Idul Fitri : Filosofi Terminologi Minal Aidin Wal Faizin

oleh

Oleh : Dr Hamdan MA*

Ketika munculnya hilal bulan Syawal ada perasaan sedih namun dimana-mana kaum muslimin menggemakan takbir, takbir adalah salah ungkapan rasa syukur yang dirasakan oleh umat muslimin, rasa syukur tersebut diwujutkan dalam bentuk mengagungkan Allah,dalam bentuk pujian, mensucikan-Nya,rasa syukur tersebut disebabkan bisa melaksanakan perintah Allah “hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuknya,yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur (Albaqarah:185).

Perjuangan yang ditempuh oleh kaum muslimin dalam bulan Ramadhan, dengan melakukan puasa dan berbagai amalan yang lainnya akhirnya telah berakhir dengan munculnya bulan Syawal.

Bulan Syawal adalah urutan ke sembilan dalam bulan penanggalan Hijri,Syawal menurut banyak ‘ulama berasal dari kata syalat al-Ibilu yang maknanya adalah onta yang menegakkan dan mengangkat bekornya.

Hal tersebut disebabkan oleh orang Arab pada masa dahulu menggantungkan alat-alat perang mereka disebabkan oleh akan mendekatnya bulan haram(bulan yang dihormati) yang diharamkan berperang pada bulan tersebut;namun ada juga yang menjelaskan bahwa asal dari kata tersebut adalah syalat annaaqatu bizambiha yang maknanya adalah onta betina menaikkan ekornya,ini disebabkan oleh onta betina menaikkan ekornya disebabkan oleh rasa enggan didekati oleh onta jantan;

Dari pemahaman kata Syawal’’ menaikkan’’dimana onta menaikkan ekornya,banyak yang mengambil pemahaman bahwa bulan syawal adalah bulan peningkatan,ini disebabkan motivasi yang banyak disampaikan para mubaligh dan juga da’i bahwasanya bulan Syawal adalah bulan peningkatan kembali terhadap apa yang didapatkan pada bulan Ramadhan.

Namun apapun kata yang menjadi asal kata dari bulan Syawal tersebut,dengan munculnya hilal bulan Syawal itu berarti perjuangan kaum muslimin di dalam bulan Ramadhan untuk melaksanakan puasa wajib,sudah berakhir sehingga moment bulan Syawal adalah moment kaum muslimin bergembira dikarenakan sudah diizinkan untuk berbuka pada waktu siang hari selama bulan Syawal.

Hari Raya idul fitri yang dilaksanakan kaum muslimin pada moment bulan syawal,pada kaum muslimin di negara kita banyak yang menyebutnya sebagai lebaran, sebagian pemikir mengatakan kata tersebut berasal dari kata kata wisbar yang artinya adalah sudah selesal,konon menurut pakar sejarah menjelaskan pada dasarnya kata lebaran bukan berasal dari kata bahasa Arab, kata lebaran diartikan dengan usai, selesai, berakhir; konon ungkapan lebaran diperkenalkan oleh para Wali Songo di tanah Jawa,dalam kamus bahasa Indonesia dijelaskan bahwa lebaran adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal satu Syawal setelah melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan.

Hari raya fitri yang dalam bahasa Arabnya adalah idul fitri,kata id banyak yang menjelaskan bahwasanya kata tersebut berasal dari kata ‘aada yang artinya kembali ini disebabkan oleh pemahaman sebagian ulama bahwa tersebut merupakan satu ungkapan telah kembali nya orang yang melaksanakan puasa kepada fitrah (asal mula kejadiannya), namun banyak juga yang menjelaskan bahwasanya kata tersebut berasal dari kata adat yang maknanya adalah kebiasaan, disebabkan hari raya tersebut sudah menjadi tradisi kebiasaan masyarakat muslim.

Sedangkan makna dari fithri yang lumrah dimaknai dengan fitrah yang mempunyai akar kata dengan fitri yang diartikan sebagian sebagai suci, bersih dari segala dosa, sehingga sebagian ulama memaknai sebagai hari dimana seorang yang telah melakukan puasa kembali kepada fithrahnya; ini disebabkan bahwa pada hari raya bulan Syawal adalah orang yang melakukan puasa pada bulan Ramadhan telah kembali kepada kesuciannya,ini berdasarkan beberapa Sumber pendapat tersebut.

Misalnya, Rasulullah menjelaskan bahwa” barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan, dengan didasari oleh iman dan semata-mata karena mengharap ridha Allah maka diampuni dosanya yang telah lalu”sehingga ketika orang yang melakukan puasa dengan meninggalkan dosa besar kemudian mampu melakasanakan kebaikan dengan melakukan puasa dan amalan yang dianjurkan maka dia telah mampu kembali kepada fithrah(asal kejadiannya).

Namun sebagian memahami dan tidak setuju dengan pemikiran bahwasanya ‘idul fitri dimakna dengan sudah kembali kepada fitrah ini disebabkan oleh beragam pemikiran.

Berdasarkan beberapa reperensi menjelaskan bahwa hari raya disebut dengan kata ‘id disebabkan oleh karena berulang setiap tahun dengan kegembiraan yang baru, sedangkan kata fitri dinamai dengan kata tersebut disebabkan oleh yang dimaksud fitri bukanlah fitrah ini disebabkan karena ungkapan fitri dengan fitrah adalah sesuatu yang berbeda.

Makna yang cocok untuk ‘idul fitri kata sebagian ulama adalah moment untuk kembali untuk berbuka, ini karena kata fitri lebih cocok dimaknai dengan berbuka seperti hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Hibban dari Sahabat Abu hurairah yang menjelaskan bahwa Rasulullah bersabda “Agama Islam akan senatiasa menang, selama masyarakat (Islam) menyegerakan berbuka) karena orang yahudi dan Nasrani mengakhirkan waktu berbuka”.

Ataupun dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi dan Abu Daud dari Abu Hurairah Rasulullah menjelaskan, hari mulai berpuasa adalah hari dimana kalian semua berpuasa. Hari berbuka (hari Raya 1 Syawal) adalah hari dimana kalian semua berbuka.

Terlepas dari ketidak setujuan menyangkut tentang memanai idul fitri dengan kembali kepada fitrah ada beberapa yang penting untuk penulis tekankan menyangkut idul fitri;pertama:setelah melakukan suatu amalan ibadah ada satu sikap hal yang mesti dipahami oleh setiap yang melakukannya.

Kendadatipun senang dengan telah melakukan amalan ibadah tersebut,namun ada perasaan khauf dan thama’. Khauf adalah satu perasanan yang harus dimiliki oleh seorang muslim.

Khauf yang dimaksud disini adalah ada kekhawatiran yang dimiliki bahwa amalan yang dilakukan bahwa amalan tersebut tidak diterima oleh Allah dan juga thama’ satu perasaan dimana sangat berharap kepada Allah menerima amal kebaikannya,dalam Q.S.Al-BaqArah:127.

Allah menjelaskan tentang nabi Ibrahim dan anak beliu nabi Ismail yang berdoa kepada Allah ketika membangun baitullah agar menerima amal ibadah mereka untuk mereka,Allah berpirman” ya Allah terimalah amal ibadah dari kami ; penyerahan dengan doa yang dilantunkan seperti itu sangat bagus untuk diamalkan seorang muslim agar ibadah yang dilakukan tidak menimbulkan kesombongan bahwa amalan tersebut adalah murni karena Allah dan murni karena untuk Allah.

Begitu juga dengan kita yang telah melakukan puasa Ramadhan dan amalan yang lainnya dibulan Ramadhan agar berdoa dengan penuh harap dan takut agar ibadah yang kita lakukan pada bulan Ramadhan dapat diterima oleh Allah.

Kedua, setiap hari raya idul fitri sudah menjadi kebiasaan umat mengucapkan ungkapan minal Aidin wa faiiziin. Kata tersebut kendatipun merupakan ungkapan khas negara kita namun merupakan mempunyai makna yang mendalam dan filosofinya diambil dari syariat,kunci dari Kata tersebut aidin dan faizin;kata aidin adalah kata yang dimaknai dengan orang-orang yang telah kembali.

Itu merupakan ungkapan yang ditujukan kepada orang yang telah melakukan puasa Ramadhan dengan segala amalan kebaikan yang di dalamnya, kemudian dengan moment 1Syawal ditamsilkan sebagai orang yang telah kembali kepada fitrahnya.

Kata faizin adalah kata plural dari isim fail dari kata-kata faaza-yaafuzu-fauzan-faizun, yang diterjemahkan sebagai kata menang, ini merupakan sebagai sifat bagi orang yang telah melakukan puasa dengan baik kemudian dari hasil ibadah yang dilakukan tersebut mendapatkan kedudukan ‘aidin yaitu orang yang kembali dan mendapatkan kedudukan orang-orang yang mendapatkan kemenangan.

Namun terkait dengan orang yang berhari raya mengucapkan kata tersebut haruslah dipahami oleh setiap orang yang melakukan puasa,bahwasanya kata minal aidin wal faiizin bisa mempunyai dua makna, yaitu makna yang pertama sebagai doa, dalam arti orang yang mengucapkannya berdoa kepada Allah agar dimasukan kedalam kelompok orang benar-benar kembali kepada kebaikan dan mendapatkan kemenangan.

Makna yang pertama ini yang dimaksudkan ataupun orang yang mengucapkan kata minal aidin wal faizin mengakui bahwa telah termasuk orang yang telah bisa dan mampu kembali kepada kebaikan dan termasuk kepada orang yang beruntung,ini adalah sesuatu yang keliru.

Minal aidin walfaizin jika dimaksudkan adalah satu harapan sambil memohon kepada Allah agar dimasukkan kedalam golongan orang yang kembali kepada kebaikan dan fitrah.

Maka hal tersebut adalah sesuatu yang dapat dimaklumi namun jika kalimat tersebut adalah satu jastifikasi bahwa orang tesebut mengakui bahwa dia merupakan sosok yang telah benar-benar kembali kepada fitrah dan juga sudah mengakui sebagai orang yang masuk golongan yang beruntung tanpa ada perasaan khauf, thama’ dan juga berdoa kepada Allah agar amalan kebaikannya diterima hal tersebut adalah satu bentuk kesombongan baru yang seharusnya hilang dalam perjuangan bulan Ramadhan.

*Penulis adalah Dosen IAIN Takengon

Comments

comments