Dilema Inovasi Dayah

oleh

Oleh : Johansyah*

Tulisan ini adalah cuplikan hasil diskusi beberapa hari yang lalu dengan para ustadz dayah kabupaten Bener Meriah. Ada yang berasal dari dayah tradisional dan ada yang berasal dari dayah terpadu.

Temanya terkait pengembangan kurikulum dayah yang berorientasi pada dua arah; mempertahankan yang ada dan melakukan pengembangan untuk menyahuti dan menghadapi tantangan global.

Untuk itu, masing-masing dayah diharapkan mampu melakukan pengembangan hingga akhirnya mampu menampilkan keunggulannya masing-masing.

Hal ini cukup beralasan mengingat dayah akan dihadapkan kepada beberapa tantangan besar, yakni era revolusi industri 4.0, post truth, dunia kerja, dan kebijakan pemerintah. Belum lagi berbicara tentang tantangan dalam lingkup mikro dayah itu sendiri. Kenapa tantangan ini perlu direspon oleh dayah-termasuk semua lembaga pendidikan?

Sebab ini menyangkut kedudukan dan peran kita dalam mengisi aktivitas di berbagai aspek kehidupan yang nantinya diharapkan tidak sekedar menjadi penonton perubahan tetapi sebagai kelompok yang berperan aktif melakukan perubahan.

Untuk tujuan tersebut ada 4 langkah yang sejatinya dilakukan pendidikan dayah. Pertama, merespon perubahan. Yakni dayah harus jeli dengan situasi yang berkembang. Dayah tidak terlalu terlena dengan struktur pembelajaran yang dianggap cukup mapan dalam membekali santri dengan model pendidikan yang dikembangkan saat ini.

Kedua, sebagai tindak lanjut dari langkah pertama, dayah perlu melakukan pengembangan kurikulum berdasarkan dua arah, yakni; mempertahankan yang ada, dan melakukan perubahan dan penambahan terhadap beberapa aspek sebagai bentuk respon terhadap perubahan itu sendiri.

Minsalnya dayah tradisional yang kental dengan tradisi kitab kuningnya, maka khas tersebut harus tetap dipertahankan dan dikembangkan. Pada sisi lain, dimungkinkan mereka dapat mengembangkan satu aspek atau kekhasan lain yang menjadi program pengembangan dayah.

Minsalnya mengembangkan model interpreneurship di dayah tersebut bagi santri. Dari model pengembangan ini, dayah tetap dapat mempertahankan kurikulum lamanya sembari mengembangkan satu aspek lain yang kelak bermanfaat bagi para santri.

Ketiga, langkah selanjutnya adalah merumus ulang visi dan misi dayah sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai nantinya. Minsalnya dayah tradisional yang dicontohkan pada poin kedua, mereka dapat merumus ulang visi pendidikan di mana arahnya pada penguatan kitab kuning dan memberikan bekal skil tertentu pada para santri sehingga mereka dapat menjadi lulusan yang mandiri.

Salah satu contoh rumusan visinya adalah; sebagai pusat pendidikan Islam yang melahirkan lulusan berakhlakul karimah, unggul dalam kitab kuning, serta memiliki jiwa interpreneur. Artinya visi yang dirumuskan harus menggambarkan tujuan dan sasaran pendidikan yang ingin dicapai.

Keempat, mengembangkan dan menuangkan visi dan misi dalam struktur kurikulum. Berdasarkan bangunan visi yang telah dibuat, bahwa dayah menginginkan dua prioritas unggulan, yakni kitab kuning dan interpreneur.

Selanjutnya yayasan dan lembaga pendidikan dayah melakukan penyusunan kurikulum. Hal ini mungkin tidak terlalu sulit sebab kurikulum yang berorientasi pada kitab kuning sendiri sebelumnya sudah ada. Tinggal menyisipkan muatan kurikulum berbasis interpreneur.

Apakah dimasukkan sebagai kurikulum dayah, atau kurikulum yayasan. Pada intinya nanti para santri kita mampu menguasai kitab kuning dan selanjutnya mereka memiliki jiwa interpreneur.

Berdasarkan pengamatan saya dalam diskusi tersebut yang tergambar dari pertanyaan dan tanggapan yang diajukan, sebagian ada yang merasa khawatir bahwa ketika dimasukkan kurikulum lain selain kitab kuning, nanti dapat mengganggu konsentrasi santri dalam penguasaan kitab kuning. Bahkan nanti mereka tidak dapat mencapai tujuan dan sasaran pembelajaran dengan maksimal.

Ada lagi teman-teman yang berpandangan bahwa soal tantangan tadi tidak perlu dikhawatirkan. Toh nanti para santri akan beradaptasi sendiri. Mereka akan mengenal android, dan mereka tidak mungkin gagap teknologi karena teknologi mengitari kehidupan mereka.

Selain itu menurutnya dayah fokus saja pada tujuan utamanya, yakni fokus pada pembangunan umat, bukan pada respon terhadap perubahan sebagaimana yang dikembangkan tadi.

Saya sangat memahami apa yang dimaksudkan. Intinya mereka sangat menekankan jangan sampai dayah, terutama dayah tradisional kehilangan misi utama dan kekhasannya sebagai lembaga pendidikan Islam yang fokus pada kitab kuning.

Kekhawatiran ini kita maklumi. Hanya saja mungkin perlu sebuah pandangan lain tentang kekhawatiran yang diungkapkan tadi. Minsalnya pandangan yang mengatakan bahwa dayah fokus saja pada perbaikan dan pembangunan umat, bukan merespon perubahan dan tantangan global. Persoalannya ketika kita mengatakan fokus pada perbaikan dan pembangunan umat, apakah cukup dengan disiplin ilmu yang ada sebagaimana yang sudah diajarkan sebelumnya di dayah?

Perbaikan umat itu sendiri perlu kita perjelas, apa yang dimaksud dengan perbaikan umat; akhlak semata, ataukan juga mencakup aspek lainnya, minsalnya mengembangkan skil tertentu yang nantinya dengan skil ini para santri dapat bersaing dan menjadi motor perubahan dalam masyarakat. Bukan saja dalam bidang akhlak, tapi juga dalam membangun kemandirian dan kreativitas masyarakat.

Ilmu adalah alat kita untuk berkembang dan berubah. Karena itu, semakin banyak alat sebenarnya semakin mempermudah pekerjaan. Ibarat berkebun, kita punya berbagai alat; cangkol, parang, karung, mesin babat, semprot, dan alat-alat lainnya. Sebab di kebun ada berbagai jenis pekerjaan yang harus kita lakukan.

Dengan adanya kelengkapan alat, kita tinggal memilih alat mana yang digunakan sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan. Sebaliknya jika alat tidak lengkap, kita akhirnya memaksa alat yang ada untuk melakukan sebuah pekerjaan. Minsalnya untuk memangkas kopi, kita tidak memiliki gergaji, hanya parang.

Terpaksa dengan paran tersebutlah kita melakukan pemangkasan. Bisanya ya bisa, tapi hasilnya kurang memuaskan dan cara kerjanya juga mungkin sulit karena alat yang digunakan kurang tepat.

Lembaga pendidikan seperti dayah saya rasa juga sama. Ketika mereka mengembangkan ilmu, kiranya dapat mengembangkan disiplin ilmu lain di samping disiplin ilmu pokok seperti kitab kuning sebagai andalannya. Semakin banyak disiplin ilmu yang dikuasai oleh santri, semakin mudah mereka dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Namun demikian bukan berarti berbagai disiplin ilmu harus dikembangkan dengan alasan ilmu sebagai alat tadi. Paling tidak ada satu bentuk disiplin ilmu yang dianggap mampu menjadi bekal hidup santri di samping dia menguasai kitab kuning.

Akhirnya saya sangat berterima kasih dan mengapresiasi pandangan para ustadz atau tengku dari dayah di Bener Meriah. Saya banyak memperoleh ilmu dan pandangan baru dari mereka terkait dengan dayah. Semoga pertemuan tersebut dinilai sebagai ibadah di sisi Allah SWT. Amin.

*Ketua STIT Al-Washliyah Aceh Tengah


Ikuti channel kami, jangan lupa subscribe :

Comments

comments