Caisaria: Buka Gemstone, Cegah Bongkahan Giok Gayo Keluar Tak Terkendali

oleh
Batu Giok koleksi Edi Tebe, warga Takengon. (LGco_Munawardi)

Laporan : Darmawan Masri

Caisara
Caisara

Toko souvenir (cinderamata) batu mulia di Gayo yang menjamur disetiap sudut Ibu Kota Kabupaten Aceh Tengah, Takengon dirasakan menjadi berkah tersendiri bagi pelaku usaha ini. Tak jarang pelaku usaha toko gemstone meraup keuntungan menggiurkan dari hasil penjualan gagang perhiasan yang terbuat dari batu mulia jenis akik dan giok.

Seperti yang dilakoni warga Bale Atu Kecamatan Lut Tawar, Caisaria Zariansyah yang sejak lima bulan terakhir membuka toko gemstone bernama Ariara Gemstone di seputaran Simpang Lima Takengon.

Kepada LintasGayo.co, Rabu 4 Maret 2015, putra kandung salah seorang sejarawan di Aceh Tengah, Arifin Banta Tjut ini mengatakan, dirinya berinisiatif membuka toko gemstone di Takengon karena melihat bongkahan-bongkahan batu mulia dari Gayo keluar secara liar ke luar daerah.

“Kadang masyarakat harus membawa ke luar daerah untuk dijadikan perhiasan, sedangkan gagang perhiasan di Takengon saat itu masih minim. Melihat kondisi keluarnya batu Gayo secara liar, maka saya membuka toko gemstone ini, sebagai langkah antisipatif terjadi lebih parah lagi bongkahan batu Gayo yang keluar,” ucapnya.

Selain itu, tujuannya membuka toko gemstone selain berbisnis adalah memperkenalkan batu-batu mulia dari Gayo kepada masyarakat Gayo secara khusus dan masyarakat luas secara umum, agar tidak terjadi klaim sepihak dari daerah lain kepada batu yang berasal dari Gayo. “Sebelumnya banyak bongkahan batu Gayo yang sudah keluar, orang dari daerah lain bisa saja mengklaim batu itu dari daerah nya, dari situlah saya membuka usaha ini,” ungkap Caisaria.

Ariara Gemstone, selain menyediakan gagang berbagai jenis perhiasan, juga menampung penjualan batu-batu mulia di Takengon. Para penambang di pusat lokasi batu mulia di Aceh Tengah banyak yang mengantarkan batu hasil temuannya kepada Caisaria. “Saya juga menampung batu mulia dari petani, setelah itu juga saya menjualnya berbentuk lempengan-lempengan kecil,” ujarnya, sambil melanjutkan, toko miliknya juga membuka jasa pengrajin batu mulia.

Omzet Belasan hingga Puluhan Juta Perhari

Dengan membuka toko gemstone, Caisaria mengaku memiliki memiliki laba kotor mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah dalam sehari. Omzet dari penjualan gagang perhiasan saja, bisa mencapai delapan juta Rupiah per harinya.

“Kalau gagang perhiasan bisa mencapai 8 juta perhari, kalau jualan batu itu tidak tentu, bisa 30 juta perhari bisa kurang, penghasilan lainnya dari jasa pengrajin batu mulia,” ungkapnya.

Pembeli dari luar daerah hingga mancanegara

Sebagai salah satu pusat gemstone terbesar di Takengon, Ariara Gemstone melalui pemilikinya Caisaria Zariansyah mengatakan, dengan dibukanya toko gemstone miliknya, menjadikan batu mulia dari Gayo jenis akik dan giok sebagai cinderamata (souvenir) yang dibawa oleh orang-orang yang berkunjung baik dalam rangka wisata dan kunjungan lainnya ke Takengon-Aceh Tengah.

“Kalau pembeli sudah beragam. Tidak hanya masyarakat Gayo saja, melainkan masyarakat luar dari seluruh Indonesia juga ada. Akhir-akhir ini ada juga dari mancanegara seperti Jerman, Australia dan masih banyak lagi. Mereka menjadikan batu mulia Gayo sebagai souvenir, ada yang berbentuk cincin, liontin dan bentuk perhiasan lainnya,” terang Caisaria.

Peran Pemerintah

Melihat prospek batu di Gayo saat ini, dia berharap adanya peran pemerintah dalam menjaga sumber daya batu-batu mulia di Gayo. Saat ini menurutnya, batu-batu mulia di Gayo sering kali dikelabui oleh orang lain, hal itu dikarenakan tidak tersedianya Sumber Daya Manusia yang mumpuni di bumi Gayo.

“Disitu peran pemerintah diperlukan, untuk mencetak SDM-SDM handal dibidang batu mulia ini, agar prospek batu mulia ini kedepan lebih bagus lagi,” demikian Caisaria Zariansyah.[]

 

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.