[Bag.1] Damaran Baru, Cerita Sukses Mitigasi Bencana yang Menginternational Jadi Kandidat Peraih API Award

oleh

Oleh : Win Wan Nur*

Sejak beberapa waktu belakangan ini, nama dan reputasi kampung Damaran Baru melejit bak meteor. Nama Damaran Baru menghiasi berbagai pemberitaan berbagai media besar internasional. Mulai dari BBC, CNN sampai South China Morning Post menayangkan video yang membahas kampung ini.

Damaran Baru, kampung yang dulu identik dengan suku Jawa tapi sekarang sudah dihuni separuh Gayo dan separuh suku Jawa ini dikagumi banyak orang di luar sana karena kaum perempuannya yang menjadi penyelamat hutan.

Terakhir kampung yang terletak di kaki gunung berapi aktif Burni Telong antara Simpang Balik dan Lampahan di kecamatan Timang Gajah, Bener Meriah ini masuk dalam nominasi peraih penghargaan pariwisata API (Anugerah Pesona Indonesia) Awards 2020 untuk kategori eco village. Dari rumor yang beredar konon untuk penganugerahan yang akan dilakukan di NTT di awal tahun 2021 ini posisi tiga besar sudah ada di tangan

Meski terlihat tiba-tiba, tapi sebenarnya sejarah kenapa Damaran Baru jadi seperti ini bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja.

Apa yang diraih Damaran Baru pada saat ini sebenarnya berawal dari tahun 2010, ketika Sujito, kepala desa Damaran yang saat itu masih disebut Geuchik, was-was dan prihatin memikirkan nasib kampungnya yang kerap dihantam banjir bandang yang mengalir melaui sungai Wih Gile.

Sungai Wih Gile ini, sesuai namanya hanyalah sungai dengan aliran air kecil dengan volume tak lebih besar dari aliran sungai di parit-parit perkotaan, tapi entah kenapa diwaktu tertentu, tanpa kenal musim, entah itu musim penghujan atau musim kemarau, menggila, alirannya tiba-tiba menjadi besar, membawa material vulkanik menyapu semua yang menghalangi alirannya bahkan menghancurkan jembatan yang melintasinya.

Dalam benak Sujito waktu itu, bencana seperti ini terjadi tentu saja karena hutan di hulu sungai ini rusak, karenanya perlu ada usaha perlindungan atas hutan itu. Atas dasar itu, Sujito sang kepala desa, mengajak teman-teman masa mudanya untuk mendirikan LSM.

Maka pada tahun itu, berdirilah LSM Burni Telong yang menentukan fokus utama mitigasi bencana. Dalam kepengurusan formasi awal ini Sujito sendiri didapuk sebagai ketua, dibantu oleh Rizal Pahlevi sebagai sekretaris dan Nasution yang akrab dipanggil Pak Nas sebagai penasehat. Dari mereka bertiga, hanya Sujito sendiri yang berasal dari Damaran. Anggota yang lain ada yang berasal dari Lampahan dan Simpang Balik, bahkan wakil ketuanya Fakhruddin yang sekarang menjabat sebagai direktur Redelong Institute, berdomisili di Simpang Tiga Redelong, ibukota Kabupaten Bener Meriah.

Dengan anggota yang lain, para pendiri LSM Burni Telong ini mulai melakukan kegiatan penjelajahan hutan di hulu Wih Gile. Karena sulitnya medan yang harus ditempuh, mereka tidak bisa melakukan penjelajahan langsung dari Damaran, tapi mereka harus memutar dulu dari kampung Kenina yang cukup jauh dari Damaran Baru.

Dari Kenina mereka memutar lewat belakang, baru bisa mencapai hutan yang terletak di hulu Sungai Wih Gile yang melintasi Damaran Baru. Perjalanan menuju tempat itu menghabiskan satu hari penuh.

Apa yang mereka temukan di sana tidak mengagetkan, banyak hutan di hulu sungai ini yang sudah dikonversi oleh masyarakat menjadi kebun kopi. Tapi masyarakat yang berkebun di sana bukan masyarakat Damaran, melainkan masyarakat dari Kenina yang dipisahkan oleh kampung Fajar Harapan dengan Damaran.

Berhari-hari mereka melakukan penjelajahan, sampai suatu hari, mereka mendapati sebuah temuan mengejutkan. Sebuah ceruk berisi air yang terbendung secara natural oleh material vulkanik, batu dan pasir lepas serta gelondongan kayu yang menyumbat aliran air menuju Wih Gile.

Saat mereka menemukan ceruk ini, dengan mengamati tinggi material yang menyumbatnya, saat itu mereka perkirakan tinggi muka air di DAM yang terbentuk secara natural ini setidaknya sudah 30 meter. Melihat itu mereka pun segera paham, ternyata inilah sumber bencana yang menghantam Damaran secara berulang dengan periode yang tidak bisa diperkirakan.

Ketika mereka mengeksplorasi lebih jauh lagi, ternyata tidak hanya satu, di hulu Wih Gile ini ada dua ceruk yang tersumbat material dan menahan air dalam volume besar.

Mengetahui ini, mereka segera menghadap ke dinas terkait di Redelong . Tapi apa lacur, bukannya mendapat apresiasi, mereka yang membawa laporan atas apa yang mereka lihat di dalam map, langsung mendapat penolakan ketika baru menginjakkan kaki di lobi kantor dinas terkait.

“Nggak ada ditanya keperluan apa, atau disapa dengan basa-basi Maaf, kami tidak menerima proposal, begitu sambutan mereka ketika baru melihat kami masuk,” cerita Pak Nas pada LG.co dalam sebuah obrolan santai di hulu sungai Wih Gile, Damaran, tempat mereka biasa berkegiatan.

Tak ada harapan di dinas, mereka ke BNPB. Kebetulan waktu itu ada kunjungan dari BNPB pusat, mereka diajak oleh anggota LSM Burni Telong untuk mengunjungi sumber masalah. Di perjalanan, di batas hutan, mereka bertemu dengan masyarakat yang sedang melakukan kenduri tolak bala, agar Damaran dihindarkan dari bencana banjir bandang. Ini dilakukan masyarakat, sebab setiap habis musim hujan deras, mereka tak pernah bisa tidur tenang, karena dihantui datangnya bencana banjir bandang.

Pendeknya, setelah kunjungan itu, BNPB memberi mereka dana sebesar 60 juta yang mereka gunakan secara swadaya untuk membiayai penggalian embung di hulu sungai Wih Gile yang masih masuk wilayah Damaran.

Dengan dana itu, mereka menggali tanah sedalam 6 meter dengan luas sekitar tiga kali lapangan bola. Sesuatu yang sebenarnya mustahil bisa dikerjakan dengan dana ‘hanya’ 60 juta.

Berikutnya, karena menyadari ancaman yang nyata dari sumbatan air di hulu, mereka mengontak Joni, seorang anggota DPRK Bener Meriah waktu itu untuk membuat jalur aliran air di Wih Gile, supaya kalau tanggul alam itu suatu saat jebol. Air yang keluar dari jebolnya tanggul itu mengalir melalui jalur yang dibuat, tidak menghantam kampung Damaran. Karena selama ini air yang mengalir sangat kecil, Wih Gile memang tidak membentuk tanggul sungai secara alami. Akibatnya, ketika terjadi banjir bandang, air dan material vulkanik, langsung menghantam kampung Damaran.

Joni akhirnya berhasil melobi pemerintah untuk mengeluarkan anggaran yang mendahului pembahasan resmi dan merekapun membuat jalur air dengan tanggul setinggi 3 meter.

Tidak lama setelah jalur air ini selesai, di musim kemarau 2014, material vulkanik, pasir dan batu lepas serta kayu lapuk yang menyumbat ceruk yang mereka pernah lihat, tak mampu lagi menahan tekanan air yang semakin besar. Tanggul pun jebol dan air bah mengalir bak tsunami menghantam apapun yang menghalangi.

Untungnya embung dan tanggul sudah jadi, sehingga meskipun aliran air yang membawa material batu, pasir dan kayu lapuk demikian dahsyat, embung yang dibuat berhasil menampung sebagian material itu sebelum sampai ke bawah, sisanya mengalir melalui jalur air yang dibuat. Sayangnya, karena di dekat jembatan masih ada sisa pondasi jembatan jaman belanda yang hanyut oleh amukan Wih Gile, mengganggu aliran material, sisa itu menahan gelondongan kayu yang sangkut di tempat itu. Sehingga air meloncat dan menghantam rumah warga yang ada di dekatnya. Tapi kampung Damaran sendiri, selamat tanpa kurang satu apa.

Ketika terjadi bencana, seperti biasa berbondong-bondonglah para pejabat dan politisi datang mengantarkan bantuan, sebagian tulus dan sebagian lagi untuk memoles citra.

Melihat itu mengamuklah para pendiri LSM Burni Telong ini, berbagai kata makian yang tak mungkin saya tuliskan di sini mereka muntahkan. Meja-meja mereka balikkan.

“Dulu, waktu kami betul-betul butuh, obat merahpun nggak kalian kasih. Dulu sampe kering tenggorokan kami teriak kalau bencana ini akan segera datang dan harus diantisipasi, kami kalian usir dari ruangan. Sekarang setelah apa yang kami tahu akan terjadi ini benar-benar terjadi, baru kalian datang ke sini, sok baik memutihkan muka,” kata mereka.

Akibat dari insiden itu, anggota LSM Burni Telong sampai diancam untuk dipolisikan karena menurut sang pejabat mereka kurang sopan. Tapi menurut Pak Nas, yang juga anggota Polri, sampai hari ini polisi yang ditunggu tak kunjung datang.

Menurut penuturan mereka, akibat kejadian tersebut, sampai hari ini bupati Bener Meriah yang saat itu dijabat oleh Rusli, tak pernah lagi berani menginjakkan kakinya di kampung Damaran.

Bersambung ke Bagian II.

Comments

comments