Cara Misionaris Mendangkalkan Aqidah

oleh

Oleh: Husaini Muzakir Al-gayoni*

husaini (Custom)AGAMA Islam adalah agama yang paling diridhai disisi Allah sesuai dengan firman-Nya dalam surat Ali-Imran ayat 19, ajaran-ajaran agama Islam yang berpedoaman pada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah wajib untuk diikuti sebagai petunjuk hidup manusia. Namun ajaran-ajaran agama Islam itu diawasi oleh para misionaris dari dulu sampai sekarang, dari sekarang dan sampai kapanpun mereka akan berusaha menghancurkan agama serta mendangkalkan akidah umat Islam agar keluar dari akidah yang benar.

Para misionaris itu menghancurkan pikiran umat Islam agar umat Islam itu sendiri yang menghancurkan agamanya ataupun dengan pikiran-pikiran/paham-paham yang menyesatkan.

Oleh karena itu, dalam tulisan yang singkat ini penulis sedikit menguraikan cara misionaris mendangkalkan akidah umat Islam. cara pertama yang dibawa oleh misionaris itu akan kita lihat dalam konteks agama atau dalam bidang ilmu tauhid, bahwa mereka membuat cerita-cerita atau dogeng-dongeng yang tidak masuk akal yang dihubungkan dengan akidah. Kepercayaan kepada yang ghaib yang tidak bersumberkan kepada al-Qur’an dan Hadis atau istikah dalam ilmu tauhid dikenal dengan tahayul dan khurafat.

Tahayul dan khurafat ini berasal dari sisa-sisa agama peninggalan seperti agama Nasrani, Hindu dan ada pula yang tumbuh di kalangan umat Islam itu sendiri. Para Misionaris pada masa dulu seperti Ka’ab bin al-Abar, Wahab bin Munabih dan al-Laitsi; mereka berasal dari pendeta Nasrani yang masuk Islam dan mereka inilah masuknya ajaran gereja kedalam Islam. Ini merusak akidah selain itu juga tahayul dan khurafat ini membekukan otak umat Islam.

Muhsin Abdulhamid mengatakan “Bahwa kaum Muslimin telah terjerumus kedalam alam khayal, karena kemasukan tahayul dan khurafat. Inilah yang membuat Umat Islam mundur gaya berpikirnya.” Dengan masuknya tahayul dan khurafat ini kedalam Islam maka akidah itu semakin menjauh dari aslinya. Ajaran-ajaran yang dibuat-buat dalam Islam itu kebanyakan datangnya dari Mesir dan Timur Tengah yang ditulis adad ketiga belas, yaitu ketika memuncaknya pertarungan politik antara daulat Bani Abbassiyah dan daulat Fathimiyah dari Mesir. Kitab-kitab ini selain sulit dibaca juga banyak memuat kisah-kisah, hikayat dan riwayat israilia.

Cara ini sangat berbahaya bagi akidah, oleh karena itu kita harus meniliti dengan betul apakah amalan yang telah kita lakukan sesuai dengan konsep Islam yang sebenarnya atau malahan kita telah terjebak dalam ajaran yang telah dibawa oleh ajaran dari Nasrani dan Yahudi tersebut.

Cara pertama tadi ialah dengan cara tahayul dan khurafat kita lihat dalam konteks ilmu tauhid adapun cara yang kedua ialah dengan cara paling modern yaitu dengan cara Intelektual yang digunakan misionaris untuk mendangkalkan akidah. Berbicara masalah intelektual berarti berbicara dalam dunia akademisi atau pendidikan.

Misionaris itu berusaha mengobok-obok pikiran umat Islam wabil khusnya para sarjana Islam yang berbondong-bondong pergi ke Barat untuk belajar Islam. Mereka kemudian mempromosikan gagasan dan metodologi Barat dalam studi Islam. Masalah belajar dimamapun kita bisa belajar dan dari siapapun kita bisa belajar dan mengambil manfaat yang baik-baik serta menambah wawasan pengetahuan. Apa yang dikatakan Adian Husaini dalam bukunya “Wajah Peradaban Barat”: Seyogyanya kaum Muslimin bisa mengambil sesuatu yang bermanfaat dari Barat tanpa menghancurkan Islam. Para cendekiawan Muslim yang belajar di Barat seperti Syed Al-Attas yang tidak terpengarauh pemikiran Barat bahkan beliau sendiri yang menentang pikiran-pikiran Barat yang berusaha menghancurkan agama Islam melalui jalan intekelektual.

Para misionaris mereka bekerja untuk mendangkalkan akidah umat Islam bukan lagi dengan paksaan ataupun dengan senjata tapi dengan cara pendekatan yang bisa membuat hati umat Islam luluh dalam pelukan mereka. Di sini mari kita lihat tiga tokoh para misionaris yang terkenal dalam menaklukkan Islam. Pertama: pada masa klasik, misionaris legendaries yang bernama Henry Martyn menyatakan: Saya menemui umat Islam tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan pasukan tapi dengan akal sehat, tidak dengan kebencian tapi dengan cinta. Dapat disimpulkan bahwa resep dalam menaklukkan Islam ialah dengan: Kata-kata, Logika dan Cinta. Kedua: Raymond Lull menyatakan: Islam tidak dapat ditaklukkan dengan darah dan air mata tetapi dengan “Cinta kasih dan do’a.”. Ketiga: Dr. George F. Post menyatakan juga pendapatnya bahwa kita harus menghadapi Pan-Islamise dengan Pan-Evangelisme, ini pertarungan hidup dan mati dan dari dialah sebuah kata-kata yang berbunyi “Kristenkan Orang Islam atau mereka akan mengganyang Kristen.”

Dalam kesimpulan Tulisan ini, bahwa para misionaris dan khususnya orang-orang kafir itu tidak akan pernah senang dengan ajaran umat Islam dan sampai kapanpun mereka akan terus berusaha mengobok-obok ajaran Islam baik itu dari praktek dan amalan dalam Islam maupun dari cara berpikir yang dikotori oleh pemikiran Barat untuk menghancurkan Islam melalui jalan intelektual. Oleh karena itu, bagaimana cara kita menyikapinya ialah dengan memurnikan akidah dari jalan tahayul dan khurafat tersebut serta mengembangkan sikap kritis kita terhadap peradaban Baratsecara proporsional.

*Penulis: Alumni Ponpes Nurul Islam Blang Rakan Bener Meriah, Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Prodi Ilmu Aqidah.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.