Berhentilah Mencampuri Urusan Orang Lain

oleh

Oleh : Fathan Muhammad Taufiq*

Seorang ayah sedang memberikan wejangan/nasehat kepada anaknya yang sudah menginjak dewasa. ”Nak, kalau ingin hidupmu bernilai, jangan suka mencampuri urusan pribadi orang lain,” begitu pesan singkat sang ayah.

Meski pesan itu hanya berupa satu kalimat singkat, tapi sebenarnya memilki makna yang sangat luas. Pesan sang ayah tersebut menyiratkan makna, bahwa kita lebih baik fokus pada urusan kita untuk mencapai sukses, ketimbang mencampuri urusan orang lain yang tidak ada manfaatnya.

Bukan hanya orang timur yang terikat dengan tatanan sosial dan kearifan lokal saja yang mengajarkan sistem nilai seperti itu, bahkan orang barat yang sudah begitu terinfiltrasi oleh kemajuan teknologi pun menganggap bahwa mencampuri urusan orang lain itu bukan hal yang baik. Mereka berprinsip ‘Mind your business’ (fikirkan saja usahamu), tidak perlu mencampuri urusan orang lain, karena hanya akan membuat kita tertinggal.

Oleh sebab itu, ’tidak mencampuri urusan orang lain’ seolah sudah menjadi sistem nilai universal yang harus dipegang oleh semua orang yang ingin kehidupannya maju. Asyik dengan mencampuri urusan orang lain, akan membuat kita lalai dengan urusan sendiri, sehingga ketika orang lain maju, kita justru makin tertinggal.

Apapaun permasalahan yang terjadi di sekitar kita, kalau itu memang tidak terkait dengan pribadi atau keluarga kita, tidak perlu lah kita campuri, karena sama sekali tidak ada gunanya, baik bagi diri senediri maupun bagi orang yang kita campuri urusannya.

Dengan selalu mencampuri urusan pribadi orang lain, kita jadi mudah menilai atau menarik kesimpulan atas diri seseorang, padahal belum kita cermati dan belum tahu/ tidak tahu secara pasti bagaimana permasalahannya.

Ada kalanya mencampuri urusan orang lain ini karena latah, atau terpengaruh oleh opini yang sedang berkembang, sementara secara detil kita tidak memahami permasalahan yang sebenarnya terjadi. Jadilah akhirnya kita sebagai ‘tukang kompor’ dan ‘tukang kipas’ yang justru akan memperkeruh situasi.

Terkadang pula, ada diantara kita yang melakukannya, karena adanya rasa iri hati, dengki dan cemburu terhadap kehidupan orang lain yang mungkin lebih baik. Sehingga anpa kita sadari kita terobsesi untuk mencari tahu tentang kehidupannya dan mencoba mencari titik-titik lemahnya untuk disebarkan kepada orang lain sehingga orang lain terpengaruh oleh obsesi buruk kita.

Jika sebabnya karena kita iri dan dengki, bisa saja kita jadi suka/senang bila kita melihat orang lain mendapat kesusahan dan kita akan merasa susah. Sementara sifat iri kita akan melahirkan perasaan jengkel dan semakin bertambah iri hati, bila melihat orang lain mendapat kebahagiaan.

Kita pun akan cenderung lebih suka menghakimi dan bersikap sepertinya seolah-olah kita ini ahli dalam menilai, padahal diri kita sendiri saja banyak kekurangan dan banyak urusan kita yang perlu kita perbaiki.

Termasuk ketika kita melihat pertikaian, ketidak cocokan atau ketidak harmonisan orang lain, tanpa mencari tau permasalahan yang melatar belakanginya, tanpa sadar kita cenderung untuk langsung menyalahkan salah satu pihak atau bahkan kedua-duanya.

Kalaupun akhirnya kita tau duduk persoalannya, tetap saja bukan ranah kita untuk mencampurinya, apalagi sampai menggiring opini yang sipaftnya memojokkan. Karena sejatinya kita masing-masing sudah punya ranah sendiri yang tentunya menjadi tidak baik dampaknya jika dicampuri oleh orang lain, apalagi kalau dilatar belakangi oleh ketidak sukaan, kebencian, iri dan dengki.

Ada kesan kalau kita mencampuri urusan orang lain, sepertinya kita punya kepedulian sosial, tetapi jika kita tidak diminta terlibat dalam urusan tersebut, sebaiknya kita tidak mencampuri urusan orang lain, apalagi kita memang bukan bagian dari ranah permasalahan tersebut, meskipun itu terjadi didepan mata kita.

Prinsip amar ma’ruf nahi mungkar, bukanlah perintah untuk mencampuri urusan orang lain, tapi sekedar memerankan fungsi sosial kita untuk mengingatkan, memberitahu atau memberikan solusi kepada seseorang agar tidak melakukan hal-hal negatif yang berdampak pada lingkungan sosial disekitarnya.

Ketika kita melihat sebuah perselisihan antar dua orang atau lebih diantara kita, siapapun orangnya, apakah dia tokoh publik atau orang biasa, jika tidak diminta, tidak perlu lah turut campur dalam urusan tersebut, karena dalam sebuah permasalahan, mungkin saja ada domain-domain pribadi yang sama sekali tidak boleh dicampuri oleh orang lain, dan itu harus kita pahami. Kalu kita tidak diminta sebagai mediator, setidaknya kita jangan jadi provikator yang justru meperkeruh suasana dan memperumit permasalahan.

Apalagi dalam era teknologi informasi seperti sekarang ini, ikut campur pada urusan orang lain juga dominan dilakukan melalui media sosial yang justru efeknya jauh lebih luas. Padahal mencampuri urusan orang lain, mungkin tida ada pun untungnya buat kita, kalaupun kita mendapatkan sesuatu dengan mencampuri urusan orang lain, tentu itu hanya keuntungan semu yang sama sekali tidak bermanfaat untuk kita.

Bagaimana dengan kia selama ini? apakah kita termasuk orang yang suka mencampuri urusan pribadi orang lain tanpa diminta? Apakah kita termasuk orang yang lebih tertarik dengan masalah pribadi orang lain ketimbang memperbaiki diri sendiri?

Kalau iya, coba tanyakan pada diri kita sendiri dengan jujur apa alasannya? Atau jangan-jangan kita mencampuri dan selalu ingin tahu kehidupan orang lain, karena rasa iri hati kita terhadap orang lain. Ketika dalam diri kita masih ada perasaan senang kalau melihat orang mendapat kesusahan?

Apakah kita telah menjadi orang yang susah melihat lain senang dan senang bila melihat orang lain susah, atau kita ingin setiap permasalahan yang menimpa oprang lain berkepanjangan, maka ada sesuatu yang tidak beres dalam dada dan kepala kita.

Kita semua tahu, bahwa hidup didunia ini hanya sementara, semoga kita bisa mengisinya dengan hal-hal yang jauh lebih bermanfaat untuk kehidupan kita. Untuk menjadi lebih baik, tentu kita sendiri yang harus berusaha memperbaikinya, stop mengabaikan urusan sendiri gegara sibuk mencampuri urusan orang lain.

Kita tidak akan menjadi pahlawan dengan selalu sok tau urusan orang lain, karena dalam hati kecil kita pasti tidak terima kalau urusan kita dicampuri oleh orang lain. Tetaplah jadi sosok yang peduli, tapi jangan merambah ranah privasi orang lain, karena seperti kita, orang lainpun ingin privasinya tidak dicampuri orang lain. []

Comments

comments