[In Memoriam] Spirit Berdidong Ceh Musa Musara Disuport Tgk. H. Ilyas Leube

oleh

Didong Membangun Masjid, Sekolah dan Jembatan di Gayo

Masyarakat Kampung Asir Asir Atas pasti mengenal nama Musa alias Muse Musara, salah satu warga yang cukup dihormati karena kesenimanannya dalam Didong Gayo. Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 23 Oktobr 2011 silam saya sempat mewawancarainya dalam sebuah penelitian di kediamannya di Dusun Buntul Juli.

Wawancara seputar tentang perjalanannya dalam berseni Didong dan sejumlah pragmen sejarah pada masa kanak dan remajanya di Kampung Bintang Kecamatan Bintang.

Salah satu topik pembicaraan saat itu adalah seputar kiprahnya dalam seni Didong sejak awal hingga terciptanya sejumlah lagu-lagu yang merupakan masterprisenya yang pada masa-masa berikutnya lagu ini diiringi dengan musik modern yang cukup digemari.

Namun pada Selasa 19 Jan 2021 Musa Musara Bin Muhammad Kasim berpulang kerahmatullah setelah sempat dilarikan ke di RSU Datu Beru Takengon.

Muse Musara adalah seorang seniman tradisi kenamaan Gayo yang terkenal dengan sejumlah lagu Didong ciptaannya. Ia lahir di Kampung Bintang Kecamatan Bintang pada tahun 1951, salah seorang Ceh Didong yang tidak pernah mendendangkan lagu ciptaan orang lain atau group Didong lain selain karyanya sendiri.

Ia juga tidak pernah ber-Didong Jalu berpindah klop selain Musara Bintang yang telah membesarkan nama dan karya-karyanya. Kecuali ada even Didong Jalu di luar Tanah Gayo seperti di Jakarta, Medan atau kota lainnya.

Muse Musara sudah ber-Didong sejak usia kanak. Bahkan ia sempat menjadi idola dalam group Musara Bintang sebagai salah satu Ceh Kucak (Ceh Cilik). Ia mengaku spirit ber-Didongnya berkembang dan termotivasi setelah seorang tokoh menepuk bahunya sebagai tanda senang dan bangga.

Ketika itu bersama anak-anak lainnya seusia saya sedang bermain di pantai Bintang, yang kebetulan pada malam harinya akan diadakan sebuah acara kesenian dalam menyambut perdamaian DI TII dengan Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1963. Salah seorang tua datang menghampirinya sambil berpesan “Win kelem kase urum berDidong boh”.

Awalnya Muse kecil tidak tau siapa orang tua tersebut karena memang tidak pernah bertemu sama sekali. Ia juga tidak tau dari mana orang tua itu tau bahwa ia suka dan pandai ber-Didong, mungkin dari teman-teman sebayanya atau dari para orang-orang tua di Kampung Bintang.

Sejak itu Muse kecil karap diajak ber-Didong keluar kampong, bahkan jaraknya terkadang sangat jauh. Ber-Didong ke Pondok Baru dalam rangka pembangunan masjid dan rumah sekolah. Kemudian ke Kampung Isak dalam rangka pembangunan jembatan, ke Angkup, Pegasing dan sejumlah tempat lain yang kesemuanya Didong Jalu.

Terkadang sekali berangkat bersama group tidak sempat pulang ke rumah, dari satu acara Didong Jalu ke kampung lain untuk acara yang sama. bahkan terkadang baru satu hari berada di rumah, esoknya langsung berangkat lagi untuk ber-Didong, kata Muse mengenang.

Muse kecil selalu dielukan oleh para pe-Didong yang rata-rata sudah remaja. Mereka menempuh perjalanan ber-Didong antar kampung dan tempat-tempat jauh dengan mengendarai truk. Ada juga dengan mengendarai sepeda motor. Namun yang lebih sering adalah dengan kapal laut karena jalan darat Bintang-Takengon saat itu masih sangat jelek.

“Setelah usia remaja saya baru tau bahwa yang menepuk bahu dan menyuruh ber-Didong adalah Tgk. H. Ilyas Leube”. [Salman Yoga S]

Comments

comments