Kisah Tim Pemulasaran Jenazah Covid-19 Aceh Tengah : Fardhu Kifayah Sesuai Syari’at

oleh

Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang telah ditetapkan menjadi pandemi seantero donya menjadikan semua lini kehidupan berubah. Begitu juga, bagi para pasien yang terinfeksi Covid-19 dan dinyatakan meninggal dunia.

Tentu saja, pola penanganan jenazahnya juga diharuskan sesuai dengan protokol medis, agar tidak menularkan kepada yang lain.

Fenomena, terjadinya penolakan oleh pihak keluarga dinyatakan saudaranya yang meninggal dunia terinfeksi Covid-19 umumnya di Indonesia marak terjadi, begitu juga sejumlah penolakan-penolakan oleh masyarakat untuk dilakukan penguburan.

Hal ini, mengharuskan pihak yang menangani Covid-19 harus bersusah payah menjelaskan kepada pihak keluarga.

Di Aceh Tengah sendiri, hingga hari ini, terdapat 4 orang yang meninggal dunia dan dinyatakan terinfeksi Covid-19. Selama itu pula, tim pemulasaran jenazah Covid-19 di daerah berhawa sejuk tersebut, terus mempersiapkan diri terhadap kemungkinan adanya warga yang meninggal dunia.

Ketua Tim Pemulasaran Jenazah Gugus Tugas Covid-19 Aceh Tengah yang juga Jubir Satgas, dr. Yunasri, M.Kes mengatakan, di wilayah Aceh Tengah saat ada masyarakat yang meninggal dunia dan hasil SWAB-nya dinyatakan positif Covid-19, belum ada terjadi penolakan serius dari pihak keluarga.

“Secara umum tidak ada, namun terjadinya penolakan-penolakan kecil oleh pihak keluarga yang tidak mau saudaranya dilakukan pemulasaran jenazah Covid-19 sudah pasti ada, namun sejauh ini, begitu kita lakukan pendekatan, mereka (keluarga) bisa memahami,” kata Yunasri.

Tim terdiri dari berbagai unsur

Sementara itu, Yunasri mengatakan, di Satgas Covid-19 Aceh Tengah, ada beberapa unsur yang terlibat dalam pemulasaran jenazah Covid-19.

Tim itu terdiri dari, tenaga medis RSUD Datu Beru Takengon, Tagana Dinas Sosial, tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pihak keamanan dan pers.

“Tim ini, akan bekerja jika ada warga yang meninggal dunia dan terinfeksi Covid-19,” ujar Yunasri.

Pelaksanaan Fardhu Kifayah Sesuai Syari’at

Ketika ditanya, tentang pelaksanaan fardhu kifayah jenazah pasien Covid-19, Yunasri memastikan sesuai dengan syariat.

Ia juga mengaku, bahwa Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang pemulasaran jenazah Covid-19 mutlak di jalankan di Aceh yang notabennya negeri bersyariat.

“Itu tugas kita sebagai umat muslim, semuanya harus sesuai syari’at. Mulai dari memandikan dan mengafani yang dilakukan sesuai protokol medis dan Fatwa MUI, itu semua dilakukan oleh tim media RSU,” jelas Yunasri.

Di rumah sakit kata Yunasri, jenazah akan juga dishalatkan, baru kemudian dilakukan penguburan. “Namun, kita juga beri kesempatab kepada keluarga untuk menshalatkan di TKP, tapi ada batasan-batasan yang tidak bisa dilanggar,” ujarnya.

Untuk relawan penggali kuburan, Yunasri mengatakan pihaknya masih terbuka kepada masyarakat tempat tinggal atau kampung dimana seorang yang meninggal dunia tersebut tinggal.

“Karena bagian dari penggalian kuburan yang dilakukan oleh masyarakat, itu menjadi kearifan lokal di dataran tinggi Gayo, namun tetap kita cek kesesuaiannya apakah sudah memenuhi standar atau tidak, jika belum kita arahkan lagi,” ujarnya.

Disampaikan lagi, Pemkab Aceh Tengah juga telah menyediakan tempat pekuburan khusus Covid-19, namun sejauh ini jenazah pasien Covid-19 lebih sering dimakamkan di tempat dia tinggal.

“Itu tidak ada masalah, asalkan penanganannya sesuai dengan SOP. Begitu juga lokasinya, pasti kita cek dulu, dan kita terus berkoordinasi dengan Reje (Kepala Desa-red) setempat terlebih dahulu,” ungkapnya.

Secara umum kata Yunasri lagi, tidak ada kendala dalam pemulasaran jenazah yanf sudah dilakukan sebanyak empat kali itu.

Ia berharap, tidak ada lagi warga Aceh Tengah yang meninggal dunia terkena Covid-19. “Kita terus berdoa agar pandemi ini cepat berlalu, sehingga kehidupan normal kita dapat berjalan seperti biasa. Ingat, Covid itu bukan aib, dan cara mencegahnya juga sangat sederhana, cukup pakai masker, jaga jarak dan sering mencuci tangan,” ungkapnya.

“Dan jika kita terinfeksi, jangan malu untuk mengatakan yang sebenarnya ke petugas medis, agar dilakukan penanganan lebih lanjut, sehingga angka kasus dapat ditekan,” demikian Yunasri.

[Darmawan]

Comments

comments