pada hari yang sama secara kebetulah saya menemui sebuah link internet https://www.youtube.com/watch?v=c8DZSYzvmyg&feature=youtu.be yang menampilkan kesaksian Alfadi, seorang insinyur Teknik Sipil yang sangat cerdas berasal dari negara Arab Saudi.

Video ini menunjukkan fakta yang berbeda dengan apa yang diyakini oleh banyak orang di sekitar kita. Dari video ini kita bisa melihat kalau aliran radikal dalam Islam itu benar ada, bahwa tidak benar sebutan aliran radikal itu hanya dibuat untuk mendiskreditkan Islam, agar orang Islam tidak yakin pada agamanya.

Video ini menunjukkan kalau dalam Islam (sebagaimana juga dalam beberapa agama lain) ajaran radikal itu benar-benar ada. Dan ajaran seperti itu, bukan hanya beresiko menjadikan penganut agama menjadi seorang teroris, tapi juga bisa membuat seorang Islam yang taat mengambil jalan menjadi seorang murtadin.

***

Dari kesaksiannya di video ini, saya mendengar pengakuan Alfadi yang menyatakan kalau dia tadinya adalah seorang muslim yang taat, dulu dia begitu bangga dengan agamanya. Bahkan sebagai orang Islam pun dia merasa sangat beruntung dan istimewa karena bukan saja sekedar Islam, tapi terlahir sebagai anak Arab Saudi, negara yang menjadi pusat Islam, tempat di mana agama ini lahir dan 1,8 milyar muslim sedunia, setidaknya lima kali sehari, bersujud dan berdo’a dengan menghadap ke arah negaranya.

Alfadi kemudian menceritakan, sejak dia berumur 3 tahun dia sudah dididik dengan ajaran Islam aliran wahabi yang radikal.

Dalam banyak hal, apa yang diajarkan orangtua Alfadi, tidak jauh beda dengan kita terima sebagai penganut Islam sejak lahir, dia diajari bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang diterima Allah. Dan seperti yang kita yakini, menyangkal hal itu membawa konsekuensi yang parah yang mengantar kita ke neraka.

Alfadi tumbuh menjadi seorang Islam yang taat, rajin shalat wajib dan sunat, rutin berpuasa sunat apalagi yang wajib, rajin bersedekah. Sampai di sini, ajaran yang diterima Alfadi, tidak jauh berbeda dengan apa yang kita terima.

Yang sedikit berbeda dengan yang kita terima adalah, kepada Alfadi diajarkan kalau satu-satunya cara pasti untuk masuk surga adalah dengan cara mati demi perjuangan untuk membela Islam, hanya itu satu-satunya cara agar seluruh dosanya akan diampuni. Dengan cara itu kata Alfadi, dia tidak hanya akan langsung ke surga, tetapi ke langsung menuju surga tingkat tertinggi.

Waktu itu dia melihat orang Kristen sebagaimana siapapun siapa pun yang tidak mengikuti Islam, statusnya kurang lebih sama seperti budak, padahal manusia pada dasarnya harus bebas dari perbudakan.

Dengan pemahaman seperti itu, ketika dia melihat berita di TV dan di koran tentang politik luar negeri Amerika dan Uni Sovyet yang menjadikan negara-negara Islam sebagai sasaran penindasan, membuatnya melihat orang Kristen sebagai musuh yang harus diperangi.

Dengan keyakinan seperti ini, saat usianya memasuki tahun kelima belas dia mendaftar dan berangkat untuk berlatih jihad. Orang yang menjadi pahlawannya adalah seorang laki-laki yang tidak asing baginya, yang bersekolah hanya tiga blok jauhnya dari tempatnya tinggal, namanya: Osama bin Laden.

“Saya sangat mengagumi keberaniannya yang pada dasarnya rela meninggalkan kekayaan keluarganya demi membuktikan bahwa ‘Saya di sini untuk berperang dan mati demi Tuhan yang saya sembah,’” ujar Alfadi dalam videonya.

Dia gagal berangkat ke Afghanistan karena dilarang ibunya. Gagal ke Afghanistan, dia semakin mendalami Al Qur’an, sehingga di usianya yang ke -16, dia sudah hafal lebih dari separuh Juz dalam Al Qur’an dan dia sudah diperbolehkan menjadi imam shalat berjamaah di masjid.

Tamat SMA, Al Fadi mengambil kuliah agama di Mekkah, tapi karena dia merasa apa yang dia ketahui tentang agama dan apa yang dia praktekkan dalam berislam sudah lebih dari cuku. Dia keluar dari kuliahnya dan mengambil kuliah Teknik Sipil di Jeddah.

Setamat dari kuliah teknik di Arab Saudi, dia melanjutkan kuliahnya di Amerika.

Waktu itu, motivasi terbesarnya untuk pindah ke Amerika dilandasi oleh niat baik untuk mengislamkan orang Amerika yang kafir, yang dipandangnya tak jauh beda dengan budak. Amerika yang selama ini dia kenal hanya melalui film-film keluaran Hollywood semakin membuatnya yakin kalau ajaran Kristen yang mereka anut, menjadikan mereka sebagai manusia yang tidak beradab, semakin menguatkan tekadnya untuk mengislamkan orang Amerika.

Di Amerika, melalui program penyambutan mahasiswa internasional, Al Fadi mulai berteman dengan keluarga Amerika untuk belajar lebih banyak tentang budaya Amerika sekaligus mengasah kemampuan bahasa Inggrisnya. Dia sangat yakin dan percaya bahwa kalau dengan hubungan yang dekat seperti, keluarga yang ditumpanginya itu akan mudah dia ajak masuk Islam.

Tapi dia benar-benar kaget karena ternyata mengislamkan mereka tidak sesederhana yang dia bayangkan sebelumnya, karena keluarga beragama Kristen ini juga ternyata punya adab dan aturan, mereka tidak sembarangan, mereka punya keyakinan spiritual dan juga punya ajaran berbuat baik pada sesama. Mereka juga punya standar moral yang tinggi, sampai membuatnya merasa kecil.

“Itu bagi saya, sangat membingungkan karena saya bertanya pada diri sendiri, ‘Dari mana mereka mendapatkan nilai moral ini?’” Al berbagi. “Saya sedang diajari bahwa Alkitab mereka rusak.

Melalui keluarga ini, dia mengenal banyak keluarga Kristen yang jauh dari apa yang dia bayangkan sebelumnya berdasarkan ajaran yang dia terima. Perlahan, mulai tumbuh simpati dan rasa sayang Al Fadi pada mereka sebagai sesama manusia.

Pada 11 September 2001. Al Fadi yang waktu itu berada di Amerika, sudah kenal, sehari-hari bergaul dan bersahabat dengan orang Kristen yang sudah dipandangnya dengan cara berbeda dengan waktu dia berada di Saudi, menjadi saksi bagaimana orang-orang yang tak tahu apa-apa meregang nyawa.

Media di Amerika yang terus mengulas kejadian itu dari berbagai sisi, bagaimana perasaan keluarga korban, bagaimana kesedihan yang mereka rasakan atas kehilangan anggota keluarganya, mati terpanggang tanpa tahu apa salahnya, membuay Al Fadi merasa apa dilakukan oleh para jihadis Islam dan pahlawannya Osama Bin Laden sebagai sebuah kejahatan yang luar biasa.

Al Fadi kemudian mengingat ajaran Islam yang dulu diterimanya, bagaimana dulu dia akan berangkat berjihad membunuhi orang Kristen dan akhirnya imannya pun goncang. Dia mulai meragukan ajaran Islam yang dianutnya.

Sejak itu, Al Fadi mulai berhenti shalat, tidak lagi berpuasa, dia berhenti membaca Al Qur’an dan tidak lagi melakukan ritual-ritual Islam yang lain.

Beberapa bulan kemudian, dia memulai mengunjungi gereja Kristen, mulai membandingkan ajaran Kristen dengan ajaran Islam yang dia anut sejak kecil dan diapun menemukan ajaran Kristen yang dia terima dalam ajaran Islam dan diapun menemukan bahwa Kristen itu adalah agama yang menghargai kemanusiaan, agama yang berkebalikan dengan Islam dan akhirnya dia mantap memeluk Kristen dan belakangan dia mendirikan lembaga yang bernama CIRA International (Center for Islamic Research and Awareness,) sebuah lembaga non pemerintah yang bertujuan untuk memebedah segala sesuatu tentang Islam untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Islam bukanlah agama yang layak untuk dianut.

Dia kemudian menulis “The Quran Dilemma” untuk menunjukkan pada dunia bahwa Qur’an yang suci bukanlah sebuah buku suci yang petunjuknya layak untuk diikuti. Pendeknya, sejak memutuskan keluar dari Islam dan memeluk Kristen, mantan penganut Islam berlabel hafiz ini mendedikasikan dirinya untuk mengkristenkan orang-orang Islam yang dianggapnya sudah keliru membuat pilihan.

Dari pengakuan Al Fadi di video ini, kita bisa melihat dan mendengar, bagaimana ketika dia masih bergaul hanya sesama penganut Islam, menjalankan agama berdasarkan prinsip sami’na wa ata’na mengikuti ajaran Islam aliran wahabi yang dia terima bulat-bulat tanpa menggunakan logika kritis dan akal sehatnya, dia hidup dalam kesalahpahaman yang mematikan tentang Kristen, membenci bahkan pernah mendaftarkan diri menjadi anggota kelompok jihadis untuk membunuhi orang-orang yang tidak beragama Islam ini.
Lalu, ketika dia akhirnya menggunakan logika kritis dan akal sehatnya, dia malah tenggelam dalam kesalahpahaman mematikan tentang Islam, agama asalnya, agama yang dianut kedua orangtuanya.

Dari video yang saya tonton ini, saya melihat bagaimana paham radikal dalam beragama, paham yang membuat orang gampang mengkafirkan orang Islam yang kebetulan memahami tafsir yang berbeda atas dalil yang sama, tidak hanya beresiko membuat penganutnya menjadi teroris, tapi cara beragama seperti ini ternyata juga berpotensi menggiring seorang muslim yang taat menjalankan perintah agama menjadi seorang murtadin.

***
Sementara itu, sejak sebulan lalu, saya dikenalkan dengan channel Youtube, Pemuda Tersesat yang menampilkan pendakwah Habib Ja’far Husein yang penampilan dan gaya berkomunikasinya sangat milenial. Pengetahuan agamanya sangat luas, dengan penguasaannya atas dalil-dalil, pengetahuannya tentang asbabun nuzul turunnya sebuah ayat, sejarah sebuah hadits, dia bisa menjelaskan berbagai kesalahpahaman orang di luar Islam tentang agama ini, kesalahpahaman yang membuat Al Fadi, seorang insinyur cerdas, hafiz qur’an asal Saudi, meninggalkan agama ini.

Sayang sekali, ketika masih menganut Islam, Al Fadi tidak pernah bertemu dengan ulama-ulama seperti ini. Ulama yang mengatakan, “Ayat tentang perang hanya sekitar 1 sampai dua persen dari isi Al Qur’an dan ajaran Islam secara keseluruhan. Selebihnya tentang keteladanan hidup nabi.”

Ulama yang mengajarkan bahwa ajaran Islam yang utama itu adalah mencintai dan menyayangi, jadi kalau ada tafsir yang bertentangan dengan itu, coba diperiksa kembali.

Saya bayangkan, seandainya waktu itu, ketika Al Fadi sedang dalam fase meragukan keimanannya bertemu dengan ulama seperti ini. Saya yakin sekali, dia tidak akan terperangkap dalam kesalahpahaman seperti ini dan dia pun tidak akan mengambil pilihan jalan hidup seperti sekarang ini. []

Comments

comments