Oleh : Fauzan Azima*
Kemarin, saya baru saja dikirimi rekaman pembicaraan warga Aceh Utara. Saya kira sudah beredar di group-group WhatsApp. Inti rekaman itu adalah banyak warga yang baru sampai dari Malaysia tetapi tidak melapor kepada aparat desa setempat.
Saya kira untuk keselamatan kita bersama. Aparat kampung harus bertindak cepat untuk mendata dan mengkarantinakan perantauan yang pulang kampung ini. Berikan pemahaman bahwa mereka bukan musuh, mereka hanya perlu menyelamatkan dirinya dan juga orang lain.
Dalam hal ini saya setuju ada “cuwak” yang bekerja sama dengan aparat, menjadi mata-mata di kampung yang melaporkan kalau ada orang baru atau dicurigai. Akan tetapi jangan sampai kebablasan sampai menimbulkan fitnah. Konteksnya harus jelas untuk keselamatan warga.
Demikian juga saya setuju juga sedikit “tindakan represif” dari TNI/Polri untuk menangkapi orang-orang yang tidak lapor diri. Memang akan ada sedikit kebencian kepada TNI/Polri dibandingkan dengan orang-orang GAM bersenjata dulu. Tidak masalah, sekali lagi untuk keselamatan warga.
Warga juga harus jujur melaporkan riwayat perjalanannya. Jangan lagi terulang seperti pasien terpapar corona asal Montasik. Konon, kepada dokter dia tidak memberitahukan bahwa dirinya baru sampai dari Jakarta. Akibatnya dokter menganggap biasa saja. Sehingga tidak dilengkapi APD. Akibat lanjutnya sekarang dokter dan perawat itu harus diisolasi.
Betapa sayangnya orang lain yang kita tularkan virus berbahaya. Sedangkan mereka juga punya keluarga yang secara tidak sadar bisa menularkan kepada saudaranya dan orang lain.
Sekarang, penting setiap pribadi warga atas kesadaran diri untuk jujur, jika punya riwayat perjalanan dari daerah terpapar Covid-19 untuk keselamatan kita bersama. Semoga kita semua bisa bebas dari “zona tak nyaman” ini.
(Mendale, 29 Maret 2020)





