Kopi Belum Pernah Ada Insentif dari Negara, Malah Dibebani Pajak Tinggi

oleh

REDELONG-LintasGAYO.co : Bupati Bener Meriah, Abuya Tgk. H. Sarkawi mengatakan persoalan kopi yang menjadi denyut nadi perekonomian masyarakat Gayo, sama seperti ²2 telur dalam satu wadah.

“Jika wadah itu jatuh, maka semua telur akan jatuh. Denyut ekonomi masyarakat kita kopi, jika harga kopi jatuh, maka ekonomi rakyat akan sulit,” kata Abuya saat menerima kunjungan dari Dirut Lembaga Pembiayaan Dana Bergulir (LPDB) yang menjadi Satker dari Kementerian Koperasi dan UKM.

Dikatakan, 90 persen kopi Gayo di ekspor sementara 10 persen lainnya untuk konsumsi nasional. “Biasanya harga kopi itu tergantung dolar, saat naik maka harga kopi juga naik, berbeda dengan kondisi pandemi Covid-19 ini,  kita semua benar-benar terpukul,” kata Abuya.

Permasalahan saat ini kata Abuya lagi, masih banyak kopi yang tertahan di tingkat kolektor, dan koperasi juga belum bisa melakukan ekspor.

“Akan ada lagi, musim panen di bulan Desember, kita sudah kelimpungan menghadapi ini. Dan beberapa waktu, kami berkesempatan menemui, Menkop, dan ditawarkanlah pembiayaan melalui LPDB ini,” terang Abuya.

Disampaikan lagi, dalam kondisi normal untuk Bener Meriah saja menyumbang untuk devisa negara sebesar 200 Juta USD pertahun, atau setara 2,4 triliun rupiah, dan itu semuanya dari kopi.

“Namun, di saat kami terjepit sekarang, negara belum hadir membantu. Dan malah, untuk pajak, kopi masih dikenakan 10 persen, sementara untuk komoditi lain seperti sawit dan jagung sudah ditiadakan,” kata Abuya.

“Jadi, hadirnya LPDB ini seperti lailatul qadar nya Bener Meriah, di tengah sulit ada bantuan seperti ini, tinggal bagaimana skemanya,” terang Abuya.

[Darmawan]

Comments

comments