Investasi Masa Depan

oleh

Oleh : Agung Pangeran Bungsu*

Pendidikan adalah investasi masa depan yang berharga bagi orang tua. Sehingga pendidikan yang baik tentunya harus memiliki konsep dan tujuan yang baik pula. Tidak sedikit lembaga pendidikan yang menawarkan beragam konsep pendidikan, akan tetapi orientasi nilai serta tujuan yang diharapkan seringkali bersebrangan dengan nilai yang dicita-citakan.

Tidak jarang kita temui anak-anak yang memiliki kecerdasan kognitif yang melampaui teman-teman seusianya, akan tetapi terkadang kecerdasan afektifnya tidak jauh lebih baik dari kecerdasan kognitifnya.

Hal ini tentu saja menjadi perkerjaan rumah bagi setiap orang tua, karena sejatinya kecerdasan afektif jauh lebih penting dan berharga dalam membangun peradaban. Lantas apa yang dapat dilakukan oleh orang tua, tentu saja solusi yang terbaik adalah kembali kepada pendidikan yang bernapaskan nilai-nilai Islam.

Hari demi hari kesadaran orang tua untuk memilihkan pendidikan yang berkualitas bagi putra-putrinya semakin meningkat. Hadirnya lembaga-lembaga pendidikan fomal maupun pendidikan non formal di bawah naungan pemerintah dan juga pihak swasta kini disambut baik oleh masyarakat.

Fenomena yang terjadi ternyata tidak hanya di kota-kota besar saja akan tetapi juga terjadi di daerah-daerah yang ada di Indonesia. Kualitas lembaga pendidikan negeri harus bertarung dengan lembaga pendidikan swasta, tentunya ini menjadi kabar yang menggembirakan bagi orang tua, sehingga orang tua tidak lagi kebingungan dalam memilihkan pendidikan yang tepat bagi putra-putrinya.

Jenis pendidikan yang ditawarkan juga beragam, ada lembaga pendidikan yang berbasis asrama dan juga pendidikan non asrama. Kedua pilihan yang ada memiliki kelebihan dan kekurangan dari berbagai sudut pandang kaca mata yang berbeda.

Tentunya semua usaha yang ditempuh oleh orang tua sebagai ikhtiar menyelamatkan anak sebagai amanah yang telah dianugrahkan oleh Allah.

Belum terbilang lama, konsep pendidikan non asrama yang ditawarkan oleh lembaga atau swasta sempat mencuri perhatian banyak kalangan. Pendidikan yang ditawarkan adalah konsep pendidikan berbasis nilai Islam yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai lembaga pendidikan IT (Islam Terpadu).

Konsep pendidikan formal diformulasikan dengan konsep pendidikan yang ada dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Peserta didik diajarkan sedini mungkin untuk mengenal alam dan ligkungan sekitar, membiasakan diri untuk menghafal Al-Quran, menghafalkan hadits nabi Shallallahu alaihi wasallam.

Serta masih banyak lagi kegiatan-kegitan yang mampu menunjang kecerdasan spiritual bagi anak. Tentu saja pendidikan yang demikian sangat tepat bagi orang tua yang kekuragan waktu untuk dapat mendampingi putra-putrinya yang ada di rumah.

Bukanlah tugas yang mudah bagi orang tua untuk membesarkan putra-putrinya hingga usia dewasa. Sehingga dapat dipastikan tidaklah cukup sebatas materi atau finansial yang dipersiapkan oleh orang tua saja, melainkan dibutuhkan kesabaran, keuletan serta perhatian untuk mampu menjadi orang tua terbaik dalam menunaikan kewajiban bagi anak. Allah berfirman dalam Al-Quran.

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (An-Nisa 9)

Ayat di atas merupakan pesan khusus yang Allah titipkan bagi orang tua. Sejatinya yang diminta untuk senantiasa belajar bukan hanya anak semata melainkan orang tua juga memiliki tugas untuk belajar dan terus belajar agar dapat memberikan pendidikan terbaik bagi anak.

Dapatkah dibayangkan apabila segala sesuatu yang berkaitan dengan perihal pendidikan agama diserahkan kepada para guru atau asatidz yang ada di sekolah, lantas cukupkah apabila orang tua hanya memfasilitasi segala kebutuhan yang ada di sekolah dan hanya mempersiapkan finansial bagi putra-putrinya saja. Tentunya tidak cukup dengan itu semua.

Dapatkah kita bayangkan apabila ada anak yang kini mampu membaca Al-fatihah bukan karena sebab kedua orang tuanya melainkan karena sebab gurunya yang ada di sekolah.

Lantas betapa besar kerugian yang diperoleh orang tua sehingga tidak mampu meraih pahala kebaikan surah Al-fatihah yang akan terus dibaca oleh putra-putrinya selama hidupnya.

Maka sudah semestinya orang tua memiliki pengetahuan yang mumpuni dalam membesarkan putra-putri yang telah Allah titipkan. Jangan sampai guru atau asatidz yang ada di sekolah jauh lebih memahami bagaimana karakter anak dari pada orang tuanya yang ada di rumah.

Tentunya amanah ini adalah amanah yang mulia, yang tidak dititipkanNya kepada semua pasangan. Tidak ada kata-kata terlambat untuk terus belajar. Karena pendidikan adalah investasi masa depan yang berharga bagi orang tua. Walau bagaimanapun orang tua tetaplah orang tua yang akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah nantinya.

Dengan demikian perkara mendidik bukanlah hanya sebatas tugas guru yang ada di sekolah maupun tugas para asatidz. Melainkan orang tua adalah motor penggerak yang akan menentukan kesuksesan anak di masa depan. Wallahu a’lam bishawaf.

*Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comments

comments