Radio Induk Buraq Antara (Part IV) ; Berkomunikasilah dengan Santun

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Nasi sudah menjadi bubur; BW (mantan gubernur Aceh) dan AS (mantan bupati Bener Meriah) sudah ditangkap, diadili, divonis dan dipenjara. Andai saja komunikasi saudara kita ini mengikuti pola pasukan Radio Induk Buraq Antara tentu tidak begitu jadinya.

Seperti pada tulisan singkat sebelumnya; “Part III, Radio Induk Buraq Antara” yang menjadi pedomannya “remalan betungket, peri beperabun” akan membuat pihak manapun tidak tersinggung. Meskipun kita bermaksud akan membunuhnya karena situasi perang, tetapi karena bahasanya halus dan santun, musuh akan bersikap tidak benci roman.

Tradisi komunikasi halus, santun, chek dan rechek terhadap setiap berita yang sampai ke Radio Induk Buraq Antara patut dicontoh oleh siapapun yang menjadi pemimpin.

Tidak membicarakan pada dataran yang masih samar, apalagi sifatnya hoax. Sehingga masyarkat merasa nyaman karena setiap kampung ada “puskesmas” informasi.

Ketika terjadi bencana atau pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, banyak persoalan yang kita bisa selesaikan; terutama orang yang masuk tanpa dokumen kesehatan, bantuan yang tidak tepat sasaran, bahkan keamanan yang permanen di negeri kita.

Di samping itu, mereka menjadi tenaga kerja yang dilengkapi peralatannya dan digaji dengan sistem “tali asih” seperti Tagana, Karang Taruna dan Pelopor Perdamaian, PSM dan lain-lain.

Sejak damai RI-GAM, Aceh dipimpin mantan GAM selama tiga periode. Sepatutnya “anak-anak radio” diberdayakan dan diformalkan seperti RAPI dengan tugas disesuaikan menurut kebijakan pemerintah

. Bisa jadi mereka di bawah binaan Badan Kesbangpol, dinas kominfo atau BRA. Yang penting “anak-anak radio GAM” telah menjadi kearifan lokal yang patut dilestarikan.

Negara, dalam hal ini Pemerintah Aceh bisa memanfaatkan mereka sebagai peluang daripada menganggap mereka sebagai ancaman.

Awal-awal pemerintahan BW, kita terlalu lama euforia. Sehingga lalai dengan tujuan utama, kesejahteraan bagi seluruh rakyat Aceh. Akibat lanjutnya rakyat lambat sejahtera, orang GAM pun tidak sejahtera, apalagi anak-anak radio kembali ke habitat asalnya sebagai masyarakat kampung yang tidak berperan banyak dalam mengisi perdamaian.

Lagi-lagi apakah niat ini juga telah menjadi bubur? Meskipun kesadaran ini datang terlambat, barangkali rencana ini bisa diwacanakan kepada pimpinan GAM dan diteruskan kepada pemerintahan. Semoga saja anak-anak radio menjadi model bagi Indonesia untuk keamanan, anti hoax dan keberlanjutan pembangunan.

(Mendale, Kamis, 11 Juni 2020)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.