Delung Tue: Lokasi Rahasia, Tempat Berkumpulnya Para Raja

oleh
Redelong Simpang Tiga. (LGco_Khalis)

Catatan : Junaidi*

Redelong Simpang Tiga. (LGco_Khalis)

Mendengar nama Redelong tentunya tak asing bagi urang Gayo, khususnya masyarakat Gayo Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara. Nama ini ditambalkan sebagai Ibukota Kabupaten Bener Meriah, yang kini berumur 14 tahun, setelah dimekarkan dari induknya Aceh Tengah pada Februari 2003 silam.

Dari catatan penulis, daerah Bener Meriah menyimpan banyak sejarah yang layak untuk ditulis. Meski, penelusuran sejarah ini tak dapat serta merta tercover secara keseluruhan, harus melalui kajian mendetail dan terstuktur. Baru rangkaian sejarah itu bisa terangkai dengan baik.

Kali ini penulis mencoba, mengkaji sedikit dari kisah penambalan nama Redelong. Salah satu kampung tue di dataran tinggi Gayo. Dasar inilah yang diambil oleh pemangku kebijakan pemekaran daerah mengambil nama Redelong sebagai ibukota Kabupaten. Nama Redelong sendiri berasal dari nama Kampung Delung atau Delung Tue.

Secara administratif, sekarang berbatasan dengan Kampung Ujung Gele disisi Barat, disisi timur berbatasan dengan Kampung Ujung Pan dan Lewa Jadi, sisi utara berbatasan dengan Kampung Kenawat Redelong dan Blang Ara, di selatan berbatasan dengan Kampung Reje Guru.

Kampung Delung yang menjadi cikal bakal Redelong, punya catatan sejarah tersendiri sebagai kampung tue. Kampung Delung, punya kisah berarti dalam catatan sejarah dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengusir penjajah Belanda. Berlandaskan islam, para pendahulu kita terkhusus para raja-raja di Gayo sering berkumpul di kampung ini.

Menurut keturunan Reje Bujang atau Penghulu Bujang, Armada Jaya, beberapa waktu lalu mengatakan, Delung Tue dijadikan tempat berkumpulnya para raja untuk membahas dan merumuskan permasalahan-permasalahan yang terjadi pada saat itu. “Dari cerita yang saya dengar, para reje itu berkumpul selalu membentuk lingkaran,” sebutnya.

Belum ditemukan referensi yang jelas terkait penamaan Delung. Atau mungkin ada kaitannya dengan para raja tadi yang berkumpul membentuk lingkaran yang dalam bahasa Gayo dikenal dengan istilah Gelung. Sedangkan untuk kata Tue bisa diartikan sebagai kampung tua. Karena, Delung Tue merupakan kampung pertama di daerah tersebut.

Lalu kenapa Delung Tue dipilih para raja sebagai tempat berkumpul?. Melihat letak geografis yang memang sangat ideal sebagai tempat yang aman bagi para raja untuk berkumpul. Selain berada di tengah, Delung Tue juga diapit beberapa sungai-sungai kecil.

Banyaknya aliran sungai yang mengalir di seputaran kampung ini, masyarakat Gayo tempo dulu membuat sebuah bendungan, untuk mengaliri persawahan. Konon bendungan ini juga dijadikan para mujahid Gayo membuang mayat-mayat serdadu Belanda.

Selain letak geografis yang strategis untuk persembunyian pada saat melawan penjajah Belanda, Kampung Delung Tue sangat jarang diketahui orang apalagi musuh. Sehingga, para raja menjadikan tempat ini sebagai tempat rahasia. Mereka (para raja) dan pejuang kerajaan juga terus merahasiakan tempat ini.

Sebagai bentuk utama dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT, di Delung Tue juga berdiri bangunan masjid yang dikenal dengan Masjid Tue Delung. Hingga saat ini, masih terlihat kekokohan bangunannya, meski sudah berumur ratusan tahun. Menurut, Armada Jaya masjid ini dibangun para raja yang sering melakukan pertemuan di Delung Tue.

Terkait dengan sebutan Delung, dari beberapa referensi yang diperoleh penulis, kata Delung diadopsi dari kata gelung yang berarti melingkar.

Hal ini, diambil dari kebiasaan para reje yang berkumpul disana dengan posisi yang selalu melingkar. Perubahan bahasa ini menjadi hal yang lumrah dalam ilmu sosial kemasyarakatan. Namun, apakah benar nama Delung berasal dari kata Gelung, masih butuh penelitian lebih lanjut. Namun yang pasti kata Redelong diambil dari asal Kampung Delung Tue. [DM]

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.