*Khalisuddin
SAPI Bali (Bos sondaicus) dikenal sebagai sapi pelopor karena kemampuannya berdaptasi dengan lingkungan atau lahan kritis melebihi sapi-sapi lain di dunia. Merupakan salah satu bangsa sapi asli dan murni Indonesia keturunan asli banteng (Bibos banteng) dan telah mengalami proses domestikasi sebelum 3.500 SM di wilayah Pulau Jawa atau Bali dan Lombok.
Dengan berbagai macam kelebihannya seperti mudah berkembang biak, daya cerna pakan yang sangat baik serta nilai jual yang baik membuat sapi Bali ini cepat tersebar ke seluruh Indonesia, termasuk dataran tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah.
Diawali sejak tahun 1983, saat itu Aceh Tengah dipimpin Bupati M. Beni Banta Cut, BA (bupati Aceh Tengah ke 11, 1975-1985) mendatangkan 6 ekor sapi Bali ke Aceh Tengah dan diternakkan di Desa Paya Tumpi (saat itu masuk dalam wilayah Kecamatan Lut Tawar, sekarang Kecamatan Kebayakan).
“Pak Bupati Beni lah tokoh peternakan Sapi Bali di Aceh Tengah” cetus Abdul Kadir,SP mantan praktisi Peternakan di Aceh Tengah beberapa waktu lalu.
Selanjutnya tahun 1994, saat Bupati dijabat Drs. Buchari Isaq (1992-1998) sapi Bali kembali didatangkan melalui Program Bantuan Presiden (Banpres) melalui Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa (DI) Aceh dengan menyalurkan 100 ekor sapi Bali di beberapa tempat di Aceh Tengah antara lain di Belang Gele, Pedemun, Toweren, Pinangan, Umang dan Jagong Jeget.
Yang bertahan sampai sekarang adalah di Jagong Jeget, Paya Tumpi dan Pinangan, sedang di kampung lainnya tidak berhasil. Saat itu bibit sapi Bali didatangkan dari Nusa Penida Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang dikenal sebagai sentra produksi sapi Bali di Indonesia.
Faktor kegagalan utama perkembangan sapi Bali di Aceh Tengah sebelumnya diakibatkan konplik Aceh yang berkepanjangan yang berakibat para peternak kesulitan dalam menafkahi keluarga sehingga ternak-ternak yang mereka miliki dijual untuk menopang hidup. Akibat Eksodus yang terjadi juga menjadi penyebab utama, masyarakat dari pedalaman cenderung berpindah mencari tempat yang aman yang tentunya membutuhkan biaya, tempat yang baru yang umumnya padat penduduk belum tentu ideal untuk melanjutkan beternak sapi Bali karena umumnya status rumah sewa atau menumpang.
Pada era sebelum konplik Aceh 1998-2000, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Aceh Tengah sudah cukup signifikan disetorkan ke Kas Pemda sebut Abdul Kadir tanpa menyebut jumlahnya.
Populasi sapi Bali di Aceh Tengah kini diakhir tahun 2015 tidak kurang dari 6000 ekor, termasuk sapi Program Peternakan Terpadu Ketapang Kecamatan Linge yang digulirkan Pemerintah Aceh Tengah sejak tahun 2004.
Peternak Gayo Ketagihan
Salah seorang peternak, Amrozi (45) penduduk Desa Pinangan mengaku merupakan peternak yang memelihara sapi Bali di Aceh Tengah untuk pertama kali tahun 1997, dan memelihara ternaknya dengan pola perbibitan yakni dengan menjual anak sapi (pedet) sebagai sumber penghasilan.
Menurutnya ternak bibit yang diperolehnya berjumlah 2 ekor dengan pola terima 1 kembali 2 dan telah mengembalikan hasil ternak pemerintah tersebut sejumlah 10 ekor, artinya Amrozi sudah memperoleh anak sapi sejumlah 15 ekor keturunan sapi Bali.
Saat dikonfirmasi Amrozi hanya memelihara 3 ekor, dan dia tidak memaksakan diri untuk memelihara lebih banyak karena beternak merupakan usaha sampingan.
Sejumlah peternak lain di Kampung Paya Serngi hingga Paya Reje Kecamatan Kebayakan, menyatakan ketagihan memelihara sapi Bali yang disebabkan setiap tahun permintaan dan harga jual jenis sapi Bali terus meningkat. Selain itu, kurang dari 1 tahun sapi Bali dipastikan sudah beranak. Seekor sapi Bali berumur 8 bulan saat ini dibeli Rp.5-6 juta.
Beternak sapi Bali sangat ideal bagi masyarakat peternak Aceh Tengah dan Bener Meriah di luar perkotaan atau pusat perdagangan karena ketersediaan pakan yang cukup disekitar tempatnya tinggal yang masih banyak terdapat lahan tidur.
Selain itu, sapi Bali sangat mudah dipelihara dan tidak rewel. Tanpa kandang sekalipun, sapi Bali masih dapat menghasilkan pedet setiap tahun.
Boy Abimayu, warga Paya Tumpi Kecamatan Kebayakan beberapa waktu lalu menyatakan memelihara 4 ekor betina dan 2 ekor jantan, dalam setahunnya minimal bertambah 4 ekor anak sapi (pedet). Biasanya dia langsung jual pedet betina bila umurnya sudah 1 tahun lebih seharga minimal 5 juta Rupiah, dan jantan dihargai lebih dari 5-6 juta perekor.
Jual beli sapi Bali sampai saat ini cenderung masih untuk dipelihara kembali, belum untuk dipotong, kecuali sifatnya potong paksa karena sakit membahayakan nyawa sapi itu sendiri.
Sapi Pelopor
Sebutan sang Pelopor merupakan sebutan populer bagi sapi Bali, hal ini karena kemampuannya dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Dengan pemeliharaan seadanya atau dilepas di padang penggembalaan sapi Bali dapat menghasilkan pertambahan berat badan sampai 0,3 – 0,5 kg perhari dan mencapai 0,8 kg bila dilakukan pemeliharaan intensif dengan pola penggemukan di kandang, diberi pakan yang cukup ditambah dengan konsentrat.
Sapi Bali dinilai oleh sejumlah pakar peternakan mempunyai tingkat kesuburan tinggi, mampu melahirkan pedet 56 ekor tiap 100 ekor sapi betina. Interval kelahiran juga sangat singkat, lebih kurang 1 tahun. Terlebih jika dilakukan Inseminasi Buatan (IB) atau lebih dikenal dengan Kawin Suntik akan lebih memudahkan karena tidak memerlukan pejantan. Dan di Aceh Tengah sudah memulainya sejak tahun 2008.
Dari sekian banyak sapi local Indonesia termasuk sapi Aceh, sapi Bali dinilai beberapa kalangan memiliki karakteristik yang lebih baik, disamping kemampuan beradaptasi juga keunggulan-keunggulan lain seperti calving interval (masa birahi) yang lebih pendek, perawatannya juga lebih sederhana serta lebih jinak dibanding sapi lain. Performance pisiknya juga lebih menarik.
Penyakit
Kelemahan sapi Bali adalah peka terhadap beberapa penyakit tertentu. Yang pertama penyakit ingusan (snot ziekte) atau malignant catarrhal fever (MCF). Di antara ras sapi, sapi Bali paling peka terhadap infeksi virus MCF. Penyakit ini tidak menular dari sapi ke sapi, tetapi virus penyebabnya ditularkan domba (biri-biri) yang bertindak sebagai pembawa virus, tanpa menderita sakit. Gejala sebelum kematian tidak tampak sama sekali,
Pencegahannya sederhana tapi agak sulit karena harus berhadapan dengan masyarakat pemilik ternak domba, Di Kawasan Peternakan Ketapang Linge Aceh Tengah yang berbatasan langsung dengan Kampung Owaq, Lumut dan kampung lainnya sudah dilakukan program depopulasi domba. Sebelumnya cukup banyak masyarakat yang memelihara domba.
Tahun 1964 muncul suatu wabah penyakit baru yang dikenal sebagai penyakit Jembrana. Penyakit ini sangat fatal pada sapi Bali, tetapi sapi lain lebih tahan. Puluhan ribu sapi Bali di Bali mati dalam tempo singkat ketika wabah pertama timbul. Baru pada tahun 1991, sebuah tim penyidik berhasil mengidentifikasi virus lenti sebagai penyebab penyakit jembrana. Virus ini masih satu famili dengan (virus) HIV, penyebab penyakit AIDS pada manusia. Syukurlah di Gayo Aceh Tengah penyakit ini belum pernah ditemukan.
Penyakit sapi Bali lainnya bernama Bali Ziekte, karena banyak ditemukan pada sapi Bali. Penyakit disebabkan oleh tanaman yang mampu merusak sel-sel hati (hepatotoksik) dan menimbulkan dermatitis fotosensitisasi. Pada musim kemarau, apabila hijauan makanan ternak langka, sapi Bali akan makan tanaman yang tidak lazim dimakan. Karenanya saat menjelang musim kemarau sebaiknya ternak sapi Bali diawasi dan dipelihara dengan baik terutama menyangkut penyediaan pakan.
Penyakit lain yang biasa menyerang sapi Bali biasa disebut Sura dan Brucellosis serta penyakit internal lainnya. Di Aceh Tengah beberapa kasus yang dilaporkan ke instansi terkait masih dalam stadium yang tidak membahayakan. Kasus penyakit dan berakibat kematian sangat minim, kalaupun ada kematian biasanya disebabkan karena salah penanganan oleh peternak sendiri misalnya terlambat melapor kepada petugas medis sehingga terlambat untuk ditangani. Sangat jarang terjadi kematian ternak bila peternaknya telaten.
Frekuensi Pemotongan
Walau sapi Bali sangat diminati peternak di Aceh Tengah, namun frekuensinya tergolong sangat rendah, menurut petugas Rumah Potong Hewan (RPH) yang berlokasi di komplek Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Aceh Tengah, Novriandi kepada LintasGayo.co Senin 7 Desember 2015 menyatakan dalam setahunnya kecuali saat hari Megang, hampir tidak ada sapi Bali yang disembelih di RPH.
Sementara pemotongan kerbau dan sapi bukan sapi Bali bisa mencapai 10-16 ekor perminggu. Sebabnya, menurut Novri karena harga sapi hidup sapi Bali lebih menggiurkan.
Memang ada faktor kesukaan masyarakat Aceh Tengah lebih menyukai daging kerbau ketimbang daging sapi, termasuk sapi Bali.
Peternakan Ketapang “Gayo Great Farm”
Kawasan Peternakan Terpadu Ketapang yang dibangun sejak tahun 2004 merupakan ide visioner sebut DR. Luki Abdullah akademisi Fakultas Peternakan IPB Bogor saat berkunjung ke Ketapang tahun 2007 silam. Prof. Soemitro dari FKH UGM Yogyakarta menyebutnya Gayo Great Farm (GGF) di tempat yang sama dalam kesempatan berbeda.
Sangat beralasan kedua pakar peternakan dari dua universitas ternama di Indonesia menyebutnya demikian. “Sejauh yang saya tau, belum pernah ada bupati yang berani buat program seperti ini” ujar Luki Abdullah di Ketapang dalam rangkaian kegiatan Workshop tiga universitas (IPB, Unsyiah dan Gouttingen Jerman pertengahan tahun 2007.
“Program ini harus didukung dan harus berhasil,” tegas Luki.
Hingga tahun 2015 sudah 200 Kepala Keluarga (KK) ditempatkan sebagai peternak dan telah diberi ternak 15 ekor per KK, ribuan ekor sapi Bali telah didistibusikan disana sejak tahun 2005 dari berbagai sumber baik pusat, provinsi maupun APBK Aceh Tengah. Sayangnya, sebagian peternak tidak bertahan mendiami lokasi mereka dengan berbagai alasan.
Padahal fasilitas utama untuk beternak dan fasilitas pendukung sudah tersedia seperti rumah dengan penerangan, lahan masing-masing KK seluas 2 hektar, kandang refresentatif, jalan produksi, fasilitas Kesehatan Hewan, Puskesmas hingga gedung sekolah dasar.
Bukan tidak ada pioner peternak di Ketapang yang telah berhasil dan telah memiliki puluhan ekor sapi Bali seperti halnya Nasiruddin, Syafruddin dan lain-lain. Tepatnya, yang gagal lebih disebabkan faktor human error, bukan sepenuhnya oleh sebab lain-lain.
Kritik dan sorotan mengalir akibat anggapan program ini belum menunjukkan keberhasilan yang signifikan sementara anggaran terus mengalir mencapai puluhan milyar.
Berbagai pihak menunggu akankah Program Ketapang mampu diposisi terdepan di Provinsi ini dalam menjawab tantangan sebagai penyedia sapi Bali terbesar di Aceh bahkan Sumatera. Terlebih dengan ditetapkannya kawasan ini sebagai Kota Terpadu Mandiri (KTM) yang membuka ruang mengucurkan anggaran pembangunan fasilitas untuk kesejahteraan masyarakat setempat.
Program ini didukung juga dengan akan dimekarkannya kawasan ini dalam satu kecamatan yang terpisah dengan Kecamatan induk yang beribukota Isaq menjadi Kecamatan Gayo Linge dengan rencana ibukota di berdampingan dengan kawasan peternakan Ketapang. []
*Alumni Fakultas Pertanian Unsyiah tahun 1998






