Yusra Habib : Makna Legenda Puteri Ijo, Tolak Kawin Sedarah dan Seorang Gadis Berubah Jadi Ular Besar

oleh

TAKENGON-LintasGAYO.co : Penulis buku Legenda dan Falsafah Gayo, Dr. Yusra Habib Abdul Gani, SH mengatakan legenda putri ijo yang diceritakan secara turun-temurun dalam masyarakat Gayo, bukan hanya sekedar kekeberen.

Lebih dari itu, katanya lagi, cerita Puteri Ijo menyadarkan kita akan pentingnya mengetahui silsilah keturunan agar tidak terjadi perkawinan sedarah.

“Dalam legenda ini, sang gadis menolak di paksa menikah karena ia tau bahwa yang akan dinikahi adalah saudara sedarahnya. Ia pun memilih berubah menjadi ular besar ketimbang menikah,” kata Yusra Habib Abdul Gani lewat diskusi virtuas Legenda dan Falsafah Gayo, Senin malam 22 Juni 2020.

Diskusi tersebut dipandu oleh Fikar W Eda dan turut menghadirkan beberapa akademisi asal Gayo diantaranya, Dr. Joni MN, M.Pd. BI, Salman Yoga, S.Ag MA, dan Yusradi Usman Al Gayoni, SS, M. Hum.

Yusra menegaskan, larangan nikah sedarah sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Menurutnya, tokoh gadis yang diceritakan dalam kisah Puteti Ijo tak ingin melanggar larangan itu.

 

Saat dihubungi, LintasGAYO.co, Selasa 23 Juni 2020, Yusra mengatakan di masa dahulu, urang Gayo memilih cara berkekeberen menjelaskan makna Alqur’an kepada anak-anaknya.

“Biasanya orang kita dulu lebih memilih cara menceritakan sesuatu ayat dalam bentuk kekeberen dari pada langsung ke teks. Hal ini lebih memudahkan dalam mentransfer maknanya,” terang Yusra.

“Seperti cerita Puteri Ijo ini, sebenarnya yang diceritakan adalah surat Annisa ayat 23 yang mengharamkan pernikahan sedarah,” tambahnya.

Yusra mengatakan, surat Annisa ayat 23 sebagaimana ditafsirkan terjemahannya “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

“Inilah dasar dari legenda Puteri Ijo itu,” tegas Yusra.

Dalam cerita Puteri Ijo lanjutnya, gadis yang memilih menjadi ular besar itu, menurut cerita bertempat di sebuah loyang di Danau Lut Tawar, tepatnya di kawasan Lukup Penalam, atau daerah hotel Renggali saat ini.

Lebih jauh Yusra menjelaskan, legenda-legenda yang diceritakan dalam masyarakat Gayo bukan hanya sebatas kekeberen untuk pengantar tidur, lebih dari itu semuanya memiliki makna yang tersirat. “Tinggal bagaimana kita menafsirkannya,” tandas Yusra.

Sebelumnya, tokoh yang juga cendikiawan Gayo yang kini menetap di negara Skandanavia, Denmark, Dr. Yusra Habib Abdul Gani, SH telah merampungkan naskah buku tentang legenda dan falsafah Gayo.

“Buku ini akan bercerita tentang legenda, seperti Atu Belah, Puteri Ijo, Puteri Pukes dan lainnya, ” katanya.

Buku yang diberi judul Legenda dan Falsafah Gayo tersebut katanya lagi, lebih menitikberatkan pada falsafah kehidupan urang Gayo lewat legenda.

Lain itu, ia juga mengkalaborasikan falsafah Gayo yang diceritakan lewat kekeberen dan seni Gayo. “Kita juga sandingkan falsafah dari legenda itu dengan seni Gayo, seperti Didong, Tari Guel, Tari Sining dan Saman,” terangnya.

Yusra telah mengkaji, keberadaan kekeberen dan seni tidak bisa dipisahkan dalam adat dan istiadat Gayo. Sebagai contoh, syair lagu uten yang diciptakan Ceh To’et.

Ia pun harus mendengar puluhan kali lagu tersebut, baru mengerti makna yang disampaikan oleh Ceh kesehor dengan Kelop Sinar Pagi Gelelulungi nya itu..“Luar biasa falsafah hidup yang dituangkan dalam syair didong oleh Ceh-Ceh kita terdahulu. Salah satunya Ceh To’et,” kata Yusra.

[Darmawan Masri]

Comments

comments