Pelajar Era New Normal

oleh

Oleh : Zarkasyi Yusuf*

Tahun pelajaran baru 2020 – 2021 akan segera dimulai, sekitar 45 juta lebih siswa di Nusantara akan menyambut datangnya tahun pelajaran baru. Belajar dalam tatanan dunia baru (new normal) berbagai upaya dan skenario penyelenggaraan pendidikan pun disusun agar belajar tatap muka dapat kembali dinikmati oleh para siswa di Nusantara. Apapun skenarionya diharapkan tetap mempertimbangkan kesehatan dan keselamatan peserta didik.

Saya yakin, siswa rindu kembali masuk sekolah, bertemu dengan guru serta menikmati keceriaan bermain bersama teman-teman. Mungkin waktu tiga bulan belajar di rumah dengan segala kelebihan dan kekurangannya mengundang rasa bosan, sehingga muncul keinginan untuk kembali ke sekolah dengan segala keceriaanya.

Satu sisi, pademik covid-19 menjadi hantu menakutkan, membuat pemerintah dan orang tua khawatir akan keselamatan para siswa. Pemerintah cukup berhati-hati mengambil kebijakan membuka kembali sekolah, orang tua pun cemas melepaskan anak anak untuk kembali belajar di sekolah seperti masa sebelum pandemik melanda dunia.

Sisi lain, pernahkah kita berpikir tentang akhlak para siswa yang digadangkan menjadi generasi penerus Negeri ini, pernahkah dievaluasi perkembangan karakter mereka sebagai dampak belajar di rumah dengan memamfaatkan kecanggihan tehnologi informasi.

Padahal, salah satu nawacita menuju Indonesia hebat adalah “membangun revolusi karakter bangsa dengan cara membangun pendidikan kewarganegaraan serta penyeragaman sistem pendidikan nasional”. Tidak hanya nawacita, salah satu dari lima program kerja utama Jokowi-Makruf adalah pembangunan sumber daya manusia.

Meskipun belajar pada era new normal, persoalan penting yang tidak boleh dilupakan adalah pembentukan karakter siswa yang memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan masa masa sulit. Mereka tidak boleh terlena dengan pandemik yang telah menghantui mereka, tidak boleh santai dalam belajar meskipun mereka telah melalui fase “nyaman” saat proses pembelajaran di rumah, dibantu dan ditemani orang tua.

Penuntut ilmu ideal tidak pernah santai dan terbuai, ia harus merasakan pahit getirnya belajar. Imam as-Syafii (767 – 820M) dalam sebait syair berpesan “barang siapa yang tidak mau bersusah payah dalam belajar, dia akan menderita kebodohan seumur hidup”. Terbiasa belajar santai akan mengurangi motivasi dan semangat belajar siswa.

Setidaknya ada tiga sifat siswa yang harus dapat diatasi saat tahun pelajaran baru tiba, ini salah satu tugas berat yang akan dihadapi guru. Pertama, Santai memamfaatkan waktu belajar. Berbicara waktu sama artinya membahas totalitas kehidupan, umur, kesuksesan masa depan serta nasib di hari perhitungan (kiamat).

Keberhasilan dan kesuksesan seseorang di dunia salah satu faktornya adalah pemamfaatan waktu yang benar-benar efisien. Khalifah Ali bin Abi Thalib (559-661M) mengibaratkan “al waqtu ka al-Saif”, Benjamin Franklin (1706-1790M) mengambarkannya dengan “time is money”.

Salah satu kelemahan belajar di rumah adalah pemamfaatan jam-jam belajar juga tersita untuk bermain, karena memang belajar di rumah sedikit lebih santai daripada belajar di sekolah. Jika terlanjur larut,  serta lemahnya pengawasan untuk memamfaatkan waktu belajar, dikhawatrikan para siswa akan terlena dengan budaya santai yang menurut mereka cukup mengasyikkan.

Belajar santai akan melemahkan semangat memamfaatkan waktu dengan maksimal. Dalam upaya memaksimalkan pemamfaatan waktu belajar, kerjasama antara lembaga pendidikan, guru, orang tua dan masyarakat menjadi sistem pengawasan yang ketat bagi siswa untuk fokus belajar, terutama pada jam jam belajar. Masyarakat pun harus memiliki kepedulian yang tinggi jika melihat ada peserta didik yang berkeliaran pada saat saat jam belajar.

Kedua, mengembalikan semangat belajar siswa. Guru harus mampu meyakinkan siswa agar tetap bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran, meskipun dihantui oleh rasa cemas pandemik covid-19. Terkait dengan semangat belajar, Az-Zarnuji (w.1243M) dalam magnum opusnya Ta’lim al-Muta’allim mengutip pesan sebuah pepatah “Manusia bisa terbang karena kuatnya keinginan, sebagaimana burung terbang dengan sayapnya”.

Semangat dan motivasi yang dimiliki oleh siswa akan mendorong mereka untuk “rakus” terhadap pengetahuan dan hal hal baru yang belum mereka dapatkan.

David Clarence McClelland (1917–1998) adalah pakar psikologi yang terkenal dengan teori nilai harapan dan motivasi, telah mengungkapkan pentingnya motivasi dan semangat belajar. Menurutnya, mereka yang memiliki kebutuhan tinggi untuk berprestasi memiliki ketertarikan pada situasi yang menawarkan akuntabilitas pribadi, memiliki keinginan untuk mempengaruhi dan meningkatkan status dan prestise pribadi.

Mereka yang sangat membutuhkan nilai afiliasi membangun hubungan yang kuat dengan kelompok atau organisasi. Semangat belajar bagaikan magnet yang akan menarik seseorang untuk selalu dekat dengan kondisi belajar dan pendidikan.

Ketiga, mengembalikan kesabaran dalam belajar. Bersusah payah dalam menuntut ilmu tidak akan sangup dilakoni jika tidak dibarengi dengan sikap sabar. Siswa yang tidak sabar pasti akan meninggalkan dunia pengetahuan yang sedang digelutinya, apalagi ia melihat di depannya penuh halang-rintang.

Menapaki jalan panjang pengetahuan pasti dihadang oleh onak dan duri, jalannya terjal dan berliku. Apalagi kondisi sosial yang tidak pernah mendukung, salah satunya adalah cemoohan atau “bully”. Parahnya lagi, mereka yang suka membaca dan belajar disebut dengan “kutu buku” yang selama ini menjadi stereotype jelek.

Mencapai kesuksesan dalam belajar dibutuhkan waktu yang panjang dengan segala kepedihan dan penderitanya, hanya orang orang yang sabar yang mampu bertahan di dalamnya.

Tiga sifat yang telah diuraikan menjadi beban yang harus mendapatkan perhatian bersama, belum lagi sejarah perjalanan pendidikan di nusantara yang telah mencatat bahwa madrasah atau sekolah yang berada di kawasan marginal selalu kesulitan untuk mengakses, menyediakan guru berkompeten, fasilitas belum memadai dan tata kelola lembaga yang belum mendukung peningkatan kualitas pendidikan. Kondisi ini berbanding terbalik dengan madrasah atau sekolah yang berada di kawasan perkotaan dan dekat dengan pusat pemerintahan.

Begitu pun dengan kondisi pelajarnya, Mereka yang berdomisili di kawasan perdesaan, jauh dari akses internet serta kondisi ekonomi yang mengharuskan mereka tidak bisa akrab dengan kecanggihan tehnologi informasi, pasti tidak mampu menyesuaikan diri dengan pembelajaran “canggih” seperti dilakoni pada era pandemik.

Guru, orang tua, masyarakat dan lembaga pendidikan pasti berharap bahwa siswa yang belajar pada tahun ajaran baru dalam tatanan kenormalan baru adalah siswa ideal, tidak hanya bagus intelektualnya tetapi juga baik akhlak dan sikapnya.

Az-Zarnuji, telah menyebutkan setidaknya ada enam sifat seorang pelajar ideal, yaitu cerdas, rakus dalam belajar, memiliki kesabaran yang tinggi, biaya mencukupi, mendengarkan petunjuk guru, serta bertahan dalam panjangnya perjalanan mencari ilmu. Jika ini disandang oleh siswa era new normal, sungguh sanggat mudah membimbing mereka menjadi generasi penerus yang akan melanjutkan sejarah hebat negeri ini. Do it or Never.

*ASN Pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh

Comments

comments