[Part 2] Keramat Abang Tengku Alus : Menjaga Amanah

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Pada tahun 2001, masih dalam suasana perang RI dengan GAM, Syekh Jamaatullah Bin Mohd Yunus atau kami memanggilnya Abang Tengku Alus beramanah kepada saya.

“Adik, tidak usah ikut-ikutan kenduri dan kalau zikir pun cukup di dalam hati saja, saat duduk, berdiri, berjalan, tidur, maupun sedang berlari. Tidak perlu dikhususkan dalam satu majelis,” kata Syekh Jamatullah kepada saya di rumah Bang Ali Aman Hanif di Kampung Gerpa, Samarkilang.

Saya faham maksud Syekh Jamaatullah. Pertama kalau terlalu sering bergaul terbuka dengan masyarakat akan kehilangan wibawa, dan kedua dikhawatirkan keceplosan bicara atau melihat jumlah senjata yang digunakan sehingga orang mengetahui kekuatan kita.

Sesungguhnya perkara yang disampaikan Syekh Jamaatullah adalah perkara pentingnya menjaga rahasia diri dan pasukan. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “Jalankan usahamu dengan penuh rahasia.”

Dalam suasana apapun rahasia sangat penting. Bahkan salah satu lahirnya keramat atau kemuliaan seseorang bergantung kepada tidak mengobral dirinya. Biarlah cerita tentang kita beredar dari mulut ke mulut, sedangkan fakta sebenarnya hanya kita sendiri yang mengetahuinya.

Benar, Syekh Jamaatullah sangat rahasia dalam menyampaikan sesuatu hal yang penting. Beliau pernah meminta saya berdiskusi dengannya empat mata pada pukul 03;00 dini hari. Di saat orang-orang tidur pulas adalah waktu yang tepat bercerita tentang sesuatu yang orang lain tidak perlu tahu.

Keesokan harinya, saya di minta datang ke rumah Abang Suhada di Pulo Tige, masih di dalam kawasan Samarkilang. Setelah berbicara sebentar beliau menunaikan shalat zuhur lalu tidur sampai pulas. Saya dan beberapa kawan pulang ke Gerpa dan betapa kagetnya saya, ketika sampai di rumah Bang Ali Aman Hanif beliau sudah duduk di sana.

Belum sempat saya bertanya, beliau sudah memberi isyarat dengan menutup mulutnya dengan telunjuk jarinya, pertanda bagi saya tidak perlu bicara. Banyak kejadian ajaib yang saya alami selama bersama Syekh Jemaat yang sebenarnya sedang menguji kesabaran kita.

Hal yang sama juga terjadi kepada orang yang pertama saya temui di Samarkilang, Abang Ola yang merupakan anak Aman Kamsiah dan cucu Pang Burik. Satu saat, Tengku Alus meminta Abang Ola mengkusuk beliau, ajaibnya semakin lama dikusuk, tubuh Syekh Jamaatullah semakin mengecil dan mengecil sampai seperti bayi yang baru lahir. Namun Bang Ola faham untuk tidak bertanya tentang kejadian aneh itu.

Tidak saja kepada orang tertentu, kepada masyarakat luas, beliau tidak jarang “mengetes” dengan prilaku yang tidak lazim.

Semua itu beliau lakukan untuk “uji kesabaran” sebagai mana perjalanan Nabi Musa AS dengan Nabi Khaidir AS yang dikisahkan dalam AL-Qur’an surat Al-Kahfi.

Salah satu pembicaraan penting Syekh Jamaatullah dengan saya adalah tidak membuat perang antara Wih Kanis dengan Samarkilang.

Insya Allah pesan itu kami laksanakan, namun sebagian dari pasukan ada yang tidak sabar atau belum sampai berita kepada mereka sehingga melayani perang dengan musuh di kawasan yang dimaksud oleh Tengku Alus. Pelanggaran terhadap amanah itu, akibatnya lanjutnya tidak ada tempat yang aman dan berdaulat lagi bagi GAM.

Kami harus menanggung resiko “melanggar amanah” dengan terpaksa melakukan “total gerilya” dari satu hutan belantara ke hutan belantara lainnya.

(Mendale, Selasa, 30 Juni 2020)

Part 1 Baca :

Comments

comments