[Refleksi Milad GAM 4 Desember 2020] Jangan Kita Dapat Perang, Minyak dan Gas Kita Diambil Orang

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Dulunya Kota Lhokseumawe satu kota yang biasa-biasa saja. Kecuali sejarahnya yang gemilang pada masa silam saat Kerajaan Samudera Pasai masih berjaya dan posisinya yang strategis pada lintasan laut di Selat Malaka, salah satu jalur laut tersibuk di dunia.

Sampai pada satu saat ditemukan sumber minyak bumi dan gas di wilayah utara Aceh itu.

Para eksplorer maupun pedagang minyak dan gas internasional ingin mendapat harga yang murah untuk mendapatkan bisnis yang paling bergengsi pada waktu itu.

Mereka mencari cara agar mengeluarkan modal yang kecil dan mendapatkan harga yang murah dengan membangun konspirasi dan memulai perang. Mereka juga mendiskusikan kematian kita di meja makan restoran mewah.

Penduduk lokal tidak lebih dari satwa liar, yang sewaktu-waktu bisa dijadikan permainan di gelanggang “gladiator”.

“Apakah si polan dan si polin perlu dibina atau dibinasakan?” begitu ungkapan populer para penjagal pada masa konflik.

“Kita tidak perlu orangnya, kita hanya perlu tanah dan yang terkandung di dalamnya” timpal penjagal lainnya yang tidak kalah sanger.

Begitulah cerita masa lampau, yang tidak lain peperangan demi peperangan terjadi karena daya tarik terhadap Sumber Daya Alam (SDA Aceh) yang melimpah; dari rempah-rempah sampai sumber daya mineral (minyak, gas dan bahan tambang).

Ketertarikan “asing” akan SDA kita telah menjadi sumber perang. Apalagi orang-orang yang akan “investasi” tidak faham dengan karakter kita, yang kalau cara masuknya tidak benar akan dianggap musuh bebuyutan dan orang kita rela mati kalau agama, harga diri, nasab, harta dan kehormatan keluarga yang menjadi salah satu dasar pijakan ideologi tidak diindahkan.

Besar harapan masa depan Aceh tidak ada lagi perang. Perang telah menghalalkan segala cara dan membolak-balik kebenaran menjadi abu-abu; pencuri menjadi pemilik sah dan pemilik sah bisa jadi dianggap sebagai pencuri serta hasil curian selalu dijual murah karena bukan miliknya. Di negeri perang menjadi tidak jelas siapa pemilik sah, pengelola dan pencuri.

Berdasarkan pengalaman itu, sekali lagi fikirkan kembali kalau ada cita-cita untuk berperang lagi. Jangan kita asyik berperang, hasil alam kita terus diangkut keluar dari wilayah kita siang dan malam. Percayalah, ketika ketika kita hancur, mereka akan acuh kepada kita, seolah tidak kenal walau lewat menggores hidung kita.

Cukup sudah waktunya kita bangga tentang sejarah kegemilangan masa lalu. Kini saatnya kita membangun kebanggaan kita bersama hari ini dan akan datang. Kegemilangan masa lalu cukup sebagai romantisme yang menjadi spirit bagi kita untuk lebih maju dengan tetap menggunakan akal dan fikiran dengan benar.

Bagi generasi kini dan akan datang harus menghindari perang fisik. Penyebab perang sebab daya tarik terhadap SDA yang di bawah bumi dan lautnya harus harus segera kavling-kavling dengan jelas. Porsi pengelolaannya harus jelas. Siapapun “investornya” muaranya adalah kesejahteraan rakyat kita.

Pemilik negeri ini harus ramah investasi untuk bisa survive. Jangan serba tidak boleh. Kita juga harus realistis. Seperti energi tidak boleh semua ditutup, pada masanya dia bisa meledak.

Harus ada yang dilepaskan sebagian sebagai tempat belajar bagi kita, yang mudah-mudahan kalau sudah terjadi eksploitasi besar-besaran kita akan sebagai pemilik sah, pengelola dan jelas bukan pencuri.

Apresiasi terhadap Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, MT yang tentunya dengan do’a dan dukungan seluruh masyarakat Aceh, telah berhasil mengambil alih pengelolaan minyak dan gas (migas) di Blok North Sumatera B (NSB) atau sering disebut Blok B di Aceh Utara dari tangan PT Pertamina Hulu Energi (PHE), selanjutnya, ladang minyak itu akan dikelola oleh PT Pembangunan Aceh (PEMA).

(Mendale, 4 Desember 2020)

Comments

comments