Jangan Membenci dan Merendahkan Orang Lain

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Orang yang tinggal di daerah bekas konflik sarat dengan kebencian. Terutama kepada musuhnya di saat perang. Perasaan kita sulit bebas dari rasa benci itu, tetapi seiring dengan perjalanan waktu sikap negatif itu perlahan tergerus dari hati dan ingatan kita.

Setiap masa selalu ada “objek” yang dibenci. Pada masa konflik, tentu lawan perang yang dibenci. Pada masa damai yang dibenci bisa jadi lebih ramai. Misalnya rival di dalam Pilkada, pilihan legislatif atau pemenang tender proyek. Selalu ada peluang rasa benci bersarang di hati kita yang penuh “najis”.

Hanya orang cerdik yang bisa terbebas dari sikap benci. Orang cerdik atau fathonah menjauhkan kebencian dari dalam dirinya karena mampu melihat tujuan akhir kehidupannya dengan memandang persoalan dari sudut tiga atau empat dimensi.

Bahkan dalam perang sekalipun, tidak layak dicampur dengan marah dan benci. Dalam sejarah, ketika Sayyina Ali Bin Abi Thalib dalam satu peperangan, ketika akan memenggal kepala musuhnya, marah dan bencinya memuncak, namun seketika menghentikan ayunan pedangnya karena sadar tidak boleh membunuh dengan amarah dan benci.

Nah, dalam perang yang berdarah-darah sekalipun tidak boleh membenci. Apalagi pada masa damai sudah selayaknya membuang jauh-jauh sikap penuh kebencian. Wajar saja seorang ahli sufi berkata; tidak akan masuk surga orang yang masih punya rasa benci di hatinya walau sedebu.

Tidak ada alasan dan dasar untuk membenci. Kita sama-sama makhluk Allah. Kita juga se-Adam dan Hawa. Kita menginjak bumi dan menjunjung langit yang sama. Kita sama-sama dilahirkan telanjang dan menangis. kita juga semua akan merasakan kematian. Kita sama-sama mendapat hukuman dan penghargaan menurut amal dan perbuatan kita dari Allah SWT.

Ya, tidak membenci adalah point penting dalam perbincangan bersama Bang Said Muslim Sabtu pagi, 28 November 2020 di “warung politik” Kaheng, Kota Takengon, selain tidak boleh merendahkan orang.

Betapa saya bersama Bang Said Muslim, pernah bersama-sama menggerakkan GAM Wilayah Linge dan beliau pernah dipenjara dalam kasus makar, walau tidak termasuk dalam kategori tapol atau napol yang dibebaskan pasca MoU Helsinky.

Berdasarkan pengalaman hidup; kami berkesimpulan, bahwa tidak boleh di antara kita merendahkan orang lain karena kita tidak tahu nasib orang pada masa yang akan datang.
Kami sama-sama punya staf yang kini menjadi bupati.

Padahal sebelumnya tidak diperhitungkan. Bang Said Muslim sebagai pimpinan BRR Regional IV punya staf bernama Usman Abdullah yang kini menjadi Walikota Langsa. Saya pun ketika di BPKEL punya staf di Aceh Selatan, Tengku Amran kini menjadi bupati di sana.

Kata orang tua dulu, “Dalamnya sumur bisa diukur, nasib orang siapa yang tahu”. Demikianlah kesimpulan perbincangan dengan Bang Said Muslim banyak hal positif yang bisa diserap dan didistribusikan untuk kita jadikan pelajaran hidup dan kehidupan dunia dan akhirat.

(Mendale, Sabtu, 28 November 2020)

Comments

comments