Drs. Buniyamin S*

Uah Jangko dan Uah Ruluh masuk komunikasi politik yang dibahasa-Gayo-kan. Uah Jangko bermakna buah yang diraih dengan jalan diambil sendiri, sementara Uah Ruluh adalah buah yang sudah jatuh sendiri.
Kepemimpinan diberbagai bidang dibutuhkan pemikir sekaligus pekerja. Pemikir saja tidak cukup dalam rangka mengejar berbagai ketertinggalan dalam meraih satu tujuan pembangunan. Pemikir lebih banyak berorientasi kepada rumus dan kajian, sementara pekerja lebih dari itu, yang penting pekerja selalu berbuat tanpa ending kepentingan selain mengejar tujuan yang diyakini benar, pada akhirnya inilah disebut orang-orang idealis, walaupun sebutan itu tidak tepat diberikan kepada orang idealis sesungguhnya.
Visi dan misi seorang user-pimpinan tidak serta merta dapat dijalankan oleh yang bersangkutan tanpa dibantu oleh staf di bawahnya. Karenanya dalam dunia politik moderen seperti saat ini dikenal dengan sebutan introvert test, yaitu mencari pekerja, bukan pemikir yang mampu menterjemahkan sekaligus menjalankan amanah yang akan diberikan.
Ketika menjalankan amanah sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dan anggaran yang ada tidaklah begitu sulit. Sebagai contoh, tupoksi dari Badan Pengelolaan Keuangan adalah menyimpan dan mengeluarkan keuangan tanpa adanya kebijakan. Pegang teguh atas tupoksi itu tidak akan terjadi ‘temuan’ ketika terjadi pemeriksaan atas pengeluaran uang.
Berbeda dengan bidang teknis lain yang justru memerlukan penelaahan dan terobosan signifikan, artinya dibutuhkan keberanian menterjemahkan sekaligus menjalankan tupoksi yang kebiasaannya ditimpali dengan arahan serta pentunjuk tambahan dari seorang pimpinan, pada saat itulah diperlukan kelihaian memainkan bola, bukan menunggu bola. Kelihaian inilah dalam ilmu komunikasi politik disebut dengan loyalitas. Akan tetapi jarang kita memahami ketika seseorang hanya mampu menjalankan tugas berada digaris start tanpa berbuat dan tidak ingin mendapatkan kartu kuning atau kartu merah yang kaitannya dengan loyalitas.
Tupoksi dengan mengelola anggaran yang tersedia merupakan bagain dari “Uah Ruluh”, yang telah ditentukan peruntukkannya, walaupun sudah menjadi rahasia umum pada awal rancangan anggaran dari sebuah kegiatan terselip untuk dan rugi. Tulisan ini tidak membahas itu, akan tetapi bagaimana seorang leader yang baik mempunyai kemampuan menterjemahkan petunjuk atasan untuk jemput bola dengan cara mahir “Uah Jangko”.
Berupaya mencari “Uah Jangko” merupakan keniscayaan dan bukan “Perluo-ulo ku ujung ni niyu” (bukan melawan atasan), tetapi itu merupakan kelihaian yang peruntukkannya semata-mata menterjemahkan sekaligus menjalankan petunjuk atasan dalam rangka meraih tujuan di atas target yang sudah ada.
Kiranya kedepan, Gayo Lues akan menjadi rival yang diperhitungkan oleh daerah lain dalam mengelola pembangunan ditengah persaingan yang cukup ketat ketika masing-masing lini mampu memanfaatkan “Uah Jangko” dengan baik dan benar, sekaligus kita punya nyali dan keberanian untuk mencari “Uah Jangko” dalam penopang visi dan misi pimpinan yang legal dan bermartabat.[]
*Pengamat sosial politik ekonomi dan budaya di Gayo Lues





