Cara Beda Berdemo Ala Mahasiswa Pertanian UGP ke Ruangan Sekda Aceh Tengah

oleh

Demo Mahasiswa Pertanian ke Sekda Aceh TengahTakengon-LintasGayo.co : Berbagai cara dilakukan mahasiswa di negeri ini untuk dapat terus menyuarakan kebijakan pemerintah yang pro rakyat. Berdemo, merupakan hal yang lazim dilakukan para mahasiswa dengan turun ke jalan, bahkan tindakan anarkis pun kadang tak terelakkan.

Namun, cara berbeda ditunjukkan oleh mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Gajah Putih (UGP) Takengon, mereka memilih “demo” melalui cara terhormat dengan menemui langsung pimpinan daerah setempat.

“Sebenarnya ingin ketemu Bupati atau Wakil Bupati, namun karena tidak ada ditempat kami akhirnya diterima Sekda,” ungkap Ketua BEM Fakultas Pertanian UGP, Dedi Rachman usai pertemuan yang berlangsung, Senin (14/9/2015) di ruang kerja Sekda.

Menurut Dedi, ada beberapa hal disampaikan kepada Sekda Aceh Tengah. Dia bersama empat rekan lainnya, menuntut pengelolaan bantuan kepada kelompok tani, pemanfaatan resi gudang secara optimal, pemanfaatan cold storage yang sudah lama tidak difungsikan hingga eksistensi Indikasi Geografis (IG) Kopi Gayo.

Tidak hanya berkaitan di ranah pertanian saja, Dedi dan kawan-kawan juga konsen memperhatikan beberapa infrastruktur jalan yang dinilai butuh perhatian untuk ditangani segera.

Menanggapi tuntutan, masukan dan usulan dari mahasiswa, Sekda Aceh Tengah, Karimansyah didampingi Asisten I, Drs. Mursyid, M.Si terlebih dahulu mengungkapkan rasa bangga atas sikap mahasiswa yang lebih mengedepankan cara dialog. “Tuntutan, usulan dan masukan dari mahasiswa seperti ini merupakan cara terhormat untuk menyampaikan aspirasi,” kata Karimansyah mengawali penjelasannya.

Lebih lanjut Karimansyah menanggapi satu persatu usulan dan masukan dari para mahasiswa hingga pernyataannya yang berujung pada dorongan kepada mahasiswa untuk membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan selama masa perkuliahan.

Tidak hanya itu, Karimansyah tetap mengharapkan masukan dan usulan ilmiah dan praktis dari para mahasiswa dengan cara dapat bertemu langsung seperti yang saat itu dilakukan, maupun berbentuk konsep pemikiran yang dituangkan dalam tulisan.

Diantara perwakilan mahasiswa sempat bimbang dengan kondisi fasilitas kampus yang masih lemah dibanding dengan universitas lainnya yang sudah terlebih dahulu kesohor, sehingga dikhawatirkan mempengaruhi kualitas lulusan UGP.

Lantas Karimansyah menepis keraguan para mahasiswa agar tidak minder dengan keadaan, menurutnya para mahasiswa dapat memanfaatkan dampak positif dari globalisasi.

“Saat ini dunia hanya seperti satu kampung kecil, kita bisa mengakses informasi tanpa sekat ruang dan waktu, penggunaan teknologi informasi harus dimanfaatkan dengan baik oleh para mahasiswa, kami kira dimana ada kemauan pasti ada jalan,” ucap Karimansyah menyemangati perwakilan mahasiswa.

Diakhir pertemuan Karimansyah sekali lagi mengingatkan pentingnya dialog serupa terus dilakukan oleh mahasiswa sehingga ada keberimbangan informasi yang diharapkan berguna untuk mengisi ruang dalam agenda pembangunan daerah.

(Ril/Darmawan)

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.