Toweren, Calon Kampung Wisata Yang Menawarkan Kearifan Lokal Gayo

oleh
Penulis Bersama Petue Toweren dan Akademisi UTU dan UGP

Oleh : Win Wan Nur*

Setiap kali kembali ke Takengen dari Bali, tempat saya berdomisili sejak 18 tahun terakhir. Saya selalu mendapati begitu banyak kekeliruan paradigma dalam memandang pariwisata.

Kekeliruan paradigma ini membawa konsekwensi pada banyaknya pandangan negatif terhadap pariwisata yang datang dari kelompok yang merasa mendukung syariat Islam, seolah-olah pariwisata itu adalah anti tesis dari Syariat Islam yang bersifat saling menegasikan, dalam pengertian kalau kita menerapkan syariat Islam, artinya tak ada pariwisata dan sebaliknya kalau ada pariwisata artinya kita meninggalkan syariat Islam.

Sangat sering saya mendengar suara sinis sampai nyinyiran yang menyatakan “Gayo ini bukan Bali” jadi jangan sok-sokan mau mengembangkan pariwisata di sini. Seolah-olah yang namanya pariwisata itu hanya seperti yang berkembang di Bali dan tak ada lagi bentuk-bentuk lain yang berbeda.

Kenyataannya, dalam kalimat “Gayo ini bukan Bali” ini terdapat dua kekeliruan sekaligus, kekeliruan yang terjadi akibat kurangnya pengetahuan si penyinyir tentang pariwisata dan tentang Bali sendiri.

Pertama, yang tidak diketahui orang-orang ini adalah pariwisata itu banyak sekali jenis dan segmennya. Bukan hanya wisata yang isinya hura-hura, pergaulan bebas dan berpakaian terbuka-seterbuka terbukanya di pantai-pantai yang sifatnya massal yang dalam istilah asing disebut “mass tourism.”

Padahal dari pengalaman saya selama 15 tahun lebih berkecimpung di dunia pariwisata, yang namanya pariwisata itu banyak sekali ragamnya, selain seperti mass tourism itu ada beberapa jenis pariwisata yang menyasar ceruk pasar yang khas (niche market.)

Sebut saja misalnya seperti wisata alam bebas, arung jeram, jalan kaki di hutan, bersepeda dan seterusnya. Ada wisata pendidikan, ada wisata olahraga, ada wisata pertunjukan, ada wisata budaya, ada wisata ziarah bahkan wisata kesehatan seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang Sumatera ke Penang, Malaysia.

Kekeliruan kedua adalah ketidakpahaman soal Bali sendiri. Rata-rata orang Indonesia yang mendengar nama Bali, secara stereotip langsung membayangkan kalau turis-turis asing membanjiri Bali karena Bali menawarkan kebebasan yang sebebas-bebasnya, minum alkohol, pergaulan bebas dan berpakaian semaunya. Ketika orang menyebut pariwisata Bali, yang terbayang langsung pantai Kuta.

Padahal, kalau nama Bali yang sama kita sebutkan para orang Prancis misalnya, bayangan mereka tentang Bali sangat jauh berbeda dengan yang dibayangkan secara stereotip oleh orang Indonesia.

Kalau orang Prancis mendengar nama Bali, yang mereka bayangkan langsung pertama kali adalah keramahan yang diwujudkan dalam wajah penuh senyum masyarakatnya, rasa amannya, sawah bertingkat, perempuan yang menjunjung sesajen di atas kepala, kampung-kampung dengan rumah yang khas dan pura dengan umat yang menyembahyanginya yang bertebaran di segala sudut pulau ini.

Bukan hanya kalangan awam, bahkan di level pengambil kebijakan pun banyak yang masih terjebak dalam paradigma keliru ini. Makanya saya sama sekali tidak heran apalagi kaget, ketika saya mendapat jawaban “Gayo ini tidak sama dengan Bali” saat saya menyampaikan pentingnya membuat regulasi pariwisata pada bupati Shabela.

Berawal dari kegelisahan saya mendapati banyaknya salah kaprah dalam memandang pariwisata inilah saya tertantang untuk mengubah kesalahan paradigma ini melalui sebuah contoh nyata, sebab saya sangat paham yang namanya orang Gayo sama sekali tidak terkesan kalau hanya diberi khotbah tanpa ada tindakan nyata.

Sekitar sebulan yang lalu, saya diundang oleh kelompok pegiat pariwisata di sebuah acara di Ujung Nunang dan kepada mereka saya menyampaikan kegelisahan ini dan sejak saat itu sayapun semakin serius mencari satu kampung yang tepat untuk menjadi pilot project buat mewujudkan ide saya.

Tidak berselang lama dari acara tersebut, Al Junishar, pemilik Fakultas Kopi, Jakarta yang kebetulan sedang berada di Takengen, mengajak saya bertemu dengan rektor Universitas Teuku Umar, Meulaboh di Hotel Renggali. Pak rektor berasal dari kampung yang sama dengannya.

Di Hotel Renggali, pak rektor yang tahu saya bisa berbahasa Prancis memperkenalkan saya pada Dr. Alfizar, DAA, Wakil Rektor I bidang akademik yang mendapatkan gelar doktornya di Montpelier, Prancis. Mengetahui saya bisa berbahasa Prancis, pak wakil rektor yang sudah lama tidak menjajal bahasanya, segera bercakap dalam bahasa Prancis dengan saya. Dalam percakapan ini, saya mengetahui sebuah terobosan revolusioner dari menteri pendidikan yang baru, Kampus Merdeka.

Kampus Merdeka ini membuat mahasiswa dari jurusan apapun bisa mengambil mata kuliah dan pelatihan yang tidak sesuai bidang studinya. Kalau dulu, dari 144 beban SKS untuk S1, semuanya harus dilakukan sesuai bidang, sekarang hanya 110 SKS yang wajib, sisanya bisa diganti pelatihan, pengabdian dan kuliah di jurusan apapun. Salah satu yang bisa ditawarkan adalah, melakukan pengabdian di kampung selama 6 bulan dengan membantu kampung tersebut untuk berbenah.

Mendengar itu, sayapun langsung membayangkan, bagaimana luar biasanya nanti mahasiswa dari kampus, datang ke kampung. Nanti yang dari pertanian bisa mengembangkan kompos, membantu pengumpulan data, yang dari komunikasi bisa membuat tulisan tentang kampung, yang dari arsitektur bisa mengembangkan lansekap taman, yang dari teknik informatika bisa membangun website kampung untuk promosi dan seterusnya.

Di waktu lain, dalam sebuah perbincangan dengan wartawan Kompas online, Iwan Bahagia, saya ditawarkan untuk menjadikan kampung Toweren sebagai pilot project ini. Dari pertama kali nama ini ditawarkan, saya langsung merasa klop, karena saya merasa kampung ini pas dengan segalanya. Kampung ini adalah kampung terluas di pinggir Danau Laut Tawar, di kampung ini pula terletak Burni Birah Panyang, gunung yang jadi ikon lansekap dataran tinggi Gayo yang gambarnya juga tampil di sampul buku saya “Romansa Gayo dan Bordeaux”

Menindaklanjuti usulan Iwan, sayapun berangkat ke Toweren untuk lebih mengenal kampung ini. Apa yang saya dapati di sana, ternyata kampung ini sekarang sudah dibagi menjadi empat wilayah administrasi.

Di Toweren, saya disambut oleh reje dan banta kampung Waq Toweren dan Kejurun Belang.

Dan apa yang saya dapati setelah berbincang selama hampir 4 jam dengan mereka, disamping mendapati betapa antusiasnya mereka, ternyata yang saya dapati, Toweren jauh melampaui harapan saya. Ternyata bukan hanya potensi alamnya yang luar biasa indah, Toweren juga bisa dikatakan saat ini adalah benteng terakhir penjaga adat budaya Gayo di wilayah Lut.

Budaya Gayo di Toweren ternyata masih sangat dijaga. Peran seorang Kejurun Belang di Toweren ternyata masih sangat penting dan sosoknya sangat dihormati. Aturan-aturan yang dibuat oleh Kejurun Belang di Toweren sangat dipatuhi oleh masyarakat.

Sebut saja misalnya seperti aturan yang melarang warga bekerja di kampung setiap hari jum’at sebelum shalat, larangan bekerja di hari Rabu Nas, yang merupakan hari rabu yang jatuh di tanggal terakhir bulan menurut penanggalan hijriah, juga larangan bekerja saat ada warga yang meninggal. Ini benar-benar mengingatkan saya pada Subak yang ada di Bali. Adat budaya yang menjadi magnet bagi turis mancanegara untuk berkunjung ke pulau Dewata. Benar-benar sempurna.

Setelah mendapat data dan pengetahuan awal yang memadai, saya segera menghubungi Dr. Alfizar, DAA untuk menindaklanjuti konsep yang kami bicarakan sebelumnya. Dengan antusias, Dr. Alfizar segera mengabarkan ini ke rektornya yang mendukung penuh dan tidak lupa mengajak Universitas Gajah Putih untuk bekerja sama.

Ketika semuanya telah matang, sayapun menawarkan kembali konsep ini kepada bupati Shabela. Setelah saya jelaskan secara lebih detail, bupati Shabela yang tadinya skeptis dengan usulan saya soal pariwisata, kini bersikap sebaliknya.

Dari awalnya saya menawarkan undangan untuk menghadiri pertemuan kami dengan dua kampus, beliau malah berbalik menawarkan diri untuk mengundang kamu buat memaparkan konsep yang sudah kami susun.

Sebelum memenuhi undangan bupati, tadi minggu 24 Januari 2021, kami, saya, Iwan bersama para akademisi dari UTU dan delegasi Universitas Gajah Putih yang langsung dipimpin sendiri oleh Rektor Eliyen S. Hut, MP.

Dalam diskusi yang hangat di Kala Toweren sambil makan jahir masam jing, kami kembali memaparkan ide-ide kami di hadapan reje dan para petue kampung yang disambut dengan antusiasme yang sama.

Di sana kembali saya paparkan, bahwa apa yang ingin kami lakukan di Toweren adalah mengubah paradigma yang salah tentang pariwisata. Dari Toweren, kita akan membuktikan bahwa tidak hanya adat budaya lokal yang bernafaskan hindu seperti di Bali yang bisa menarik wisatawan. Tapi, adat budaya lokal yang kental bernafaskan Islam seperti di Gayo pun tidak kalah berpotensi dan tidak kalah menariknya.

Meski hasilnya tidak mungkin akan terjadi secara instant, tapi melihat antusiasme yang begitu besar dari warga dan semangat dari dua institusi pendidikan tinggi dari dua kabupaten serta dukungan bupati Shabela beserta jajarannya. Saya yakin, hasil dari apa yang akan kami lakukan nanti tidak akan mengkhianati usaha. []

Comments

comments