Kemandirian Petani Kopi Gayo Dalam Suasana Pandemi

oleh

Oleh : Abdiansyah Linge*

Secara geografis Kabupaten Aceh Tengah merupakan wilayah ekstraktf seperti pertanian, perkebunan, dan peternakan, ditunjang sektor pariwisata sebagai penggerak roda perekonomian masyarakat dan sebagai pondasi ketahanan ekonomi di wilayah Aceh Tengah.

Strategi pengembangan perekonomian masyarakat merupakan langkah konkrit yang harus dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk mewujudkan keadilan dan pemerataan.

Pemerintah harus melakukan treatment untuk kesejahteraan masyarakat, dengan menerapkan perencanaan secara terintegrasi terutama penerapan strategi untuk ketahanan ekonomi khususnya Aceh Tengah.

Pada masa pandemi covid-19 ini, strategi-strategi pemerintah daerah harus dapat menyesuaikan dengan perubahan keadaan, baik konstruksi anggaran dan kebijakan.

Perubahan rencana belanja dalam anggaran 2020 idealnya menyentuh pada sektor ketahanan ekonomi yang berkelanjutan. Terganggunya pemasaran produk-produk pertanian dan perkebunan berdampak langsung pada pendapatan masyarakat Aceh Tengah. Sampai saat ini belum ada kebijakan konkrit Pemerintah Daerah untuk menanggulangi permasalah tersebut.

Turunnya harga komoditi di Aceh Tengah merupakan permasalahan serius bila ditinjau dari aspek ketahanan ekonomi masyarakat. Bantuan langsung tunai bersifat temporer dan tidak sustainable dalam perekonomian. Intervensi pemerintah dalam pemasaran komoditas masyarakat mutlak diperlukan berdasarkan posisi pemerintah dalam perundang-undangan ekonomi negara.

Opening new market dengan menyesuaikan dengan kondisi daerah tujuan, intervensi pasar dengan mengaktifkan resi gudang dengan melibatkan lembaga perbankan.

Mengembalikan fungsi resi gudang untuk manfaat umum bukan menjadi gudang pribadi dengan mendapatkan uang sewa, dan strategi-strategi inovatif lainnya yang berdampak langsung pada kestabilan harga komoditas masyarakat.

Keterlibatan lembaga perbankan dalam menanggulangi permasalahan perekonomian di masa pandemi ini sangat dibutuhkan, perbankan harus memberikan bantuan dimasa sulit tidak hanya mengambil keuntungan dari pergerakan roda perekonomian masyarakat.

Kemandirian mayarakat Aceh Tengah teruji ketika covid-19 melanda dunia, selama lebih 5 (lima) bulan sejak Februari 2020, perekonomian tetap berjalan dengan segala bentuk dinamikanya. Harga jual kopi yang turun sampai Rp.50.000 (per/1 kaleng) tanpa ada intervensi pemerintah daerah, namun petani kopi tetap bertahan.

Masyarakat tidak mengeluh dengan keadaan, namun bukan berarti keadaan ekonomi stabil. Komoditi kopi sebagai monocultur pendapatan masyarakat dapat menjadi bom waktu ekonomi apabila tanpa ada kebijakan-kebijakan strategis untuk beradaptasi dengan corona-19 yang belum diketahui keadaannya di masa yang akan datang. Dampak pandemi corona-19 ini tidak hanya merugikan petani kopi saja, mulplier effect dari kopi berdampak pada sektor lain.

*Abdiansyah Linge Bin Mahmud Ibrahim, Pimpinan Dayah Maqamam Mahmuda Aceh Tengah dan salah seorang akademisi ekonomi di UGP Gajah Putih, Takengon

Comments

comments