Pokir Seputar Pendidikan Islam

oleh
Johansyah (Dok. Pribadi)

Oleh : Johansyah*

Tulisan ini adalah respon atas sebuah pertanyaan menarik di grup whatsapp alumni Persatuan Mahasiswa Takengon (Permata) seputar pendidikan. Persoalan yang disoroti salah satunya adalah problematika pendidikan kekinian yang didiskusikan dalam sebuah forum kecil. Intinya disimpulkan bahwa solusi dari persoalan pendidikan yang dihadapi saat ini adalah pendidikan Islam.

Dari sini berkembang lagi dan muncul beberapa pertanyaan, pendidikan Islam seperti apa yang dimaksud? Pesantren, Sekolah Islam Terpadu (SIT), madrasah, atau lembaga pendidikan Islam seperti apa? Muncul lagi pertanyaan; lala kalau pendidikan Islam itu yang ideal seperti masa rasul, seperti apa formulasi dan bagaimana relevansinya dengan konteks kekinian?

Untuk itu, saya coba mengutarakan pandangan pribadi berkaitan dengan persoalan ini. Langkah awal adalah memperjelas apa yang dimaksud dengan pendidikan Islam? Sebab dua gabungan kata ini bisa menimbulkan multi tafsir. Pertama, pendidikan Islam dapat bermakna pendidikan dalam masyarakat Islam.

Hal ini juga beragam. Bisa di negara mayoritas Islam, negara Islam, masyarakat Islam di negara maju, masyarakat Islam di negara berkembang, masyarakat Islam di negara yang tertinggal, dan sebagainya.

Kedua, pendidikan Islam bisa juga bermakna pendidikan menurut Islam. Seperti apa pendidikan menurut Islam? Hal ini tentu harus merujuk pada produk pemikiran para tokoh dan itu sangat beragam.

Ada yang aliran pemikirannya progresif, dan ada juga yang berpaham tradisionalis-prennial. Minsalnya menurut Fazlurrahman, Sayed Hosen Nasr, Al-Ghazali, Ibnu Miskaweh, Ki Hajar Dewantara, dan pemikiran-pemikiran para tokoh pendidikan lainnya, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Ketiga, pendidikan Islam juga bisa bermakna pendidikan bernuansa Islam, baik secara kelembagaan, kurikulum pendidikan, maupun tradisi sekolah. Minsalnya pesantren atau dayah (Aceh), maupun Sekolah Islam Terpadu (SIT), dan lembaga pendidikan yang serupa.

Kurikulumnya pun kemudian identik dan bernuansa Islam seperti kitab kuning, menerapkan budaya Islami; mengucapkan salam, sapa, senyum, dan lain-lainnya.
Keempat, pendidikan Islam juga dapat bermakna pendidikan yang Islami.

Ini lebih pada substansi. Lebih dari sekedar bernuansa Islami dan lebih dari sekedar menunjukkan simbul dan identitas. Pendidikan yang Islami merujuk pada pemahaman substantif tentang Islam itu sendiri. Segalanya diukur dari aspek Islam atau tidaknya sikap dan perilaku seseorang.

Untuk mengukur Islami atau tidaknya sebuah sikap dan perilaku harus dikembalikan pada makna Islam itu sendiri (salah satu hasil diskusi dengan kanda Dr. Marah Halim). Islam itu mendamaikan, menyelamatkan, menyejahterakan, memberi rasa aman dan nyaman, dan makna serupa lainnya.

Artinya jika sikap dan perilaku seseorang itu mengandung sifat dari pengertian Islam tadi, itulah ukurannya Islami. Dari itu, walaupun dia berusaha menunjukkan nuansa Islami, tapi pada akhirnya yang dilihat adalah sikap dan perilaku yang diekspresikannya, apakah melahirkan rasa aman dan nyaman, menyelamatkan, dan sebagainya.

Dari keempat pemahaman pendidikan Islam di atas, hemat saya mungkin pendidikan Islam yang dimaksudkan adalah pendidikan Islam yang keempat. Sementara yang lebih dominan dan kelihatan saat ini adalah pendidikan Islam dalam pengertian pertama hingga ketiga. Saya yakin bahwa yang kita inginkan sebenarnya adalah intinya yakni nilai-nilai Islam itu sendiri.

Dengan demikian, sah-sah saja kita menempuh jalan penguatan pendidikan Islam secara kelembagaan, seperti pesantren, sekolah Islam terpadu, atau boarding school lainnya. Secara identitas Islam juga perlu ditunjukkan. Tapi tetap saja yang menjadi pekerjaan rumah besar adalah soal karakterisasi nilai-nilai Islami. Segalanya harus diukur berdasarkan standar Islami yang lebih berbasis pada sikap dan perilaku Islami.

Selanjutnya, secara kelembagaan, kiranya pendidikan Islam tidak terfokus pada pendidikan formal, tapi juga informal, dan non formal. Dalam hal ini kita mengenal tri pusat pendidikan; keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kalau mau lebih baik lagi, sebenarnya tidak cukup dengan tri pusat pendidikan itu, tapi panca pusat pendidikan. Selain ketiga tri pusat tadi, ditambah lagi dengan negara, dan dunia global.

Mengenai dari mana memulai pendidikan Islam jika merujuk pada panca pusat pendidikan di atas? Hemat saya semua lini harus digerakkan secara sinergis dan simultan. Baik keluarga, sekolah, masyarakat, negara, dan dunia global. Memang harus diakui persoalannya super rumit, terutama dari kesepakatan tentang seperti apa formulasi pendidikan Islam itu? Tentu ada beragam pandangan persis terkait dengan beberapa pemahaman tentang pendidikan Islam yang dideskripsikan di atas.

Ini terlalu rumit. Maka diambil cara yang mudah, yakni meminjam istilah kanda Dr. Joni, teori lingkaran obat nyamuk. Hanya saja titik apinya bukan berasal dari ujung, tapi pangkal. Artinya pendidikan Islam itu dimulai dari institusi yang terkecil yakni keluarga. L

Materinya adalah hal-hal sederhana. Mengajarkan sopan santun kepada anak, etika bertetangga, silaturrahmi dengan sanak saudara, sedekah, tanggung jawab, dan nilai-nilai akhlakul karimah lainnya.

Hanya saja materi akhlak ini lebih dominan ditempuh dengan metode role model (keteladanan) dan habituasi (pembiasaan). Sebab persoalan inti akhlak itu pensifatan (karakterisasi), dan oleh sebab itu dia harus banyak mencontoh. Sudah pasti yang banyak dicontoh adalah orangtua.

Intinya ketika orangtua menghidupkan tradisi kebaikan dalam keluarga, baik dimensi akidah, ibadah, dan muamalah, itulah pendidikan yang Islami, meski orang tuanya bukan seorang ustadz.

Dalam skala besar terkait pemantapan pendidikan Islam, ini berkorelasi dengan politik dan kekuasaan pendidikan. Dalam wilayah ini ada berbagai kendala dan persoalan serius. Persoalan siapa yang memimpin sangat memengaruhi kebijakan pendidikan. Artinya secara kelembagaan, terutama formal, pendidikan Islam tidak dapat dipisahkan dari politik dan kekuasaan pendidikan.Terlepas dari itu, secara internal lembaga pendidikan Islam (bernuansa Islam) juga harus melakukan evaluasi diri.

Katakan saja pesantren tradisional, yang dalam konteks kekinian harus lebih membuka diri dalam menjawab tantangan kebutuhan jaman sambil berupaya mempertahankan pola yang lama (almuhafazhatu ala qadimishalih wal akhdzu bil jadidil ashlah), dan tampaknya inilah yang sedang dijalankan oleh Sekolah Islam Terpadu (SIT).

Hanya saja dalam perjalanannya SIT juga mendapat sorotan tajam, terutama dari aspek biaya pendidikan yang sangat tinggi. Peserta didik yang sekolah di sini adalah peserta didik dari keluarga ekonomi kelas menengah hingga atas.Inilah beberapa ‘pokok pikiran’ (Pokir) terkait dengan pendidikan Islam. Kalau mau dikembangkan lagi tentu masih banyak hal yang perlu dikaji.

Apalagi yang namanya pandangan tidak akan pernah final dan akan terus berkembang seiring dengan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh seseorang. Wallahu a’lam bishawab!

*Ketua STIT Al-Washliyah Aceh Tengah

Comments

comments