Musibah Ganda, Banjir Dalam Suasana Covid-19

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Dulu, bencana banjir di Aceh adalah siklus enam tahunan. Pada tahun 2000 di saat konflik RI-GAM sebahagian besar wilayah Aceh pernah dikepung banjir.

Enam tahun kemudian 2006 masih belum pulih trauma akibat gempa bumi dan tsunami, datang lagi banjir. Seolah musibah ganda telah melekat pada orang Aceh.

Pada waktu itu, Aceh Tamiang merupakan wilayah terparah oleh banjir. Bukan sekedar genangan tetapi juga air bah yang membawa balok-balok kayu yang masih utuh maupun yang sudah menjadi bahan.

Begitu banyaknya kayu di Sungai Tamiang, sehingga Pemerintah Aceh perlu men-tender-kan pembersihan kayu-kayu itu.

Kita sadar bahwa penyebab banjir adalah curah hujan yang tinggi, luas tutupan hutan yang semakin berkurang, tidak adanya drainase yang memadai di daerah pemukiman, tata kota yang berantakan, prilaku buruk membuang sampah sembarangan dan membangun rumah besar pada lorong jalan yang sempit.

Di Aceh Tamiang secara kasat mata kita melihat tumpukan balok kayu menggunung terseret oleh banjir bandang. Bermakna ada penebangan di hulu yang membabi buta terhadap hutan lindung atau tepatnya Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

Menyadari peristiwa, Pemerintah Aceh pada waktu itu melalui BPKEL sebagai badan pemerintah non struktural melakukan penyitaan terhadap kebun-kebun sawit ilegal yang masuk dalam KEL dan menebangnya sedikitnya 3 ribu hektar.

Hasilnya setidaknya untuk Kabupaten Aceh Tamiang tidak ada lagi banjir besar karena hutan dataran rendahnya sudah mulai tumbuh kembali dan memutus mata rantai banjir siklus enam tahunan.

Banjir genangan di Aceh Besar dan Kota Banda Aceh dalam dua hari ini penyebab utamanya, di samping curah hujan yang tinggi, juga tata kota yang tidak terencana dengan baik dan hilangnya tutupan hutan dataran rendah untuk pembangunan pemukiman dan perkebunan.

Begitu penting melestarikan hutan dataran rendah dalam mengatasi banjir. Di Aceh, kini hutan dataran rendah terakhir adalah Samarkilang yang kaya akan keanekaragaman hayati. Kalau hutan itu hancur maka pantai utara dan timur Aceh akan menjadi langganan banjir. Siklusnya tidak hanya tahunan, tetapi tidak menutup kemungkinan bulanan. Tentu saja akibat lanjutnya penduduk Aceh tidak pernah berhenti dirundung musibah ganda.

(Mendale, 9 Mei 2020)

Comments

comments