Stop Diburu, Burung Pleci Spesies Penting Dalam Ekosistem Kopi Arabika Gayo

oleh
Burung Sesir (Pleci) Gencar Diburu di Gayo. (Int)

Oleh : Said Fauzan Baabud*

Apresiasi yang tinggi perlu kita sampaikan atas kinerja professional Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wilayah Sumatera, tepatnya Seksi Wilayah I Medan, yang telah berhasil menggagalkan penyuludupan sebanyak 1.266 burung Pleci dari Takengon menuju Medan via bus umum yang dibungkus dalam 30 kardus.

Burung Pleci atau lazim disebut dengan Burung Kacamata Biasa (Zosterops palpebrosus) adalah jenis burung kecil yang lazim ditemukan di pulau Sumatra dan pulau-pulau lain di Indonesia. Dalam Bahasa Inggris burung ini disebut dengan Oriental White-eye. Burung ini juga merupakan spesies yang sangat sering di temukan di kebun-kebun kopi di dataran tinggi Gayo.

Hasil survey keanekaragaman burung di perkebunan kopi yang hampir rampung dilaksanakan oleh Yayasan Leuser Internasional (YLI) menemukan bahwa burung Pleci adalah jenis burung yang ditemukan hampir di seluruh titik pengamatan di wilayah survey Kabupaten Bener Meriah. Dari 12 titik pengamatan, species Pleci ditemukan di 11 titik, demikian disampaikan Ketua Pengurus YLI, Said Fauzan Baabud.

Survei yang melibatkan komunitas Aceh Birder dan Lembaga Pusat Kajian Satwa Liar (PKSL) Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala menentukan 12 titik pengamatan yang berada dalam zona ketinggian dari 500 m s.d. 1800 meter di atas permukaan laut.

Pengambilan data burung dilakukan dengan metode titik hitung pada transek sepanjang 1 km. Pada tiap desa, ada 2 transek pengamatan, yaitu Transek I yaitu pengamatan pada pukul 06.00 – 10.00 WIB dan Transek II pada pukul 15.00 – 18.00 WIB, ujar Agus Nurza selaku Koordinator dalam survei burung ini.

Banyak ahli telah menyimpulkan bahwa burung sangat berperan dalam suatu ekosistem, diantaranya sebagai pemangsa dan pengontrol serangga, membantu penyerbukan dan berfungsi sebagai indikator perkebunan yang ramah lingkungan.

Khusus untuk dataran tinggi Gayo, fenomena meningkatnya populasi ulat bulu, faktor hayatinya disebabkan berkurangnya pemangsa alaminya, yang salah satunya adalah burung dimana populasinya semakin tergerus akibat perburuan dan perdagangan. Obervasi lapangan oleh YLI juga menemukan bahwa jenis burung Pleci banyak dicari untuk diperlombakan sebagai burung kicau.

Bila tindakan ini terus dibiarkan, dapat dipastikan secara langsung atau tidak akan berpengaruh kepada ekositem produksi dan keunikan citarasa kopi arabika Gayo.

Ancaman terhadap keberadaan seluruh species burung perlu dihentikan agar kebun kopi di Tanoh Gayo diperhitungkan sebagai kebun kopi ramah burung yang sertifikasinya (Bird Friendly Coffee Certification) sudah diberlakukan di dunia dan permintaan akan kopi bersertifikasi ini terus meningkat.

*Ketua Pengurus Yayasan Leuser International

Comments

comments