Musim Kemarau di Dataran Tinggi Gayo, Masalahkah?

oleh

Oleh : Syah Antoni*

Musim kemarau menghampiri dataran ringgi Gayo. Setelah musim penghujan beberapa bulan lamanya. Hanya dalam hitungan hari saja, kemarau seolah menghapuskan jejak musin hujan yang beberapa waktu lalu memporakporandakan beberapa wilayah dengan banjir juga longsornya.

Saat kemarau datang beberapa masalahpun ikut-ikutan muncul, mulai dari panas menyengat, kebakaran, hingga susahnya mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Baik untuk konsumsi maupun penunjang tumbuh kembang tanaman petani-petani padi atau palawija di Dataran Tinggi Gayo. Akhir-akhir ini, hampir tiap tahun penulis mendengar keluhan beberapa masyarakat yang mengaku kesulitan mendapatkan air bersih saat musim kemarau tiba.

Aliran air PAM yang tersedat, air sumur kering adalah beberapa alasan yang sering terlontar, selain beberapa alasan lainnya. Saat kemarau tiba, sudah beberapa kali penulis menemui sumur-sumur masyarakat disekitaran pemukiman lumayan padat yang airnya kering, atau berbau logam, entah besi atau logam jenis lainnya.

Walau belum dilakukan penelitian spesifik tentang fenomena tersebut, penulis cukup resah. Bau pada air pastilah mempengaruhi kualitas air, apalagi aroma yang tercium persis sama dengan aroma beberapa jenis logam yang dikhawatirkan bisa mempengaruhi kesehatan.

Minsal, menimbulkan penyakit berbahaya seperti kanker kulit, kanker usus, juga penyakit berbahaya lainnya. Pada kondisi demikian, masyarakatpun seolah tidak memiliki pilihan lain.

Dibeberapa lokasi, ada yang belum terjangkau air PAM karena beberapa sebab, ada juga yang tidak sanggup membayar iuran karena faktor ekonomi. Atau sumber mata air yang dulu mengalir deras dari pegunungan kini mulai keruh atau mengering. Padahal, dulu aliran – aliran air tersebut mampu memenuhi kebutuhan air satu atau bahkan beberapa desa.

Tidak hanya untuk konsumsi saja, tapi digunakan juga untuk memenuhi kebutuhan air tanaman saat kemarau. Berkaca dari hal ini, penulis berharap akan adanya kesadaran dari masyarakat maupun pemerintah daerah yang dalam hal ini harus lebih dominan berperan dalam mengatasi masalah kekurangan air juga mengupayakan pengadaan air berkualitas disaat musim kemarau seperti sekarang ini.

Minsal dengan selalu melakukan monitoring terhadap perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang pengadaan atau penyaluran air kepada masyarakat, karena beberapa tahun kebelakang atau sampai sekarang ada perusahaan air yang dibangun oleh daerah tidak beroperasi atau terbengkalai.

Hal tersebut tentu sangat disayangkan dan terkesan merugikan khalayak ramai. Dan yang paling penting, pemerintah daerah harus menjaga hutan yang masuk daerah resapan air. Hal tersebut urgen.

Tanpa hutan, mustahil masyarakat bisa menikmati air berkualitas. Pemerintah mestinya tegas, bilapun tidak sanggup atau tidak becus menahan laju penebangan hutan secara luas, hendaknya mampu menjaga hutan yang menjadi sumber mata air (daerah resapan air).

Karena bila dibiarkan rusak terus menerus, bukan tidak mungkin dimasa yang akan datang akan terjadi konflik antar manusia karena memperebutkan air.

Cukuplah terjadi konflik manusia dan binatang liar akibat perusakan hutan secara besar-besaran. Bukan hal mustahil mengaliri kembali air pada mata-mata air yang sudah mengering cukup lama. Minsal, dengan melakukan reboisasi atau penghijauan sebagai upaya mengembalikan fungsi lahan (hutan).

Hal tersebut memang membutuhkan waktu yang cukup lama, tapi akan lebih baik dibandingkan hanya berdiam diri membiarkan generasi setelah kita kekurangan air di tempat tinggalnya yang dahulu dilembabkan air-air dari pegunungan.

Semoga harapan penulis dapat tertunaikan, biar tidak adalagi keluhan masyarakat ikhwal sulitnya mendapatkan air bersih, tidak adalagi tanaman mati karena kekurangan air, atau munculnya penyakitzpenyakit berbahaya karena mengkonsumsi air yang tercemar limbah atau mineral-mineral berbahaya lain saat musim kemarau tiba.

Wallau’alambisyawab.

*Petani dari Dataran Tinggi Gayo

Comments

comments