Corona, Pembuka Gerbang Tatanan Dunia Baru?

oleh
Win Wan Nur

Oleh : Win Wan Nur

Kita, yang sekarang hidup dan berperan dalam bagian terbesar seluruh gerak dinamis peradaban planet bumi pada hari ini adalah generasi yang paling beruntung dalam sejarah.

Tidak seperti kakek-nenek kita dan generasi sebelum mereka, generasi kita, bahkan generasi orangtua kita adalah generasi yang tak pernah mengalami perang besar berskala gobal dan juga tak pernah mengalami depresi ekonomi skala global yang saking tak tertahankannya, akhirnya melahirkan perang dunia. Kemajuan teknologi transportasi dan pertanian membuat kelaparan biologis nyaris tak kita kenal lagi.

Begitu nyaman hidup kita, sehingga mungkin hanya pada generasi kita inilah di dunia ini jumlah laki-laki jadi lebih banyak dari perempuan. Surplus laki-laki juga tidak tanggung-tanggung, lebih dari 60 juta orang. Lebih dari dua kali jumlah penduduk Malaysia.

Situasi seperti ini hanya mungkin terjadi ketika di dunia tidak ada perang dalam skala global. Hal seperti ini tidak akan mungkin terjadi dalam suasana perang. Sebagai gambaran, pada perang dunia pertama, yang terjadi antara 1914 -1918, Prancis dan Jerman masing-masing kehilangan 80% populasi laki-laki yang berumur antara 15 sampai 49 tahun.

Bandingkan dengan situasi saat ini, ketika kecelakaan lalu lintas jauh lebih banyak merenggut nyawa dibandingkan perang, terorisme dan pembunuhan sekaligus digabungkan. Kematian akibat, jantung, diabetes dan berbagai penyakit yang diakibatkan oleh obesitas alias kelebihan berat badan, jauh lebih tinggi dibandingkan kematian akibat kelaparan.

Tahun 1997, Jared Diamond, profesor geografi dan fisiologi di Universitas California, Los Angeles menulis Guns, Germs, and Steel: The Fates of Human Societies. Di buku yang memenangkan Pulitzer 1998 untuk kategori non fiksi ini, Profesor Diamond mengatakan; selain perang, GERMS alias kuman adalah pembunuh lain yang sangat berpengaruh dalam mereduksi populasi manusia.

Dari awal kuman ini berjangkit, selalu munculnya dari binatang lalu menjangkiti manusia. Penyakit-penyakit pembunuh massal tersebut adalah cacar, cacar air, TBC, batuk rejan, flu, dan malaria.
Kuman terbukti menjadi pembunuh yang lebih sukses ketimbang senjata. Sebanyak 50% populasi penduduk Aztec tewas akibat wabah cacar yang dibawa orang Spanyol di tahun 1520. Pada tahun 1618, populasinya tinggal 1.6 juta dari semula 20 juta.

Cacar ini pula yang dulu pada awal abad ke-20 yang membunuh banyak orang Gayo. Kakek nenek kita dulu menyebutnya penyakit Ta’un.

Terkait kuman ini, lagi-lagi, generasi kita adalah generasi yang beruntung. Dalam kurun waktu 75 tahun terakhir, sejak perang besar terakhir berlalu. Sebenarnya, begitu banyak jenis kuman yang berpotensi menghabisi separuh populasi dunia telah menyerang kita. Tapi, kemajuan teknologi, keberhasilan vaksinisasi, menghindarkan kita dari bencana berskala global.

Tapi sebagaimana galibnya dunia, segala yang bermula ada akhirnya. Tampaknya begitu juga dengan kenyamanan yang kita nikmati selama 75 tahun belakangan ini.

Akhir 2019 kemarin, sejenis influenza yang tidak dikenal sebelumnya muncul di Cina. Influenza mematikan ini belakangan kita kenal sebagai virus Corona varian Covid-19, mengacu pada tahun kemunculannya.

Kemudian, sebagaimana telah kita ketahui bersama, kuman ini kemudian berubah menjadi terror yang memaksa seluruh dunia memfokuskan pertahanan diri terhadap virus ini dengan mengabaikan segala macam urusan, mulai dari pendidikan, ekonomi bahkan ibadah.

Pada zaman dahulu, kuman penyakit banyak berkembang di Eurasia yang dihubungkan oleh perdagangan dan perang berfungsi sebagai sebuah rumah besar bagi berbagai kuman epidemik. Populasi yang terjangkit kuman epidemik akan secara genetis mengembangkan kekebalan alami. Peradaban lain yang tidak pernah mengembangkan populasi dalam jumlah besar tidak mepunyai antibodi ini. Dan bila terjadi kontak antara kedua peradaban, yang terjadi adalah perang biologi alami, yang dahsyatnya melebihi perang konvensional di waktu itu. Inilah yang menyebabkan populasi Aztec lenyap separuhnya.

Sekarang, situasinya jauh lebih rumit. Jarak di bumi seolah sudah tidak ada. Orang berpindah sedemikian dinamis. Hanya dalam hitungan hari, kuman yang tadinya di Cina ini telah menyebar dan menjadi terror di seluruh dunia. Nyaris tak ada lagi negara di dunia yang memikirkan hal lain di luar Corona.

Sebelum serangan Corona ini, melihat perkembangan ekonomi dunia dari tahun ke tahun, ekonom sudah memperingatkan tentang bahaya resesi di tahun 2020 ini. Tapi tak seorangpun saat itu membayangkan akan adanya wabah Corona, yang bukan hanya membenarkan prediksi sang ekonom, tapi sekaligus membawa kerusakan besar dalam skala yang tak pernah terbayangkan siapapun di pertengahan bahkan akhir 2019 silam.

Sebagai gambaran, dalam beberapa minggu terakhir, pasar modal di seluruh dunia sudah terkoreksi sekitar USD 25 triliun atau 400 ribu triliun kalau dirupiahkan. Dan gawatnya, alih-alih akan berakhir, dengan jatuhnya Prancis dan Jerman, tanda-tanda yang ada sama sekali tak menunjukkan pembalikan. Yang ada, tanda-tanda kalau ekonomi dunia akan terpuruk semakin dalam.

Hidup nyaman selama nyaris tiga generasi membuat kita benar-benar tidak siap menghadapi virus ini. Di seluruh dunia, kecuali Cina, orang-orang sibuk memaki pemerintahnya. Di Amerika Trump dicaci maki, di Prancis Macron dituntut warganya karena dianggap terlalu lambat mengambil tindakan, di Italia, kita tahu sendiri, di Bolivia, polisi dikejar warga karena memerintahkan warga tinggal di rumah tapi Negara tak memberi mereka makanan. Indonesia? Tak perlu kita pertanyakan lagi.

Seluruh dunia kebingungan, Cina mungkin berhasil menang di Wuhan. Tapi kalau di tempat lain di seluruh dunia, Corona masih merajalela, kemenangan mereka menjadi sia-sia, karena virus dari tempat lain akan tetap bisa masuk ke Cina kapan saja. Sebagaimana beberapa hari yang lalu mereka beritakan, mereka kembali menemukan orang yang terinfeksi Corona setelah kembali dari Indonesia.

Seperti apakah nanti akhir dari badai Corona ini? Tak seorangpun yang tahu. Tapi melihat skalanya dan ketakutan massal yang disebabkannya. Arah-arahnya, virus ini akan membawa dunia ke tatanan yang baru, baik itu politik maupun ekonomi.

Ketika dunia sudah menyatu seperti ini, tak mungkin lagi virus ini dilawan secara parsial negara per negara. Indikasi akan adanya perubahan tata dunia ini sudah terlihat kemarin, Sekjen PBB, Antonio Guiterrez menyerukan gencatan senjata di seluruh dunia, meminta Amerika mencabut sanksinya atas Iran dan Cuba supaya semua bisa fokus melawan Corona.

Seperti apakah nantinya tatanan dunia baru pasca Corona? Tidak seorangpun yang tahu.

Yang terpenting saat ini adalah bagaimana kita bisa bertahan melewati badai ini. Karena tak ada obat dan vaksin yang telah teruji, satu-satunya cara kita untuk bertahan adalah dengan meminimalisir penyebaran. Kurangi kontak dengan sesame kita, karena kita sama sekali tidak tahu siapa yang sudah tertular. Mudah-mudahan dengan begitu nanti, kita akan tetap hidup melewati badai ini.

Apakah akan ada tatanan dunia baru? Dan kalau ada seperti apa nantinya tatanan dunia baru pasca Corona? Kalau kita masih hidup. Itu akan sama-sama kita saksikan nanti.

Comments

comments