Menambah Tempat Mengambil Rizki

oleh
Drs Jamhuri (foto:tarina)

Oleh : Drs. Jamhuri Ungel, MA*

Sebagai muslim kita yakin bahwa rezeki datangnya dari Allah, karena Allah sudah berfirman di dalam al-Qur’an :
وما من دابة فى الأرض إلا على الله رزقها
Segala yang melata di muka bumi dijmin oleh Allah rizkinya (Q.S. Hud ayat : 6)

Namun tetap memerlukan peran manusia dalam memahami rizki yang diberikan oleh Allah, apakah rizki tersebut diberikan lansung ke tangan manusia walaupun tanpa usaha, atau diberikan dengan ketentuan harus ada usaha dari manusia, atau juga Allah menempatkan rizki di mana yang Dia kehendaki dan untuk menemukannya diserahkan kepada upaya manusia.Yang jelas inilah yang dinamakan dengan taqdir atau rahasia Allah.

Karena masalah rizki digolongkan ke dalam taqdir (ketentuan Allah) atau juga sering diterjemahkan dengan rahasia Allah, maka sebagian orang mengambil sikap menunggu tanpa usaha dan sebagian lagi menunggu sambil berusaha dan sebagian ada yang menetapkan bahwa maslah rizki mutlak usaha manusia tanpa ada kaitan degan takdir, hal yang ketiga ini bukan merupakan kajian dalam Islam.

Karena dalam kajian keislaman rizki tetap dikategorikan sebagai taqdir atau ketentuan Allah yang harus diusahakan oleh manusia untuk mendapatkannya.

Dalam keyakinan kita sebagai mana telah disebutkan, kalau rizki itu berada di sisi Allah, Ia menyalurkan rizki melalui malaikat Allah yaitu Mikail, melalui malaikat Allah inilah rizki itu dilekatkan dalam berbagai tempat dan dengan jumlah tanpa batas.

Untuk ini kemampuan manusia dalam menemukan tempat-tempat melekatnya rizki sangat dibutuhkan oleh manusia itu sendiri, bila manusia mempunyai keterbatasan dalam menemukan tempat melekatnya rizki maka rizki yang ia dapat juga terbatas, semakin banyak tempat melekat rizki ditemukan maka semakin banyak pula rizki yang mereka dapatkan.

Ketika masyarakat hidup dalam masa nomaden (masyarakat yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain), mereka hanya mendapatkan rizki dari berburu dan dari meramu bagi mereka yang tidak ikut berburu, bagi masyarakat agraris (masyarakat bertani) atau bercocok tanam maka rizki yang mereka dapat hanya dari bercocok tanam.

Ketika mereka menambah usahanya dengan berkebun maka rizki mereka bertambah dari kebun, dan bila mereka menambah lagi dari berternak maka rizki mereka bertambah dari berternak, demikian juga dengan mereka yang menambahnya dengan nelayan.

Zaman modern menambahkan tempat-tempat melekatnya rizki selain dari apa yang telah disebutkan zaman nomaden dan zaman agraris, pada masa ini mereka mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai pemerintah, maka rizki mereka juga melekat pada perkejaan sebagai PNS, dan juga pada pekerjaan-pekerjaan lain yang sifatnya menjual jasa dan kehidupan mastarakat saat ini menjadi menjadi lebih mudah dan lebih sejahtera.

Kemudian adanya lapangan pekerjaan yang tidak lagi mengandalkan tenaga manusia dan hewan mengakibatkan pekerjaan yang dilakukan menjadi lebih banyak bahkan waktu mengerjakannya lebih cepat dari waktu yang digunakan pada masa sebelum zaman modern.

Tidak hanya itu, bahkan hasil yang didapat selama ini dan diolah secara alami/manual akan memakan waktu yang lebih lama dan hasil yang didapat juga tidak bisa bertahan lama, berbeda dengan zaman modern sekarang, hasil dari usaha akan lebih banyak demikian juga dengan hasil olahan akan cepat dan bisa bertahan lama.

Kehadiran mesin pada zaman modern bukan berarti zaman agraris atau pertanian akan hilang, karena mesin-mesin yang beroperasional tetap akan menggunakan hasil-hasil pertanian menjadi bahan baku, untuk itu semua orang akan mendapatkan rizki dari tempat melekatnya sesuai dengan kepampuannya dalam rangka mencari rizki.

Mereka yang bekerja dipertanian akan mendapat rizki dari tempat melekatnya pada tanaman pertanian, perkebunan atau juga peternakan dan perikanan.

Demikian juga dengan mereka yang bekerja di pabrik-pabrik, mereka akan mendapat rizki mereka dari pabrik yang beroperasi, karena pabrik sebagaimana disebutkan adalah sebagai kelanjutan dari pekerjaan sebagai petani atau sebagai peternak. Mesin tidak akan jalan tanpa bahan baku, demikian juga dengan bahan baku yang disiapkan masyarakat tidak akan mempunyai manfaat yang banyak tenpa adanya pabrik.

Seperti dialami kabanyakan masyarakat bertani selama ini, tanaman tomat yang mempunyai buah yang banyak tidak habis dikonsumsi masyarakat, sehingga harus di buang karena tidak ada alat penyimpan dalam waktu yang lama, sayur-sayur akan membusuk hanya dalam hitungan hari juga karena tidak alat teknologi (mesin) yang membuatnya tahan lama.

Demikian juga dengan tanaman pertanian masyarakat lain, sehingga masyarakat bertani tidak pernah hidup dalam kepastian atau selalu menebak-nebak, apakah tanaman yang mereka tanam dapat tumbuh dengan baik, apakah tanaman yang tumbuh akan berbuah banyak dan apakah buah banyak akan nada yang beli, dan seterusnya.

Kemajuan teknologi (modernisasi) sebenarnya memberi janji kepada kehidupan yang lebih mudah dan akan lebih pasti, sehingga manusia dapat menghitung hasil dari tanaman yang mereka tanam.

*Dosen Fakultas Syari’ah UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Pengurus Majelis Adat Aceh (MAA).

Comments

comments