Covid dan Krisis, Masihkah Kita Bersyukur?

oleh

Oleh : Kausara Usman, S.Sos.I, M.Pd*

Disadari atau tidak, pendemi Covid-19 meruntuhkan berbagai sektor kehidupan kita, mulai dari segi ekonomi, pendidikan, sosial, budaya maupun agama. Di sektor ekonomi minsalnya, sangat berdampak pada anjloknya harga jual komoditi perkebunan dan sebagian pertanian. Khusus di Gayo yang dominan dengan komodotas kopi, ikut juga merasakannya.

Kopi merupakan urat nadi kehidupan petani di wilayah Gayo ini, harganya sangat anjlok hingga 40-60 ribu. Hal ini berdampak pada hasil pendapatan petani. Bahkan di sebuah media sosial yang sempat juga viral, ada petani yang tampak putus asa sampai memangkas habis batang kopi.

Di satu sisi wajar, tapi di sisi lain, sebenarnya Allah sedang menguji kita. Ujian itu ada yang bersifat kelebihan harta, bisa juga sebaliknya. Bahkan dalam sebuah ayat Al-Quran secara tegas dinyatakan bahwa manusia akan diuji dengan beberapa ujian yaitu dengan sedikit harta, kematian, dan kekurangan buah-buahan. (Lihat QS. Al-Baqarah: 155).

Terkadang menghadapi situasi sulit seperti ini, di antara kita ada yang yang kurang bersabar dan tidak menyikapinya dengan arif. Padahal nikmat yang tercurah itu jauh lebih besar dari ujian kesulitan yang ditimpakannya. Untuk itu bersyukurlah dengan apa yang diberikan yang Maha Kuasa kepada kita hambanya, karena dengan bersyukur Allah telah berjanji akan menambah nikmat dengan semakin bertambah.

Tidak ada yang dilalui dengan mudah tanpa adanya cobaan dalam hidup. Cobaan itu datang kepada diri kita sendiri, keluarga maupun kerabat serta teman-teman kita. Pengalaman perjalanan penulis di salah satu wilayah di pulau Jawa, melihat betapa susahnya kehidupan mereka, hanya beberapa saja yang dapat dihitung dengan jari yang berkecukupan jika dibandingkan dengan kita di Gayo, seperti Alam yang indah dan tanah yang subur.

Alam yang indah dan banyaknya objek wisata seperti danau Lut Tawar, Sejarah dan panorama indah. Sektor ini juga peluang yang harus kita manfaatkan, Terbukti pada awal penyambutan tahun baru masehi tahun 2021 ini, begitu membludaknya wisatawan dari luar daerah yang berkunjung ke tanah Gayo ini.

Hotel-hotel penuh dan ada Sebagian wisata yang berkunjung menginap dirumah-rumah warga untuk disewa dan disulap menjadi tempat tinggal (home stay).

Selanjutnya dalam bidang kehidupan sosial, ini sangat rentan dengan kondisi saat pandemi. Terbukti dengan semakin meningkatnya kejahatan dalam beberapa bulan ini, penulis melihat yang melakukan merupakan dampak social dari saat pandemic sekarang ini.

Kebanyakan pelaku berasal dari luar tanah Gayo, meskipun ada sebagian yang melakukannya dari warga gayo itu sendiri. Disinilah harus kita benahi keimanan kita, dengan kuat iman akan tidak berdampak pada setiap cobaan yang datang, karena kita selalu berbaik sangka kepa Allah, bahwa semua yang ada di bumi merupakan kehendak dan kepunyaan Allah sendiri.

Orang Gayo juga sangat identik dengan etnis yang cinta kebudayaanya. Adat istiadat sangat melekat di sendi kehidupannya, dalam kondisi pandemi ini berdampak pula pada kegiatan-kegiatan yang bersifat budaya, di Gayo ada kesenian baik tarian maupun kesenian didong yang dipentaskan selama sehari semalam yang dihadiri banyak orang, dengan akibat pandemi ini kerumunan massa tidak boleh lagi, dan acara di malam hari ditiadakan lagi.

Persoalan selanjutnya terkait pendidikan. Selama tahun 2020 pendidikan kita lumpuh. Belajar online yang dalam penyelenggaraannya banyak dikeluhkan, terutama oleh orangtua. Sistem daring tentu membantu siswa dalam proses pembelajaran. Namun di lain pihak banyak siswa yang lebih memanfaatkan kesempatan ini untuk lebih banyak bermain game. Sementara belajaranya sangatlah minim.

Makanya ketika ada kebijakan untuk dapat melakukan tatap muka bagi wilayah yang tidak terlalu parah terkena imbas korona, kita sedikit merasa lega. Anak-anak bisa sekolah meskipun belum normal seperti sedia kala.

Di sinilah kita semua memerlukan kesepahaman bersama dalam dalam dunia Pendidikan. Perlu adanya kesinambungan antara orangtua dengan sekolah. Tidak ada sikap saling salah menyalahkan, melainkan upaya Bersama untuk membenahi pendidikan selama pandemi.

Bagaimana pun kondisi yang kita hadapi saat ini, tetaplah bersyukur kepada-Nya. Syukur yakni sebagaimana yang telah dijabarkan oleh Ibnul Qayyim: “Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah.” (Madarijus Salikin, 2/244).

Lawan dari syukur sendiri adalah kufur nikmat, yaitu sifat enggan untuk menyadari atau bahkan mengingkari bahwa nikmat yang telah didapatkan adalah dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, selalu bersyukur saat Anda sedang diberi nikmat oleh Allah SWT, tidak memandang nikmat itu banyak atau sedikit.

Karena orang yang selalu bersyukur niscaya Tuhan akan menambah kenikmatan tersebut.
Hal ini sebagaimana firman Allah dalam di al-Qur’an: “Barang siapa yang bersyukur atas nikmatku kata Allah, niscaya aku akan menambahn nikmat itu. Akan tetapi barang siapa yang kufur atas nikmat Ku kata Allah, maka azab ku sangatlah pedih.” (QS. Ibrahim: 7).

Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas jelaslah bahwa bahwa di saat seperti pandemi ini juga kita dituntut untuk bersyukur. Bersyukur dalam artian bahwa dalam sedemikian susahnya kehidupan seseorang, tentu masih jelaslah kita masih diberi kenikmatan paling tidak masih diberikan Kesehatan dan terhindar dari pandemic, dan terutama masih bersosialisai dalam hal beribadah bersama.

Cobaan dan rintangan yang kita hadapai saat ini lebih berat pada saat jaman-jaman nabi dan rasul kita terdahulu seperti kisah perjalanan Nabi Ayyub yang menderita sakit sangat parah Beliau dikucilkan dari masyarakat, dan bahkan keluarga sendiri juga menjauhinya.

Jangan karena tanaman dan komoditi kita harga jual pada saat pandemi ini kita menjadi kufur nikmat, bahkan tanaman kopi juga kita musnahkan, karena semua itu adalah ketetapan Allah yang telah digariskan-Nya. Cobaan ini jangan kita menjadi lupa dengan Allah, tapi pandemi ini merupakan sebagai pemicu dan penyemangat untuk beribadah.

Di era pandemi ini perlu kiranya kita memandang bahwa bersyukurlah pada saat ini masih memiliki tubuh yang sehat, sehingga kamu dapat beraktivitas seperti sedia kalanya, masih bisa makan dan minum seprti sedia kala. Kita juga bersyukur masih tinggal bersama keluarga. Sebagian yang lain kita lihat ada yang bercerai berai dengan anggota keluarga mereka.

Kita juga masih di beri penghasilan dan kenikmatan walaupun ada sebagaian sangat terbatas, karena besar sedikitnya rezeki yang diberikan Allah harus kita syukuri dan berterima kasih kepadanya. Wallahu a’lam bishawab!

*Ketua II STIT Al-Washliyah Aceh Tengah

Comments

comments