Khusus Petani Kopi Aceh Tengah : Ingin Jual “Sementara” Kopi ke Resi Gudang? Ini Syaratnya

oleh
Rahmah (kanan)

TAKENGON-LintasGAYO.co : Di tengah krisis pandemi Covid-19 yang mengganggu perrkonomian dunia, salah satu komoditi ekspor andalan Dataran Tinggi Gayo, yakni kopi juga turut berdampak.

Kopi yang menjadi urat nadi perekonomian di Gayo, kini seakan lesu. Harga anjlok, dan banyak toke pengumpul yang menyetop pembelian dari petani.

Melihat kondisi ini, sistem Resi Gudang menjadi satu-satunya solusi yang bisa menyelamatkan ekonomi petani kopi.

Pengelola resi gudang di Aceh Tengah, Rahmah Ketiara, Kamis 9 April 2020, pihaknya sejak beberapa waktu lalu telah menerima pembelian sementara (titip) kopi lewat sistem resi gudang.

“Mungkin banyak yang belum tahu, bagaimana caranya menjual sementara (titip) kopi ke resi gudang. Untuk itu, lewat media ini ingin kami sampaikan kepada seluruh petani di Aceh Tengah,” kata Rahmah.

“Ingat, ini khusus untuk petani di Aceh Tengah, untuk Bener Meriah, sudah ada resi gudang sendiri,” tambahnya.

Menurut Rahmah, saat ini sudah banyak petani yang menjual untuk sementara waktu kopinya ke resi gudang Aceh Tengah. Dengan catatan, petani harus terlebih dahulu membentuk kelompok tani.

“Kemarin ada yang titip kopi ke kita, dia petani dan belum memiliki kelompok tani. Maka kopinya tidak kita terima, karena sistem resi gudang ada beberapa persyaratan yang harus terlebih dahulu di lengkapi. Dan itu syaratnya langsung dari Bappebti dan pihak BRI,” terangnya.

Ditanya harga kopi yang diterima resi gudang saat ini, Rahmah menjelaskan pihaknya membeli dengan harga lokal yakni Rp. 55 ribu rupiah, untuk kopi yang ready ekspor.

“Jadi tidak boleh gabahnya dijual, harus diolah dulu, sampai dia ready ekspor,” terangnya.

Berikut sarat masuk kopi ke Resi Gudang :

  1. Petani membuat kelompok tani
  2. Memilih ketua kelompok, sekretaris dan bendahara yang memiliki NPWP
  3. Kelompok tani disahkan oleh dinas Perdagangan setempat
  4. Kelompok tani membawa sampel ke PT. Ketiara dengan kadar air 13.5 dan trase 8
  5. Uji mutu di lakukan oleh lab PT. Ketiara
  6. Kelompok tersebut baru membawa kopinya ke resi gudang
  7. Mengansuransikan kopi kelompok tersebut ke pihak asuransi Jasindo
  8. Pihak administrasi menginput data data kelompok tani ke aplikasi Isware untuk penerbitan Sertifikat Resi Gudang
  9. Sertifikat Resi Gudang diajukan ke pihak Bank (Bank BRI) untuk pencairan.
  10. Pencairan sebesar 70 % dari nilai barang dan pencairan di wakili oleh ketua kelompok tani dan bendahara.

Rahmah mengatakan, jika masih ada yang kurang dipahami pihaknya mempersilahkan datang langsung ke Resi Gudang Aceh Tengah di jalan elak Paya Ilang, Takengon.

Rahmah menekankan, sistem resi gudang bukan berarti petani menjual langsung kopinya.

“Namanya sistem resi, ya saat harga anjlok seperti saat ini, maka petani sementara waktu bisa menitipkan kopi disini dengan persyaratan-persyaratan yang sudah disebutkan nanti,” terang Rahmah.

“Petani akan menerima uang 70 persen dari harga barang, nanti setelah krisis ini usai, petani bisa mengambil barangnya kembali dan mengembalikan uang 70 persen yang sudah diterima di awal, ditambah bunga 6 persen,” tambahnya.

“Mungkin untuk bunga, kita anjurkan pemerintah daerah yang bayarkan, sehingga pada saat mengambil barang, petani cukup membayarkan uang yang sudah diambil diawal sebesar 70 persen dari harga,” timpalnya.

[Darmawan]

Comments

comments