Bujang Pane dan Proyek Pengadaan Air Prosesi Mandi Raja

oleh
Fauzan Azima dan Sapuarang

Oleh : Fauzan Azima*

Bujang Pane benar-benar kelewat nakal. Ada saja ulahnya menjahili rajanya. Ketika juru bicara raja mengumumkan lewat media sosial akan melaksanakan “prosesi mandi raja”. Dia mencari akal untuk mengusik kenyaman rajanya.

Sungguh telalu..!

Baru-baru ini, ulahnya telah membuat raja dan menteri-menterinya malu dihadapan tamu kehormatan negara lain yang sedang mengadakan jamuan makan malam.

Duh… ulah Bujang Pane bisa kena pasal karet subversif, masak raja sedang menikmati hidangan istimewa bersama tamunya, dia melepas belalang dari botol aqua yang sudah dicampur dengan kotoran manusia.

Tabiat belalang pada malam hari akan mencari cahaya lampu. Setelah dilepas berseliweranlah para belalang itu seperti berpesta pora memikmati cahaya lampu, setelah seharian dikurung dalam ruang tembus pandang yang tertutup.

Awalnya para tamu saling tuduh, siapa yang BAB di celana? Tidak lama kemudian baru mereka sadar bahwa belalang yang beterbangan mengitari bola lampu yang membawa kotoran itu. Satu per satu tamu undangan meninggalkan ruangan tanpa pamit kepada raja. Atas kejadian itu, perdana menteri menjadi sasaran kemarahannya karena dianggap lalai dalam mensterilkan lokasi makan malam.

Kali ini, dalam prosesi mandi raja, apa rencana Bujang Pane? Setelah berfikir jungkir balik dua hari dua malam, dia mendapat ilham untuk melobi dewan adat, untuk pengadaan air mandinya dari telaga empat penjuru mata angin agar dikontrakkan kepadanya. Dia tidak peduli dengan fee 10 prosen, asal proyek tersebut jatuh ke tangannya.

Alhasil Bujang Pane menang tender. Padahal penawarannya urutan ke-13, berkat pelunasan fee di awal, dia bisa mengalahkan penawaran kontraktor lainnya, walau diurutan lima besar.

Setelah mendapatkan kontrak dan SPK, dia mengambil air parit di belakang rumahnya dan mengoplosnya dengan getah buah tua pohon aren. Kepada dewan adat dia mengatakan bahwa seolah pesan dari juru kunci air dari empat penjuru mata angin, bagaimana banyak kesalahan sang raja, begitu pula rasa gatal yang akan diterimanya. Itu adalah sebagai bentuk cobaan dalam menghapus kesalahan dan dosa.

Tibalah waktu pelaksanaan prosesi mandi raja itu. Dewan adat berpesan kepada raja sebagai mana pesan Bujang Pane dari juru kunci imajenernya. Raja dengan pakaian kebesarannya disiram secara perlahan-lahan sambil membacakan mantra, “Jak-jak lam paya, sa cabak we murasa.”

Siraman pertama terasa dingin seolah mengembalikan roh yang telah lama pergi. Siraman kedua sudah mulai terasa sedikit gatal. “Sudah mulai terasa khasiat dan kemanjuran air keramat ini” kata ketua adat.

Pada siraman selanjutnya semakin terasa gatal dan panas, sang raja tidak sanggup lagi menahannya dan lari terbirit-birit sambil melepas bajunya lompat ke dalam sungai. “Perdana menteri…kamu telah melanggar adaaaaat,” teriaknya.

(Mendale, 20-02-2020)

Comments

comments