Terapi Diri dengan Menulis

oleh

Catatan : Husaini Muzakir Algayoni*

“Terapi diri (self-healing) dengan menulis karena pernah terpuruk dalam perjalanan hidup.” -Husaini Algayoni-

Menulis adalah aktivitas manusia yang membutuhkan pemikiran rasional (logis, sistematis, dan radik) dalam menyusun kata yang berasal dari suara hati dan pikiran dengan tujuan mengungkapkan kegelisahan dan unek-unek lewat bahasa tulisan. Menulis itu seni dalam mengolah kata, memilih diksi yang tepat, dan memikirkan kata untuk bisa menghasilkan makna.

Kegelisahan hati dan pikiran diungkapkan lewat tulisan membutuhkan ruang dan waktu yang tepat sesuai dengan keadaan psikologis sang penulis, misalnya saja menulis dalam keadaan sunyi di malam hari, di awal hari/pagi saat-saat pikiran masih segar, menyediakan secangkir kopi untuk menemani aktivitas menulis, dan lain-lain.

Aktivitas menulis bisa menggerakkan pikiran manusia untuk berpikir dan mencurahkan isi hati yang terpendam, self-disclosure (mencurahkan isi hati) dengan tulisan merupakan sebuah pengakuan diri, orang menulis perasaan dan pemikiran mereka yang terdalam, tetapi mereka tidak mau membuka sisi pribadi mereka kepada orang-orang yang mereka temui setiap hari. (James W. Pennebaker: 2002).

Aktivitas menulis bagi sebagian orang ada sebagai hobi, menyampaikan informasi, dan lain sebagainya. Banyak alasan ketika seseorang melakukan aktivitas menulis sesuai dengan filosofinya sendiri. Jika ditanyakan kepada penulis, untuk apa menulis? Maka penulis menjawab untuk self-healing.

Terapi diri (self-healing) dari hiruk pikuk kehidupan yang penuh pilu dan kesedihan, pernah terpuruk dalam perjalanan cinta dan cita-cita hingga benar-benar jatuh ke dalam jurang yang menyesakkan hati. Berada dalam keterpurukan membuat tidak bahagia dan hampir saja menjadi musyahid.

Namun, kisah perjalanan hidup masih panjang selama Allah Swt masih memberi waktu untuk bernafas dan masih ada orang-orang yang mencintai (keluarga) di kampung halaman.

Maka dari itu, dalam perantauan mau tidak mau harus bangkit dari keterpurukan.
Tidaklah mudah bangkit dari keterpurukan. Jika Qays (Majnun) pergi ke rimba belantara hingga menjadi raja hutan, syair-syair cinta ia dendangkan kepada pujaan hatinya Layla, maka penulis menyusuri lorong-lorong waktu dengan tetesan keringat dan air mata bagaikan minum air saat dahaga.

Mengisi lorong waktu dengan membaca dan menulis membuat semangat kembali pulih dan gairah dan hari-hari pun dijalani dengan tetesan air tinta yang sebelumnya dengan tetesan air mata. Menulis terlebih dahulu dengan asupan-asupan gizi berupa bahan bacaan yang bisa menggerakkan pikiran.

Menggoreskan pena di kedalaman malam, sunyi sepi mengalirkan kata, dari suara hati ke secarik kertas untuk mengabarkan sayap patah dan membasuh pilu. Kata-kata yang diterbangkan oleh angin malam bukanlah untuk kepekatan malam. Namun, kepada siapa yang sedang menikmati malam.

Senyum dalam kesedihan, sepi dalam keramaian, dan tawa dalam tangisan mencurahkan perasaan lewat goresan pena yang dituangkan ke secarik kertas untuk bisa membawa kebahagiaan dan kepuasan batin dalam mengeluarkan unek-unek yang terpendam dalam perasaan dan pikiran.

Berada dalam keterpurukan membuat jiwa seseorang tergoncang, bisa saja karena hilangnya cinta, seperti halnya dialami BJ Habibie, cintanya kepada Ainun sangatlah kuat, kekuatan cinta berpisah dengan kematian sehingga pasca kepergian separuh jiwanya, BJ Habibie terperangkap dalam samudera emosional yang amat bergejolak, sewaktu-waktu dapat menghisap ke pusaran yang amat deras dan ganas.

Prof. Dr. Mathay dari Hamburg dalam novel Habibie dan Ainun menyebutkan bahwa “BJ Habibie sebagai “black hole”, yaitu suatu kondisi “psikosomatic malignan”, di mana gangguan emosional berdampak negatif pada sistem organ vital manusia, sehingga menjadikan seseorang yang ditinggalkan pasangannya jatuh sakit yang progresif.

Tim dokter memberi alternatif kepada BJ Habibie untuk mencegah jatuh pada hisapan black hole tersebut, salah satu alternatif ialah melakukan kegiatan yang melibatkan secara intensif pikiran maupun emosional, yaitu dengan menulis.

Terapi diri (self-healing) dilakukan BJ Habibie dengan menulis maka terbitlah novel Habibie dan Ainun, kisah cinta dari seorang pecinta sejati, kesetiaan dalam menggenggam cinta, kekuatan cinta dan perjuangan hidup membuat Habibie dan Ainun menjadi inspirasi bagi generasi muda.

Demikian catatan singkat ini ditulis untuk memberikan informasi kepada pemburu informasi. Namun, menulis bukan hanya sekedar menggarami lautan informasi dengan informasi, dengan harapan sebuah tulisan bisa memberi setitik cahaya bagaikan cahaya lilin di tengah kegelapan.

Terapi diri dengan menulis yang dilanda keterpurukan atau yang sedang dilanda kegalauan, kegelisahan, jiwa yang tergoncang oleh hiruk-pikuk kisah kehidupan maka menulis bagaikan obat untuk menyembuhkannya.

Umar Khayam mengatakan “Menulis, bergerak menurut kata hati.” Oleh karena itu, tuangkanlah segala yang ada dalam hati lewat tulisan. Begitu juga dengan penulis novel ternama J.K. Rowling, mengatakan “Tuliskanlah hal-hal yang kamu ketahui; tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri.” Nah!

*Penulis, Kolumnis LintasGAYO.co. Mahasiswa Prodi Ilmu Agama Islam (Konsentrasi Pemikiran Dalam Islam) Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Comments

comments