Berburu Kearifan Lokal di Pedalaman Lesten Pining, Pemburu Tangkap Kijang Hidup-Hidup

oleh
Berburu Kebiasaan Masyarakat Lesten Tangkap Kijang Hidup-Hidup. [Ismail]

Oleh : Ismail Baihaqi*

Keberadaaan hutan alam yang masih asri, dimanfaatkan masyarakat di Pedalaman Gayo Lues memanfaatkan hasilnya tanpa merusak. Sebuah kearifan lokal yang masih terjaga secara turun temurun. Adalah masyarakat Pining yang berusaha keras menjaga kelestarian alamnya dari ekploitasi kerusakan.

Mereka sadar akan bencana. Betapa tidak, daerah Pining pernah dilanda banjir bandang dahsyat beberapa tahun silam. Belajar dari alam itu, masyarakatnya kini sadar akan pentingnya menjaga hutan dan alam. Kesadaran itu terus berlanjut, hingga masyarakat di Pedalaman Gayo itu masih bisa menikmati hasil alam yang masih tersedia.

Salah satunya kearifan lokal yang terus dipertahankan masyarakat sekitar adalah dalam hal berburu. Seperti yang terlihat di pedalaman Lesten beberapa waktu lalu.

Ketersediaan hewan berupa kijang, rusa dan kambing hutan serta hewan-hewan lainnya, menjadikan masyarakat setempat bisa selalu berinteraksi dengan alam bebasnya.

Tak ayal, para pemburu di pedalaman itu bisa menangkap Kijang dalam kondisi hidup. Hal ini sangat jarang terjadi dalam dunia perburuan. Biasanya hewan yang diburu, terlebih dahulu dilukai dengan menggunakan peralatan berburunya. Namun, yang terlihat di Lesten tak demikian.

Para pemburu tampak senang memamerkan hasil buruannya dalam keadaan sehat wal afiat. Tentu diperlukan keahlian khusus dalam melakukannya.

Berburu dalam bahasa Gayo dikenal dengan sebutan Mungaro. Polanya pun masih sangat sederhana menggunakan anjing sebagai pengintai hewan yang akan diburu serta dengan peralatan tombak dan parang.

Dalam berburu, pemburu di Lesten biasanya membagi tugas. Biasanya tugas ini dikomandoi oleh seorang pawang. Pembagian tugas yang telah disusun rapi oleh sang Pawang harus diikuti oleh semua pemburu. Ada yang bertugas mencari hewan buruan jauh ke tengah hutan dan ada juga yang menjaga di pinggir sungai.

Kebiasaan hewan buruan seperti Kijang minsalnya, mereka akan selalu mencari air saat tengah terdesak oleh anjing-anjing yang dilepas para pemburu jauh di dalam hutan. Biasanya, para Kijang tersebut membutuhkan banyak air setelah terkuras tenaganya.

Nah disinilah, tugas pemburu yang stand by di sungai menangkap Kijang hidup-hidup. Biasanya mereka akan melumpuhkan kaki Kijang yang diburu agar tak lagi kuat berlari. Namun, kondisi ini harus dengan cepat, jika lengah sedikit dan kebutuhan air sang Kijang terpenuhi setelah minum di sungai, jangan harap Kijang itu dapat ditangkap. Ia akan lari sangat kencang karena tenaganya telah kembali.

Setelah ditangkap, hewan buruan biasanya dipamerkan dan tak lama berselang akan disembelih oleh sang Pawang. Kemudian pembagian daging hewan buruan, dibagi rata. Sang Pawang biasanya mendapatkan jatah lebih dibagian kepala dan hati.

Walau berburu masih menjadi kearifan lokal yang terus dilakoni, masyarakat Kecamatan Pining, Gayo Lues ini masih saja khawatir akan terjadinya kerusakan alam. Sebisa mungkin mereka menjaga hutannya, namun kerusakan yang disebabkan oleh alih fungsi lahan dan illegal loging yang dilakukan oleh pihak tak bertanggung jawab.

Mereka ingin hutannya tetap asri, agar kelak masih dapat dinikmati anak cucu mereka. Ditengah deru kerusakan yang lambat laun semakin kentara terjadi, diperlukan sebuah regulasi dengan cara menyerahkan hutan ke masyarakat sekitar. Biarlah masyarakat setempat yang mengelola hutan adatnya dari deru kerusakan yang semakin lama semakin berbahaya. Segala bentuk bencana dapat saja terjadi jika keseimbangan alam ini terganggu.

Biarlah masyarakat Pining mengelola hutan adatnya. Mereka pasti paham bagaimana menjaganya begitu juga dengan flora dan fauna yang masih hidup di hutan itu. Salam anak Pining. [DM]

Comments

comments