Keutamaan Taqwa

oleh

Oleh : Rizkan Abqa, SM*

Pengertian Taqwa secara Etimologi adalah Taqwa berasal dari kata waqa – yaqi – wiqayah yang artinya menjaga diri, menghindari dan menjauhi. Sedangkan pengertian Taqwa secara Terminologi adalah Taqwa adalah takut kepada Allah berdasarkan kesadaran dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan tidak melanggar dengan menjauhi segala larangan-Nya serta takut terjerumus dalam perbuatan dosa.

Ketaqwaan adalah status kemuliaan seorang hamba di sisi Allah SWT. Ini adalah gelar dunia dan langit yang tak mampu ditandingi oleh seribu gelar dunia sekalipun. Hilangnya taqwa akan menyebabkan hilangnya keberkahan. Bila keberkahan telah diangkat dari kehidupan seseorang atau suatu negeri maka masalah-masalah yang menyempitkan akan datang silih berganti.

Allah SWT berfirman
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS. Al A’raf: 96)

Taqwa menjadi modal penting dalam menampilkan jati diri seorang hamba di hadapan Sang Khaliq bahkan menjadi perkara yang tidak bisa tawar-menawar lagi dalam menciptakan sebuah masyarakat madani dalam satu negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang aman, damai dalam limpahan berkah Allah SWT.

Janganlah menilai kemuliaan seseorang hanya dari merek pakaiannya atau jumlah harta yang ia miliki dan jangan pernah mengukur kemajuan sebuah bangsa atau masyarakat hanya dari gedung-gedung pencakar langitnya, tetapi lihatlah dari ciri-ciri ketaqwaannya.

Pandanglah cara mereka memperoleh rezeki, interaksi sosialnya, keagamaannya, kehidupan politiknya, hingga tentu saja adalah tentang ibadahnya. Aspek-aspek kehidupan itu akan menunjukkan karakter seseorang atau suatu bangsa di sebuah negeri.

Jika karakternya buruk maka itulah alamat kerusakan, namun jika karakternya baik maka demikian itulah pribadi yang mulia yang kelak akan membentuk peradaban masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan.

Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Taqwa adalah pakaian terbaik bagi diri kita. Kadang kita merasa sedih ketika melihat baju kesayangan kita sobek dan rusak. Jika yang rusak itu adalah pakaian biasa mungkin tak ada kekesalan. Persoalannya pakaian tersebut adalah yang terbaik dan termahal.

Itulah hakikat pakaian, setiap kita memiliki satu yang terbaik dan termahal di antara sekian yang ada. Demikian juga sepatutnya seorang mukmin ketika kehilangan pakaian terbaiknya. Allah menyediakan satu pakaian terbaik untuk mereka, yaitu taqwa.

Allah SWT berfirman
“….dan pakaian taqwa itulah yang paling baik.” (QS. al-A’raf: 26)

Bila kita sanggup jatuh bangun banting tulang untuk mengumpulkan harta agar dapat membeli pakaian bagus dan perhiasan mahal dan bersedih karena kehilangannya, maka kitapun harus jauh lebih kuat untuk jatuh bangun demi meraih dan kemudian menjaga pakaian terbaik dari Allah SWT
Ketaqwaan akan melahirkan sifat-sifat terbaik dalam diri seseorang.

Tidak hanya dalam perkara hablum minallah, tetapi juga hablum minannas. Ibadah-ibadah mahdhah kita seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan dzikrullah tak akan memiliki nilai bila kita buruk dalam menata hubungan dengan alam sekitar, seperti manusia, lingkungan dan makhluk hidup lainnya.

Orang-orang yang bertaqwa adalah rahmatan lil’alamin yang selalu membawa kebaikan dan kedamaian. Mereka bagaikan pohon yang buahnya lebat. Tidak pernah berhenti memberikan manfaat bagi siapapun selama mereka hidup. Bahkan terhadap yang berbuat jahat kepada mereka sekalipun. Pohon yang dilempari batu selalu menjatuhkan buahnya kepada yang melemparinya. Begitulah filosofi yang selalu melekat pada diri orang-orang yang bertaqwa hingga Allah banyak memberikan pujian kepada mereka.

Bukan karena jabatan atau Pangkat yang membuat kita menjadi mulia. Bukan juga karena ilmu kita menjadi mulia. Bukan juga karena harta, kecantikan, dan gelar S1, S2, S3 dan seterusnya. Semua itu hanyalah citra yang melekat pada diri yang sungguh amat merepotkan pemiliknya.

Jabatan akan membuat pemiliknya cenderung merasa selalu kuat dan berada di atas. Ilmu akan membuat pemiliknya bersikap harus selalu benar tidak boleh salah. Harta akan membuat pemiliknya menjadi takut kehilangan dan merasa sombong hingga merasa tidak membutuhkan orang lain, justru orang lainlah yang membutuhkan dia.

Kecantikan akan membuat pemiliknya sibuk dengan peralatan kecantikan untuk merias diri sehingga sangat dekat dengan fitnah atau musibah.

Gelar akan membuat pemiliknya selalu merasa bangga diri dan merasa paling hebat di bidangnya, itulah yang disebut ujub. Citra-citra yang membebani diri itu juga akan menciptakan banyak penipu di hadapan pemiliknya.

Kita baru akan menyadarinya saat semua citra-citra itu hilang dari kehidupan kita. Itulah kehormatan semu yang juga hanya akan memperoleh penghormatan semu.

Dalam kehidupan keluarga, tidak baik kiranya bila dalam sebuah keluarga terdapat dua kutub pihak yang bertolak belakang khususnya dalam perkara aqidah dan amal shalih. Katakanlah seorang bapak yang rajin beribadah tetapi tidak peduli dengan anaknya yang menjadi anggota kelompok kejahatan yang meresahkan masyarakat atau seorang istri yang rajin ke majelis ta’lim sementara suaminya justru menjadi pemabuk.

Meski terdengar seolah begitu naïf, tetapi dinamika keluarga yang kontras dalam sikap dan perbuatan masing-masing ternyata adalah perkara lazim dan ada di sekitar kita bahkan boleh jadi juga menimpa keluarga kita. Di zaman para Nabipun betapa tidak sedikit pula anggota keluarga para nabi yang menolak dakwah mereka bahkan menentangnya.

Seperti Nabi Nuh dan anaknya Kan’an yang durhaka, juga Nabi Ibrahim dengan ayahnya Azar yang justru menjadi pemahat berhala bagi kaumnya.

Tidak bahagia rasanya membayangkan kehidupan di surga namun terbayang wajah-wajah anggota keluarga kita yang menderita karena terpanggang di dalam api neraka. Sungguh keadaan yang mengusik ketenangan jiwa bila orang-orang yang kita cintai di dunia tidak terjangkau hidayah Allah. Keadaan seperti ini tentu sangat dipahami oleh Allah sehingga wajar bila kita diingatkan dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

“Setiap kali nyala api jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi nyalanya bagi mereka.” (Al-Isra’: 97)

“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka terus merasakan azab.” (An-Nisa’: 56).

Begitulah dahsyatnya api neraka yang sangat jauh berbeda dengan api yang kita rasakan di dunia. Sungguh sedih bila kulit kita, atau istri kita, saudara kita, atau anak-anak kita yang terkena azab dari api yang teramat panas itu.
Taqwa selayaknya melahirkan kepedulian dan kasih sayang bagi orang-orang terdekat dalam keluarga kita.

Nama dan wajah mereka tak luput untuk selalu terukir dalam untaian doa-doa harian kita. Setiap anggota keluarga juga harus mendukung dalam perkara kebaikan dan taqwa dan juga saling mengingatkan tatkala dalam kesilapan.

Komitmen keluarga yang kokoh dalam pijakan taqwa harus mengantarkan setiap anggota keluarga pada sebuah visi dan misi keluarga untuk terus bersama-sama hingga di dalam surga. Semoga hal ini dapat kita wujudkan di tengah-tengah keluarga kita.

Disinilah ketaqwaan kita harus diwujudkan dalam semangat bersama untuk membangun negeri yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang ingin mendapat curahan berkah dari langit dan dari bumi hanya mempersyaratkan satu hal yaitu keimanan dan ketaqwaan para penduduknya terutama para pemimpinnya.

Bila sebuah kekuasaan para pemimpin dapat dimanfaatkan untuk menegakkan nilai-nilai kebaikan dan keadilan tentu dapat membawa dampak kemaslahatan bagi segenap umat. Namun sebaliknya jika para pemimpin besifat zalim maka kerusakanlah yang akan terjadi.

Allah menjanjikan rezeki, keberkahan dan jalan keluar dari setiap masalah bagi orang-orang yang bertaqwa, Allah SWT berfirman

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Q.S. At-Thalaq: ayat 2 – 3).

*Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Kebangsaan Indonesia Bireun.

Comments

comments