Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*
Ngaji filsafat, filsafat adalah sebuah tantangan, tantangan untuk tidak hidup secara mekanis, ikut-ikutan, taklid dan ‘mengalir’ tanpa tahu kemana, untuk apa dan mengapa. –Fahruddin Faiz-
Ngaji dalam perspektif masyarakat Indonesia adalah membaca Alquran atau belajar mempelajari Alquran di masjid dan di tempat-tempat pengajian sehingga makna mengaji hanya terfokus pada Alquran, padahal makna mengaji itu luas. Dalam rangka mencari ilmu pengetahuan, kegiatan-kegiatan mengaji bisa berupa mendengar ceramah setelah shalat maghrib yang sering dilaksanakan di kota-kota besar atau diskusi-diskusi keagamaan.
Nah, salah satu kegiatan ngaji yang mungkin jarang didengar adalah ngaji filsafat; kenapa filsafat harus ada ngaji atau ngaji filsafat? Padahal filsafat berasal dari Yunani, bahkan sebagian orang mengatakan kenapa harus belajar filsafat? argumen-argumen seperti ini sering penulis dengar, baik dari kalangan orang-orang terpelajar atau yang sedang duduk di bangku pendidikan sekalipun.
Seperti yang penulis sampaikan di atas, dalam rangka mencari ilmu pengetahuan dan menambah wawasan salah satunya adalah dengan kegiatan ngaji filsafat, yang mana ngaji filsafat ini dilaksanakan di Masjid Jenderal Sudirman dan bisa dilihat di channel youtube MJS Ngaji Filsafat yang dibimbing oleh dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahruddin Faiz. Ngaji filsafat ini menurut hemat penulis sangat mencerahkan, memberi wawasan yang luas, dan mendalam yang mungkin jarang didengar atau dijelaskan oleh dosen filsafat ketika duduk di bangku kuliah.
Materi-materi yang disampaikan Fahruddin Faiz dalam ngaji filsafat, mudah dipahami, enak didengar, dan materinya juga seimbang antara pemikiran barat dan timur, misalnya ketika beliau menyampaikan materi tentang filsafat cinta; yang diambil adalah Filosof Yunani Kuno (Plato), Filosof Barat (Erich Fromm) dan diimbangi dengan Filosof Timur (Rabi’ah al-Adawiyah dan Jalaludin Rumi).
Begitu juga ketika Fahruddin Faiz menyampaikan materi tentang para syahid yang rela berkorban untuk ilmu dan filsafatnya, ada Filosof Yunani Kuno (Socrates) dan diimbangi dengan dunia Timur (Abu Mansur al-Hallaj). Jadi, dalam satu tema bukan hanya satu tokoh saja dari dunia barat tapi juga dari belahan timur, inilah yang menjadikan ngaji filsafatnya menarik dan berbobot.
Filsafat mengajarkan cinta kebijaksanaan, berpikir inklusif, berwawasan luas, berpikir yang logis secara sistematis, radik, dan universal. Maka tidak heran luasnya cakupan materi dan kedalamannya yang disampaikan dalam ngaji filsafat ini seluas objek kajian filsafat, baik itu objek materia maupun objek formanya.
Dengan mempelajari filsafat, baru mengetahui filsafat yang sesungguhnya. Mempelajari dahulu baru mengetahui, tanpa mempelajari maka tidak mengetahui; banyak orang tidak mengetahui sehingga pura-pura tahu dan ujung-ujungnya mudah menyalahkan yang lain. Namun, walau bagaimana pun filsafat ibarat pisau yang tajam; jika digunakan dengan benar maka akan bermanfaat untuk orang banyak dan jika salah digunakan maka akan berbahaya bagi orang banyak juga.
Oleh karena itu, Bung Hatta mengatakan “Belajarlah filsafat, bacalah filsafat sebanyak-banyaknya, nanti anda akan tahu dengan sendirinya apa filsafat itu sesungguhnya.” Orang yang mengatakan filsafat itu banyak salahnya dan sesat pasti belum belajar dan membaca buku filsafat secara mendalam. Awalnya memang sulit memahami filsafat karena bahasanya yang rumit untuk dimengerti, maka dari itu harus banyak membaca buku sastra (romansa/novel) sehingga bisa memahami filsafat dan tentunya harus mencintai filsafat.
Filsafat menurut Fahruddin Faiz dalam salah satu tulisannya “Apa Sih Menariknya Filsafat?” Fahruddin Faiz mengatakan bahwa “Filsafat baginya adalah sebuah tantangan, tantangan untuk tidak hidup secara mekanis, ikut-ikutan, taklid dan ‘mengalir’ tanpa tahu kemana, untuk apa dan mengapa.
Maka dari itu menurut hemat penulis, ngaji filsafat yang disampaikan oleh Fahruddin Faiz merupakan kajian yang mendalam tentang pemikiran yang secara filosofisnya mencari ilmu pengetahuan, cinta ilmu, membuka kran pemikiran yang tertutup, dan membawa lilin di tengah-tengah kegelapan.
Masih teringat dalam benak tentang peristiwa yang dialami oleh rakyat Indonesia selama pergelaran akbar politik, yaitu pemilihan presiden dan wakil presiden. Informasi-informasi dari media bergentayangan di media sosial antara benar dan salah/hoax serta dibumbui dengan kebencian dan adu domba antar sesama, maka muncullah politik paling konyol yang pernah ada dalam sejarah peradaban politik Indonesia (SPPI) yaitu praktik hoax. Anehnya lagi, ada manusia-manusia yang mempercayai hoax tersebut tanpa berpikir kritis atau mencari tahu kebenaran dan kedalaman suatu informasi/peristiwa.
Fenomena hoax menjadi konsumsi sehari-hari di media sosial, bahkan masyarakat sangat mudah terpengaruh oleh kabar yang belum tentu kebenarannya. Salah satu alasan masyarakat kurang berpikir kritis karena minimnya pengetahuan filsafat, dengan pengetahuan filsafat otak akan terbiasa menanyakan dan memverifikasi sesuatu, sebelum mengonsumsi secara instan. Hal ini disampaikan oleh Direktur Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Prof. Arsal Salim dalam acara Internasional Conference of Islamic Philosophy (ICIPH) yang diselenggarakan oleh Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam dan Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra di komplek DPR/MPR RI, Jakarata. SindoNews.com 19/01/2019.
Betapa urgennya filsafat dalam kehidupan manusia, bahkan filsafat merupakan kekuatan yang mewarnai dunia. Ada dua kekuatan yang mewarnai dunia, pertama adalah agama dan yang kedua adalah filsafat. Orang yang mewarnai dunia juga hanya dua, nabi dan ulama, dan filosof (Ahmad Tafsir, 2013: 7). Nah, apakah tertarik dengan ngaji filsafat?
*Penulis, Kolumnis LintasGAYO.co. Mahasiswa Prodi Ilmu Agama Islam (Konsentrasi Pemikiran Dalam Islam) Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry.