Catatan Panjang Jurnalis Peduli Bencana

oleh

Oleh : Fathan Muhammad Taufiq*

Resensi Buku Gayo 6,2 SR

Penulis : Iranda Novandi

Editor : Muhammad Syukri

Penerbit : Mahara Publishing

Cetakan : I, Januari 2016.

Tebal halaman : xx + 144 Halaman

ISBN : 978-602-73342-0-5

Cover Buku 6,2 SRBencana dahsyat gempa bumi dan tsunami yang melanda sebagian besar wilayah Aceh pada 26 Desember 2004 yang lalu, memang telah meluluh lantahkan bumi rencong itu dan menelan korban jiwa sampai ratusan ribu orang, dan sejarah mencatat, gempa dan tsunami Aceh merupakan salah satu bencana terdahsyat di abad ini. Meski telah memporak porandakan sebagian besar wilayah di ujung barat Sumatera itu, namun di beberapa daerah, khususnya di wilayah tengah Aceh, terutama di Dataran Tinggi Gayo dampak bencana besar itu tidak sempat menimbulkan kerusakan maupun korban di wilayah pedalaman ini. Hanya goncangan gempa yang sangat kuat yang dirasakan para warga yang mendiami wilayah Gayo, namun tidak sempat menimbulkan kerusakan fisik yang signifikan, mungkin karena wilayah ini cukup jauh dari pusat gempa yang berada di kawasan lautan Hindia di bagian selatan Aceh.

Dampat bencana alam yang cukup dahsyat, justru dirasakan oleh warga Gayo, khususnya yang mendiami kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, saat terjadi gempa tektonik berkekuatan 6,2 Skala Richter yang melanda wilayah ini pada tanggal 2 Juli 2013 lalu, hampir sembilan tahun setelah terjadinya gempa dan tsunami Aceh. Gempa bumi yang skalanya sebenarnya tidak begitu besar itu, tapi karena pusat gempanya berada di darat, telah “mengoyak” kehidupan sebagian besar warga Gayo di dua kabupaten tersebut. Ribuan bangunan rata dengan tanah, dan puluhan jiwa melayang akibat gempa yang diperkirakan berpusat di kecamatan Ketol, Aceh Tengah ini, bahkan ada beberapa desa yang berada paling dekat dengan pusat gempa, nyaris “hilang”. Sampai akhirnya bencana ini dinyatakan sebagai bencana nasional, dan presiden Republik Indonesia pada waktu itu Susilo Bambang Yudhoyono menyempatkan diri untuk melihat langsung dampak dari bencana alam ini. Tak hanya bangunan sipil berupa rumah-rumah penduduk, puluhan fasilitas umum seperti Puskesmas, Puskesdes, gedung sekolah dan bangunan pemerintah lainnya, fasilitas ibadah berupa masjid dan mushalla, juga tidak lepas dari dampak bencana ini, bahkan beberapa diantaranya rata dengan tanah, kontras sekali dengan kejadian tsunami Aceh, dimana tidak asatupun rumah ibadah yang rusak akibat bencana besar tersebut.

Dari data Badan Penanggulangan Bencana setempat, tercatat ada 16.335 unit rumah penduduk yang terkena dampak bencana ini, 4.066 unit diantaranya mengalami rusak berat. 153 unit kantor pemerintah, 99 unit fasilitas kesehatan dan 156 unit sarana pendidikan berupa bangunan sekolah serta sedikitnya 353 unit tempat ibadah ikut terdampak oleh bencana yang tegolong dahsyat ini, bahkan beberapa diantaranya rusak total. Gempa ini juga telah merusak dan mengamblaskan puluhan kilometer infrastruktur jalan dan beberpa jembatan. Dan mirisnya, 39 jiwa ikut melayang dengan kondisi targis, itu yang membuat gempa ini menjadi bencana kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah Gayo, diluar konflik sosial.

Dan seperti kejadian luar biasa lainnya, gempa Gayo juga menarik perhatian para jurnalis untuk meliput kejadian tersebut beserta dampaknya, kemudian menayangkan beritanya melalui media mereka masing-masing. Sejak terjadinya gempa itu, ratusan awak media berdatangan ke daerah berhawa sejuk ini, tidak terbatas pada jurnalis lokal, jurnalis nasional bahkan dari luar negeri, seakan “berebut” untuk mewartakan kejadian yang mengejutkan seluruh warga Gayo ini dengan gaya dan versi mereka masing-masing.

Dari ratusan awak media yang kemudian meliput dan memberitakan gepa Gayo ini, ada seorang jurnalis yang melakukan tugas jurnalistiknya dengan cara berbeda dengan teman-teman jurnalis lainnya. Iranda Novandi, nama jurnalis itu, seorang wartawan surat kabar harian Analisa Medan yang bertugas di wilayah Aceh. Jurnalis yang juga salah seorang wakil ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh ini memang putra Gayo asli, dia dilahirkan di desa Kung, Aceh Tengah 7 Januari 1975 yang lalu. Berbeda dengan rekan jurnalis lainnya yang hanya melakukan peliputan sekilas, kemudian mengangkatnya ke media, Iranda tak sekedar melakukan peliputan sebagai tugas jurnalistik semata. Dia terus mengikuti perkembangan sejak terjadinya gempa sampai dengan penanganan rehab rekon pasca bencana alam tersebut dan secara berurut dia terus mengangkatnya melalui media tempat dia bekerja. Banyak sisi-sisi pengananan pasca gempa yang luput dari pengamatan awak media lain, kemudian diangkat secara detil oleh wartawan idealis ini, salah satu faktornya karena bencana ini menimpa daerah yang menjadi tanah kelahirannya, sehingga dia seperti memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengawal penanganan pasca gempa ini sampai tuntas, ini dia lakukan selama hampir tiga tahun, itulah sebabnya catatan tentang gempa dan penangan pasca gempa dari jurnalis ini, boleh dibilang paling lengkap dan detil.

Semua hasil liputan dan catatan selama tiga tahun itulah yang akhirnya dia kumpulkan dan dia terbitkan dalam bentuk buku berjudul “Gayo 6,2 SR”, Menjadi sangat menarik, karena buku ini nyaris mengupas tuntas tentang nestapa warga Gayo akibat bencana alam ini, semua tersaji secara detil dan akurat karena didukung oleh fakta hasil liputan langsung di lapangan dan referensi dari berbagai pihak yang berkompeten.

Di “buka” dengan pengatar dari editor, Muhammad Syukri, seorang penulis senior yang namanya sudah cukup dikenal sampai ke tingkat nasional, buku serasa menjadi sebuah referensi penting yang akan jadi catatan sejarah, bahwa di bumi Gayo pernah terjadi bencana kemanusiaan yang cukup dahsyat. Dalam pengantarnya, Syukri mencoba mengaitkan kejadian gempa ini dengan pendapat seorang ahli geologi Faizal Ardiansyah yang juga Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Aceh. Syukri bertutur, bahwa berdasarkan analisa Faizal, gempa Gayo terjadi akibat pergesran sesar Sumatera atau patahan Semangko. Bertolak dari analisa ahli geologi tersebut, Syukri kemudian memberikan semacam “penyadaran” kepada seluruh warga Aceh Tengah dan Bener Meriah, bahwa mereka tinggal di daerah yang berada pada patahan Semangko tersebut dan semaktu-waktu berpeluang terjadi gempa tektonik yang berpusat di daratan. Meningkatkan kewaspadaan dengan membangun rumah atau bangunan lain dengan kontruksi tahan gempa, merupakan salah satu solusi yang ditawarkan Syukri untuk meminimalisir dampak, jika di kemudian hari gempa semacam ini terjadi lagi. Selanjutnya Syukri merekomendasikan bahwa buku ini memang layak dibaca, karena sarat dengan catatan sejarah yang tak boleh dilupakan begitu saja.

Menjadi sangat menarik, ketika kemudian penulis buku ini mulai berkisah tentang penelusurannya atas peristiwa yang cukup membawa nestapa ini. Iranda mengawali bukunya dengan catatan kronologis terjadinya gempa berkekuatan 6,2 SR yang meluluh tantakkan hampir separuh wilayah Dataran Tinggi Gayo itu, dengan sub judul kecil “Negeri Sekeping Tanah Surga itu Menangis”, Iranda seakan ingin mengingatkan bahwa Tuhan pernah memberikan “peringatan”Nya kepda warga Gayo melalui bencana ini (halaman 3). Kalau kemudian Iranda menyampaikan nada “protes” lewat sub judul “Mengapa (mesti) Gayo?” , bukan berarti dia sedang “menggugat” hak prerogatif Tuhan, tapi sekedar mengingatkan kepada saudara-saudara di Tanah Gayo ini semata-mata peringatan dari Allah dan masyarakat Gayo harus tetap tegar menerima cobaan ini (halaman 11). Salah satu hikmah yang bisa dipetik dari kejadian ini adalah kembali hadirnya orang nomor satu di negeri ini, presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang serta merta tergerak untuk mengunjungi tanah Gayo begitu mendengar terjadinya bencana ini. Kehadiran SBY ini seakan mengingatkan warga Gayo akan kunjungan presiden sebelumnya, Soeharto yang pernah menginjakkan kakinya di tanah Gayo pada bulan Mei 1983 silam, kalau saja bencana ii tidak terjadi, mungkin SBY tidak akan perah menginjakkan kakinya di tanah Gayo (halaman 15) dan salah satu dampak dari kunjungan SBY yang bisa kita lihat saat ini adalah dikembangkannya Bandara Rembele dari sekedar bnadara perintis menjadi bendara berskala nasional yang kini sudah bisa didarati oleh pesawat komersial berbadan lebar.

Selanjutnya Iranda mulai berkisah tentang misi-misi kemanusiaan pada masa darurat pasca bencana, dia menceritakan bagaiman Bupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin, MM yang secara marathon mengunjungi wilayah-wilayah yang terkena dampak bencana ini, Pak Nas , panggilan bupati ini tidak ingin hanya menerima masukan dari staf-satafnya, dia ingin memastikan bahwa para korban bencana bisa tertangani dengan baik secepatnya (halaman 23). Tak hanya bupati, semua pihak terkait kemudian tergerak untuk terjun langsung ke lokasi bencana ini, kecamatan Ketol yang merupakan wilayah terparah akibat benjana ini nyaris setipa hari menjadi obyek kunjungan beragai pihak mulai dari menteri, gubernur sampai para relawan yang berasal dari berbagai komunitas (halaman 27). Sejak saat itu Iranda seakan berperan ganda, selain sebagai jurnalis, dia juga menjadi relawan kemanusiaan sekaligus pemantau penanganan pasca bencana, Bantuan tanggap darurat yang memang sangat dibutuhkan oleh warga pada saat itu, tidak pernah lepas dari pantauannya, dia menginginkan bantuan itu tepat sasaran (halaman32).

Perhatian Iranda kemudian juga tertumpu pada sebuah desa yang nyaris “hilang” akaibat dahsyatnya gempa itu. Serempah, nama desa di kecamatan Ketol ini memang merupakan desa yang paling dekat dengan pusat gempa. Pasca gempa, desa ini seperti desa mati yang tidak berpenghuni, karena sebagian besar bangunan rumah di desa ini rata dengan tanah, bahkan sebagiannya lagi hilang terseret longsoran tanah yang terjadi bersamaan dengan kejadian gempa tersebut. Menariknya, nestapa warga yang nyaris kehilangan semua miliknya bahkan bebarapa nyawa juga melayang di desa ini, digambarkan Irannda dengan mengutip syair-syair pilu seorang penyair Gayo. LK Ara, ini semakin “mengiris” hati pembaca (halaman 36).

Selesainya masa tanggap darurat bukan berarti selesainya penanganan pasca gempa Gayo, masih banyak yang harus dilakukan pemerintah untuk memulihkan keadaan, diantaranya melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab rekon). Pada tahapan ini dana atau anggaran mulai “bicara”, karena untuk memperbaiki infrastruktur maupun bangunan sipil yang porak poranda akibat gempa tersebut, tentu butuh dana yang tidak sedikit. Disini Iranda memulai perannya untuk “mengawal” proses rehab rekon tersebut, meski tidak terlibat langsung didalamnya, peran Iranda disini seakan menjadi “control public” yang bisa meminimalisir terjadinya penyimpangan atau salah asaran penggunaan uang rakyat tersebut. Disini, sang jurnalis mulai “berani” menyoroti tingkah pejabat lokal yang terkesan kurang tanggap dengan situasi ( halaman 39), inilah peran sesungguhnya dari para jurnalis yang memang sudah seharusnya menyuarakan kebenaran tanpa pandang bulu.

Banyak catatan menarik lainnya yang dituangkan Iranda lewat bukunya ini, salah satunya munculnya kecurigaan terhadap donatur asaing yang memanfaatkan bentuan gempa ini sebagai “modus” untuk pendangkalan akidah bagi warga yang seratus persen Muslim itu (halaman 94). Iranda juga mengingatkan kepada Gubernur Aceh, dr. Zaini Abdullah atau yang akrab dipanggil Doto Zaini ini akan janjinya pada masa tanggap darurat dulu, bahwa penanganan pasca gempa Gayo akan dilakukan sampai tuntas dengan dukungan anggaran dari Pemerintah Aceh. Iranda mengingatkan hal itu, karena setelah setahun pasca gempa, janji itu belum sepenuhnya dipenuhi Doto (halaman 129).

Kepedulian Iranda terhadap gempa Gayo tidak terbatas pada peliputan intens dan pengawalan saja, ketika buku ini di launching pada bulan Januari 2016 lalu, dia sempat melelang tiga bukunya kepada publik yang hadir pada saat peluncuran buku tersebut. Dalam acara peluncuran buku yang dihadiri oleh Bupati Aceh Tengah, Bubapi Bener Meriah dan salah seorang anggota DPD, Rafly Kande, Iranda berhasil melelang tiga bukunya senilai Rp 16.700.000,-, dan tanpa ragu dia menyumbangkan seluruh hasil lelang buku itu kepada anak-anak sekolah di Kecamatan Ketol yang sampai saat ini pun masih butuh uluran tangan untuk kembali “bangkit” pasca gempa. Meski tak sempat menjadi bagian dari buku ini, kegembiraan yang terpancar dari anak-anak desa Serempah, Bah dan beberapa desa lainnya di Kecamatan Ketol saat menerima bantuan perlengkapan sekolah dari Iranda, sudah cukup menjadi bukti bahwa dia memang seorang jurnalis peduli bencana, sosok yang mungkin saat ini sudah jarang kita temui. Dan buku ini bisa jadi saksi sejarah catatan panjang dari sang jurnalis dalam mengawal gempa Gayo, sebuah buku yang layak dibaca oleh siapa saja yang tidak ingin melupakan salah satu catatan sejarah yang pernah terjadi di negerinya.

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.