“Meledak” populasi ikan Sapu-sapu di Peusangan

oleh
ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) yang tertangkap di sungai Peusangan. (LintasGayo.co | Muna)
ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) yang tertangkap di sungai Peusangan. (LintasGayo.co | Muna)

Takengon-LintasGayo.co : Meningkatnya jumlah populasi ikan sapu-sapu di sungai Peusangan akhir-akhir ini memang nyata terjadi, hal tersebut terbukti ketika LintasGayo.co pada Minggu (30/03/2014), mendapati beberapa warga di Kampung Tan Saril sedang membersihkan jaring ikan dari sejumlah ikan sapu-sapu yang menyangkut di jaring mereka. “Banyak sekali sudah ikan ini di sini,” ujar salah seorang warga.

Di lokasi terpisah, Winara seorang nelayan yang biasa menangkap ikan di Danau Lut Tawar, juga sering menangkap ikan di sungai Peusangan, mengaku jenis ikan ini sering menyangkut di jaring dan bahkan sekarang dia sudah enggan memasang jaring ikan di sepanjang aliran sungai Peusangan tersebut, karena yang tertangkap bukannya ikan dimaksudkan melainkan ikan sapu-sapu yang memenuhi bahkan merusak jaring.

“Ikan sapu-sapu ini tidak hanya tertangkap disepanjang sungai Peusangan melainkan sudah banyak tertangkap juga di kawasan Danau Lut Tawar,” ungkap Win yang sering menangkap ikan di kawasan sebelah barat Danau Lut Tawar.

Awalnya nelayan disini keheranan melihat jenis ikan ini, menganggap aneh karena belum pernah melihatnya, kenang Win. Baru setelahnya, sering dijumpai tertangkap di jaring nelayan dan terpancing oleh pemancing ikan, barulah nelayan tahu banyak mengenai ikan ini.

“Kalau ada yang mau membeli ikan ini, maka kami cukup mudah mendapatkannya, karena jumlahnya banyak sekali,” lanjut Winara.

Ikan sapu-sapu ini sangat banyak terlihat ketika menjelang sore hingga malam hari, walaupun siang hari juga banyak didapat bahkan berikut dengan anakannya yang masih kecil-kecil.

ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) yang tertangkap di sungai Peusangan. (LintasGayo.co | Muna)
ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) yang tertangkap di sungai Peusangan. (LintasGayo.co | Muna)

“Kami khawatir suatu saat akan tidak ada lagi ikan yang bisa kami tangkap di Danau Lut Tawar, pasalnya jumlah ikan sapu-sapu ini semakin banyak, sebagaimana sudah terjadi di sepanjang sungai Peusangan, kami sudah tidak mau lagi memasang jaring disana, karena bukan ikan yang kami dapat, malah jaring kami yang rusak beserta “ikan aneh” yang menyangkut disana,” lirih Win.

Sepengetahuannya ikan ini mulai terlihat di perairan sungai Peusangan dan Danau Lut Tawar beberapa tahun yang lalu, yaitu ketika ramainya orang-orang membudidayakan ikan nila dikeramba jaring tancap sepanjang sungai Peusangan dan di Danau Lut Tawar. Menurut dugaanya, dulu sering diadakan penebaran ikan ke danau, mungkin karena sumber benihnya dari luar, ikan ini terbawa bersama benih tersebut, atau orang yang memelihara ikan hias akuarium kemudian membuangnya ke perairan atau kolam.

Mengutip beberapa referensi, Ikan sapu-sapu adalah sekelompok ikan air tawar yang berasal dari Amerika tropis, termasuk dalam famili Loricariidae, walau tidak semua anggota Loricariidae adalah sapu-sapu. Ikan ini dikenal sebagai pemakan alga atau “lumut” dan sangat populer sebagai ikan pembersih kaca atau akuarium. Dalam perdagangan ikan internasional ia dikenal sebagai plecostomus atau singkatannya, plecos dan plecs.

Di Malaysia orang menyebutnya “ikan bandaraya” karena fungsinya seperti petugas pembersih kota (“bandar”). Di Indonesia, analogi yang sama juga dipakai tetapi alatnya yang dipakai sebagai nama (“sapu”). Ikan ini nyaris dapat hidup bersama dengan ikan akuarium apa saja dan diperdagangkan dalam ukuran kecil atau sedang. Meskipun demikian, ia bisa tumbuh sepanjang 60 cm, menjadi kurang aktif dan kurang bersahabat.

Ikan ini omnivora (pemakan segala) tapi biasanya mencari sisa-sisa tumbuhan air di malam hari.

ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) yang tertangkap di sungai Peusangan. (LintasGayo.co | Muna)
ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) yang tertangkap di sungai Peusangan. (LintasGayo.co | Muna)

Sebenarnya sapu-sapu mencakup banyak jenis anggota Loricariidae, meskipun yang paling umum dikenal adalah Hypostomus plecostomus. Karena banyaknya impor berbagai macam sapu-sapu, dan banyak sekali yang belum diidentifikasi secara benar, disusunlah suatu daftar sapu-sapu yang disebut nomor-L (L-number) untuk mencirikannya secara sementara.

Menurut seorang akademisi dan peneliti di bidang perikanan dan sumberdaya perairan, Iwan Hasri, M.Si, mengatakan keberadaan atau meningkatnya populasi ikan sapu-sapu di perairan merupakan pertanda buruk bagi perairan tersebut.

“Alasannya adalah bisa jadi jenis ikan-ikan asli yang banyak terdapat di perairan tersebut akan punah, karena tidak dapat bersaing dengan ikan sapu-sapu ini, dengan kata lain ikan ini merupakan ikan yang invasif terhadap habitat ikan asli di perairan, seperti keberadaan ikan Peres bisa terancam,” jelas Iwan.

Meningkatnya populasi ikan sapu-sapu juga dapat dijadikan indikator bahwa perairan sudah banyak mengandung bahan organik, yang berarti perairan telah tercemar bahan organik sehingga kesuburan alga ikut meningkat, demikian Iwan.

(MA)

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.