[Cerpen] Pengantin Gajah

oleh

[Cerpen] PENGANTIN GAJAH
Salman Yoga S

Tidak ada tanda dari hijau dan birunya hutan yang mejadi alasan tertahannya langkah Farah memanen pinang, kemiri dan kacang tanah. Meugang, menjelang Ramadhan tiba adalah momen yang tak dapat ia lewatkan begitu saja.

Batin dan perasaannya demikian lurus memantulkan harapan pada hasil dari yang telah disemai berbilang tahun. Beberapa karung kosong dalam tas jalinan pandan menggantung di bahu kiri, adalah kalkulasi cerminan hasil panen yang akan dibawanya pulang.

Meski tak didampingi sang suami, dengan sebilah parang di tangan kanan cukup baginya untuk menghimpun keberanian mengarungi sumber nafkahnya. Tetapi, Farah tidak pernah mengerti, nuansa warna yang memantul dari hamparan pegunungan datar telah merubah keakrapan dan kesahajaan alam pada siapa saja. Sumber rizki yang selama ini menjadi tujuannya telah menjadi ancaman.

Terlebih setelah hutan yang mengasuh dan menimang trilunan pohon kayu itu telah sejak lama menjadi magnet bagi orang kota. Menjadi daya tarik yang melelehkan air liur dan mengundang desau rantai-rantai besi untuk berpacu menumbangkan, melilit dan menyeretnya hingga jauh.

Kini gunung dan hutan di sekitar ladang pinang, kemiri dan tanaman muda lainnya milik Farah itu lebih mirip bola karet, plontos, gundul dengan warna tanah. Disana sini terlihat goresan tebal, sisa pohonan rebah yang membusuk.

Udara semakin panas, air kritis, satwa penghuninyapun kehilangan medan meraih asupan makanan. Justru karena itu pula, Kasim suaminya pernah berbetah diri dengan mendekam dijeruri besi karena bekerja sebagai penarik potongan balok, sebagai buruh harian.

Meski sang suami telah kembali keharibaan Tuhan setahun silam, nuansa warna kecintaan Farah tak jua berubah. Keseharian dan kesahajaannya dengan semak belukar sepanjang jalan adalah pilihan satu-satunya yang tepat untuk tiba di ladang.

Setiap perdu kemiri ia hampiri seperti mendekati jelmaan suaminya yang telah menyemai. Meski rerimbunan semak yang mengitarinya kerap menjadi sesuatu yang menakutkan baginya. Seakan rerimbunan itu menyimpan dendam lama yang menakutkan dan setiap saat dapat memuntahkan kebengisan.

Kenyataan ini kerap menjadi dilema baginya. Bagaimana tidak, dari rerimbunan yang sama sejumlah gajah bergading kuning pernah muncul secara tiba-tiba dengan kebengisan yang membuta. Menyeringai sambil mengangkat belalainya ke atas, menjulurkan gading tajam kedepan bak bayonet serdadu siap mengalirkan darah. Mengejar, menendang dan akhirnya menginjak badan Karim yang baru sebulan menikahinya.

Kini saat yang hampir bersamaan menjelang meugang, Farah kembali ketempat yang sama, ladang dan pohon pinang kemiri yang sama. Dimana sang suami ia temui berlumuran darah dengan kaki terlipat kedepan dan bidang dada yang terhimpit merapat ke tanah digilas hewan raksasa.

Meski kenyataan sebagai pengantin yang menjanda harus ia terima sepenuh kesabaran, tetapi ia tak dapat menghindar dari tempat dimana suaminya menjadi mayat. Farah menerima garis hidupnya dengan ketabahan, tanpa pernah dan tahu menghubungkannya dengan perubahan dari hijau-birunya hutan menjadi coklat.

Tanpa pernah perduli bahwa yang mengundang gajah-gajah itu adalah mereka yang mengeruk keuntungan dari menebangi dan mengeruk hasil hutan.

Setiap butiran kemiri ia pungut dengan penuh harap akan mampu memenuhi menu meugang menyambut bulan suci ramdhan. Hentakan demi hentakan tangannya mencabut perdu-perdu kacang tanah adalah tabungan logistik baginya selama berpuasa. Setiap gelantungan buah pinang yang memerah pada tangkainya ia kumpulkan dari setip batang, dengan cita akan cukup menghantarkannya ke toko kain untuk berlebaran.

Farah kenyang dengan harap dan citanya sendiri untuk dua bulan kedepan. Hasil panen dari semaian almarhum suaminya ia kumpulkan dalam sejumlah karung yang persiapkan. Ia mengusungnya di kepala hingga tiba di rumah, menyimpannya dibawah ranjang pengantin sebagai nafkah lahir dan bahtin baginya.

Caranya menjalani hidup dengan mensyukuri nikmat telah menjadikannya sebagai orang kaya di kampung. Orang yang tenang menjalani sebulan berpuasa.

Tetapi siapa yang mau perduli akan bising telinganya ketika orang-orang kampung tetap saja memanggilnya dengan sebutan yang tidak menyenangkan hati. Siapa yang mau mengerti bahwa ketika itu ia telah berusaha sekuat tenaga mengusir gajah-gajah ganas itu dari hadapan suaminya yang terlentang tak berdaya.

Jangan harap ada orang kampung yang bertanyaan mengapa gajah-gajah itu kian mendekati wilayah manusia. Jangan. Karena itu akan lebih menyakitkan bagi Farah.

Setahun telah berlalu, tetapi orang-orang kampung belum juga dapat memaklumi dan tetap saja menyalahkan Farah, menyebut dan memanggilnya dengan Inen Mayak Gajah..

Takengon-Bireun

Comments

comments