Merajut Silaturrahmi

oleh

Oleh : Johansyah*

Di akhir ramadhan ini, mari kita sempurnakan ibadah dengan merajut dan memperkuat silaturrahmi. Hari raya yang penuh suka cita kiranya tidak ternodai dengan sikap dendam dan tidak mau memaafkan. Bagi yang masih memiliki orangtua, mohonlah kemaafan dan ridha dari mereka. Jika pernah ribut dengan saudara, tetangga, atau sahabat, sekaranglah saat yang tepat untuk saling memaafkan antara satu dengan yang lainnya.

Silaturrahmi adalah rangkaian dua kalimat indah, yaitu shilah dan ar-rahm. Shilah artinya hubungan atau menghubungkan, dan ar-rahm berasal dari rahima-yarhamu rahmun/rahmatan yang berarti lembut dan kasih sayang.

Taraahama al-qaumu artinya kaum itu saling berkasih sayang. Taraahama ‘alayhi berarti mendo’akan seseorang agar mendapat rahmat. Sehingga dengan pengertian ini seseorang dikatakan telah menjalin silaturrahmi apabila ia telah menjalin hubungan kasih sayang dalam kebaikan bukan dalam dosa dan kemaksiatan.

Dalam al-Qur’an dijelaskan: ‘dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.” (QS: an-Nisa’ :1). Pentingnya silaturrahmi dapat dilihat dalam sebuah hadits Rasulullah Saw; ‘Barangsiapa yang senang diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya (diberkahi), maka hendaklah ia bersilaturrahmi (Muttafaq ‘Alaih).
Ada yang menarik dari hadits rasulullah di atas.

Kata beliau orang yang menghubungkan silaturrahmi akan diluaskan rejeki dan dipanjangkan umurnya. Perumpamaan silaturrahmi bagaikan lintasan-lintasan yang dapat ditempuh seseorang ke suatu tempat. Apabila satu jalan yag ditempuh buntu, orang akan menempuh jalur lainnya. Jalan atau lintasan tersebut adalah orang-orang yang kita memiliki hubungan baik dengan mereka.

Pertengahan tahun 1970-an, Sosiolog Harvard, Mark Granovetter mempublikasikan risetnya yang kemudian menjadi karya monumental mengenai cara orang mendapatkan pekerjaan. Apa yang ditemukannya masih valid hingga sekarang, yaitu bahwa mayoritas orang mendapat pekerjaan melalui koneksi pribadi.

Namun, satu temuan yang mengejutkan Granovetter adalah koneksi tersebut umumnya bukan teman atau saudara dekat. Si penerima kerja hanya sesekali dalam setahun bertemu dengannya (lihat hikmah.com).

Ini adalah bukti bahwa rejeki itu sebenarnya ada di mana-mana. Hanya saja bagaimana cara kita memperolehnya. Dan yang jelas bahwa dengan silaturrahmi orang dapat dengan mudah meraihnya. Sama seperti pemilihan calon legeslatif yang lalu, mereka yang menang sebagian besarnya adalah orang-orang yang rutin bersilaturrahmi walaupun setelah dilantik mulai jarang kelihatan. Mungkin karena sibuk.

Memanjangkan Umur

Menurut Qomarudin Hidayat, dalam bukunya Psikologi kematian, bahwa yang dikatakan panjang umur bukan orang yang usianya mencapai usia lanjut, akan tetapi orang yang dalam hidupnya mencapai kemakmuran dalam harta ilmu dan amal. Jadi sekali pun orang memiliki umur panjang akan tetapi kalau hidupnya tidak produktif, sama halnya dengan orang yang berumur pendek. Jadi umur panjang ditentukan oleh produktifitas umur itu sendiri.

Sebenarnya menurut konsep Islam manusia tak akan pernah mati. Meski telah mati, tapi ia masih terus hidup dan amalnya terus berjalan. Ini sesuai dengan hadits Nabi Saw, ketika seseorang telah kembali ke hadirat-Nya semua amalan putus kecuali tiga hal yaitu anak amal saleh, ilmu yang bermanfaat dan sedekah jariah. Jadi orang yang mengamalkan ketiganya sebenarnya tak pernah mati, mereka akan terus hidup di antara kita.

Contoh yang paling dekat adalah Nabi Saw yang terus kita kenang dan ingat karena keteladanannya. Bukankah kita sering mendengar pribahasa: ‘gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan nama’. Karena itu, kalau hendak panjang umur dan dikenal lakukanlah yang terbaik untuk diri dan orang lain.

Semua orang memiliki berbagai pengalaman hidup, ketika dia ribut dengan tetangga, akan muncul rasa gelisah dalam dirinya. Dia merasa tidak enak dan berpengaruh kepada kesehatannya. Sebab kegelisahan dan perasaan tidak enak dapat mengakibatkan seseorang sakit hati dan terbeban batin. Tidak jarang juga dapat mengakibatkan sakit jantung bahkan sampai meninggal dunia.

Hubungan yang tidak harmonis dapat mengakibatkan umur seseorang terpangkas dan dunia pergaulannya menjadi sempit. Seseorang dapat menikmati hidup ketika harmonis dengan orang sekitarnya, tidak pernah menyinggung perasaan orang lain, dan selalu menebarkan kebaikan. Dia meyakini hanya dengan menebar kebaikan hati akan nyaman.

Di sanalah seseorang dapat menikmati hidup. Kebahagiaan tidak diukur dengan materi, tapi kualitas hubungan baik dengan keluarga, saudara, tetangga dan siapa pun.

Konsep hidup yang dikembangkan melalui silaturrahmi adalah ‘kalau senang sama-sama senang, dan jika susah sama-sama susah’. Dalam sebuah hadits dinukilkan; al mu’minuna kal bunyan, yasyuddu ba’dhahu ba’dha (Orang mukmin itu seperti sebuah bangunan, yang antara satu dengan yang lainnya saling menguatkan).

Prinsip hidup yang harus dihindari adalah SMS (senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang). Dari berprinsip seperti ini, lebih baik prinsip hidupnya almarhum Mbah Surip; ‘kalau ingin hidup bahagia di dunia ini kurangi tidur dan banyakin ngopi’. Orang Gayo bilang; ‘ike ate urum-urum senang, jantar keloang terasa gule’ (kalau hati sudah sama-sama senang, sayur pakis pun terasa ikan).

Manusia yang baik adalah manusia yang melakukan hal terbaik bagi dirinya dan orang lain, kapan dan di mana pun selama ia bisa, maka sebuah anonym inggris pun mengatakan Do all the goods you can, All the best you can, In all times you can, In all places you can, For all the creatures you can, lakukan hal baik dan terbaik yang kamu bisa, dalam setiap waktu dan kesempatan yang kamu bisa, untuk semua hal yang kamu bisa perbuat.

Salah satu ciri taqwa

Silaturrahmi adalah salah satu ciri takwa. Hal ini ditegaskan dalam surah an-Nisa ayat 1 sebagaimana disebutkan di atas. Jika puasa bagi orang-orang yang beriman dipahami sebagai upaya peribadi takwa, salah satu indikatornya adalah kemampuan seseorang untuk menjalin silaturrahmi berdasarkan iman dan kasih sayang.

Ketika Umar Ibn Khattab ditanya tentang makna taqwa, beliau menjawab ‘taqwa adalah ketika kamu pergi ke hutan maka kamu menghindari duri’. Salah satu duri yang dimaksudkan di sini adalah memutus hubungan silaturrahmi karena itu merupakan perilaku yang buruk, sehingga perlu dihindari.

Akhirnya mari bermohon dengan penuh harap kepada Allah Swt; ‘Ya Allah tempatku meminta, di akhir ramadhan ini, kami mengucap takbir membesarkan asma-Mu, kami adalah hamba yang hina dan banyak berbuat dosa. Satukanlah hati kami dalam ikatan persaudaran berdasarkan iman dan taqwa, sehingga kami ikhlas memaafkan dan dimaafkan.

Tiada nikmat yang berarti bagi kami selain nikmat persaudaraan dan kebersamaan. dan tiada laknat yang lebih besar selain perpecahan dan permusuhan. Ya Allah perkenankanlah permohonan kami’. Amin Ya Rabbal Alamin.

*Pemerhati Pendidikan, Sosial-Keagamaan

Comments

comments