Snouck Intelektual Unik dan Kontroversi

oleh

Oleh : Husaini Muzakir Algayoni*

Nama Snouck mencuat di kalangan akademisi ketika demi pengabdian dalam penelitian antropologi, tahun 1885 Snouck mempertaruhkan nyawa menyusup ke Tanah Suci Mekah yang terlarang bagi non-muslim. Sosok intelektual Belanda ini pakar dalam antropologi dan simbol agen rahasia dalam bidang agama dan politik.

Di Aceh Snouck lebih dikenal dengan nama Si Snouck atau dengan nama Tuan Seunuet, di dataran tanah tinggi Gayo dikenal dengan nama Tengku Puteh, dan di Eropa dikenal sebagai Prof. Christiaan Snouck Hurgronje yang berjasa di dalam peneguhan kajian antropologi agama dan peletak kajian keacehan era modern.

Guru-guru Snouck, seperti Theodore Noldeke (1836-1930), Carl Bezold (1859-1922), dan Michael Jan de Goeje (1936-1909) merupakan orientalis terkemuka dan berpengaruh di dunia, maka tidak heran Snouck muncul sebagai intelektual yang diperhitungkan dan disegani oleh orientalis Eropa lainnya.

Sebagai intelektual, Snouck sangat disiplin, ulet, gigih, tajam dalam melakukan penelitian. Di sisi lain, merupakan antropolog bajingan karena mempunyai sikap double stantard, si perusak, intelektual pelacur, dan telah mengotori tangannya dengan kepentingan politik.

Gambaran tentang sosok Snouck di atas, merupakan hasil telaah penulis dari literatur-literatur yang ditulis sebelumnya oleh sejarawan dan pengakuan orang-orang yang mengenal Snouck semasa hidup. Karena itu, menurut hemat penulis Snouck adalah intelektual unik dan kontroversi sehingga menarik untuk dikaji oleh siapapun, baik dari sisi politik maupun dari sisi ilmu pengetahuan/akademik.

Christiaan Snouck Hurgronje lahir pada 8 Februari 1857 di Tholen, Ousterhout, Belanda, berasal dari keturunan Yahudi. Ia sekolah di Hogere Berger School, setelah itu melanjutkan ke Sekolah Tinggi Leiden, mempelajari jurusan teologi, sastra Arab dan agama Islam. Pada tahun 1880, Snouck mendapat promosi doktor dengan judul disertasi Het Mekkaansche Feest (Musim Haji di Mekah).

Snouck meningal pada 1936 dan tahun 1972 Oosters Institut didirikan, sebuah kajian Islam untuk menghormati 70 tahun Snouck. Lembaga ini sekarang berada di kompleks fakultas sastra dan teologi, Leiden. Setiap tahunnya diselenggarakan acara bertajuk Snouck Hurgronje Lucture, yang berisi pidato ilmiah atau seminar tentang Islam.

Snouck memiliki bakat sebagai peneliti agama, ayahnya yang seorang pendeta bernama J.J Snouck Hurgronje. Ibunya Anna Maria, putri pendeta Christian de Visser. Kedekatan Snouck terhadap agama, menurut penulis sepertinya sudah dimulai dari sejak kecil karena faktor ayahnya sebagai seorang pendeta dan ibu Snouck putri dari seorang pendeta.

Muncul dari generasi orientalis terkemuka, dalam penelitian fokus utamanya menggali budaya-budaya ketimuran untuk kepentingan penjajahan, yang mana tujuan dari penjajahan itu sendiri: mencari kekayaan, kekuasaan, dan menjalankan tugas suci untuk menyebarkan agama atau dikenal dengan gold, glory, dan gospel.

Kemampuan Snouck yang unik adalah energi intelektualnya yang tidak kenal lelah, ketelitian yang tajam dalam mengungkapkan pandangannya, dan bebasnya dari pikiran bercampur angan-angan, Snouck juga sosok yang pendiam, tetapi dengan suara satu kata saja dapat mematikan lawan debatnya dan ia menguasai 15 bahasa dan menggali materi-materi kebudayaan melalui pintu bahasa.

Di kalangan sarjana Barat, Snouck dianggap sebagai legendary figure. Begitu kuat pengaruh Snouck di kalangan sarjana Barat, sehingga hampir tidak ada ruang baginya untuk dikritik sebagai salah seorang ilmuwan, khususnya dalam bidang antropologi agama. Walaupun dipesan sesuai dengan kepentingan kolonialisme, sebagai antropolog Snouck meneliti dengan cermat dan mendasar.

Dari sisi politik, ia membagi masalah Islam ke dalam tiga kategori dan devide et empera (politik pecah belah) sebagai strategi politik. Sementara dalam bidang ilmu pengetahuan, ia telah menulis banyak karya dan di antara karya tersebut telah melakukan kejahatan intelektual karena menulis tanpa menyebut sumber.

De Atjehers, karya magnum opus Snouck yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ng. Singarimbun dengan judul Aceh Di Mata Kolonialis. Dalam menyusun De Atjehers, Snouck banyak menggali bahan dari Dokarim, seorang penyair Aceh yang mendendangkan Hikajat Prang Kompeuni.

Melalui lisan Dokarim inilah, Snouck sebenarnya mendapat berbagai informasi tentang Aceh, seperti adat-istiadat hingga kebiasaan para ulama dan hulubalang. Nama sang penyair Dokarim tidak disebutkan dalam magnum opus Snouck.

Karya Snouck berada di perpustakaan Universitas di Leiden, di perpustakaan tersebut cendekiawan Azumardi Azra menemukan naskah Tarjamah Ulama Jawi karya Raden Abu Bakar. Menurut Azumardi Azra, naskah ini berisi riwayat ulama Jawa yang hidup di Mekah pada akhir abad-19.

Azumardi Azra sangat terkejut karena dari naskah itulah Snouck menggunakan banyak bahan ketika menulis tentang haji asal Nusantara. “Buku Snouck tentang Mekah tidak menyebut nama Raden Abu Bakar; dari sudut ilmiah ini tidak bisa dibenarkan,” kata Azumardi Azra.

Walaupun Snouck seorang peneliti yang gigih, ulet, dan tajam. Namun, Snouck bukanlah seorang peneliti yang objektif serta mengedepankan nilai-nilai etika dan kejujuran dalam penelitian ilmiah. Ini terbukti dari beberapa buah tangannya yang tidak objektif dalam memandang Islam.

Dalam penelitian seharusnya mengedepankan kajian objektif, kajian yang tidak dipengaruhi oleh emosi, cita rasa, budaya kepercayaan, dan agama. Sifat yang tidak objektif ini dalam penelitian disebut dengan subjektif. Kajian kepada benda-benda subjektif seperti dari hal emosi, agama dan sebagainya dikelaskan sebagai bukan kajian pengetahuan dan rendah martabatnya.

Selama tinggal di Mekah dengan nama Abdul Ghafar, Snouck menulis tentang musim haji hingga dianggap ahli tentang Islam, ia mengemukakan urgensi-urgensi haji dan berbagai acara seremonial serta ritualnya hingga pada kesimpulan yang mengemukakan bahwa haji dalam Islam merupakan peninggalan dari ajaran pagan (watsaniah) bangsa Arab.

Nama Snouck populer dalam sejarah Aceh. Karena itu, insan-insan yang duduk di bangku pendidikan setidaknya pernah mendengar nama Snouck dan lebih idealnya lagi menelaah pemikirannya dengan jernih sebagai agen politik kolonial Belanda dan juga pakar dalam antropologi agama.

Tulisan Snouck intelektual unik dan kontroversi ini berangkat dari referensi yang tertera di bawah ini, untuk lebih jelas dan mendalam mengenai sosok Snouck bisa dibaca dalam TEMPO dengan judul Daud Beureueh: Pejuang Kemerdekaan yang Berontak, 2001. Shaharir Mohamad Zain bukunya Pengenalan Sejarah dan Falsafah Sains, 2000.

Anthony Reid bukunya Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19, 2005. Abdurrahman Badawi dalam bukunya Ensiklopedi Tokoh Orientalis, 2003. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad dalam karya fenomenalnya Acehnologi, 2016.

M.H Gayo dalam tulisannya Perang Gayo Alas Melawan Kolonialis Belanda, 1983. Harry Kawilarang dalam Aceh dari Sultan Iskandar Muda ke Helsinki, 2010, dan dari Yusra Habib Abdul Ghani dalam bukunya Aceh Tersungkur: Suatu Analisis dan Critique Sejarah 1901-1950, 2018.

*Kolumnis LintasGAYO.co. Mahasiswa Prodi Ilmu Agama Islam (Konsentrasi Pemikiran Dalam Islam) Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Comments

comments