Kepentingan Berteman

oleh

Oleh : Zarkasyi Yusuf, S. Sos*

Manusia diciptakan Allah berjenis kelamin laki laki dan perempuan, kemudian dijadikan berbangsa bangsa dan bersuku suku supaya saling kenal mengenal, demikian dijelaskan Allah dalam al-Qur’an surat al hujurat ayat 13. Manusia tidak akan bisa hidup sendiri, butuh interaksi dengan orang lain serta dibutuhkan oleh orang lain, sebab itulah manusia menjalin pertemanan dan persahabatan dengan orang lain. Aristoteles menggunakan istilah zoon politicon untuk menyatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial, Adam Smith menyebut makhluk sosial dengan istilah homo homini socius, sedangkan Thomas Hobbes menyatakan manusia sebagai makhluk sosial dengan istilah homini lupus yang diartikan sederhana bahwa manusia bisa menjadi serigala bagi manusia lainnya.

Seiring perkembangan zaman, manusia pun kian hidup dalam hedonisme serta menjauh dari nilai nilai dan pesan agama, menyebabkan renggangnya hubungan antar personal yang mempengaruhi pertemanan dan persahabatan seseorang. Penggunaan alat komunikasi pintar telah menambah rusaknya interaksi sosial antar personal, tanpa disadari salah satu efek buruknya adalah terjadinya pertentangan dan perselisihan yang mungkin disebabkan hanya oleh persoalan persoalan sepele. Saat peluncuran iphone CEO Apple Steve Jobs pernah berkata “sesekali sebuah produk revolusioner muncul dan mengubah segalanya”.

Akibat dinamika sosial yang digambarkan di atas, kita membaca berita Isteri yang tega membunuh Suami, Anak yang membunuh Orang tua, Kakak beradik yang saling membunuh, serta berita berita lainnya yang menunjukkan rusaknya pertemanan dan persahabatan manusia. Kondisi ini pasti akan mengusik kenyamanan dan ketentraman hidup manusia. Sisi lain, dinamika sosial sekarang menyeret manusia dalam gaya hidup yang pamrih sehingga mengabaikan nilai nilai keikhlasan dalam segala hal, termasuk dalam berteman dan bersahabat. Akibatnya, jalinan pertemanan dan persahabatan selalu dibalut dengan sejumlah kepentingan yang akhirnya hanya akan menyisakan rasa kecewa dan kebencian mendalam jika kepentingan kepentingan tersebut tidak terakomodir dalam pertemanan dan persahabatan. Mewakili kondisi pertemanan yang dikecewakan dengan kepentingan adalah perseteruan para elit politik, perselisihan pada jajaran birokrasi, baik pada level pusat, jajaran Pemerintahan Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

Kehidupan ini terus berjalan normal, seimbang dan sunyi dari perselisihan diantaranya disebabkan oleh pertemanan dan persahabatan yang masih dijaga. Kelanggengan pertemanan dan persahabatan perekatnya adalah silaturrahmi, silaturrahmi merupakan manivestasi keimanan seorang hamba serta menjadi salah satu sebab dimudahkan rezeki dan diberkahi umur. Untuk melanggengkan pertemanan dan persahabatan, setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan dan dijaga bersama. Pertama niat baik dalam menjalin pertemanan dan persahabatan. Niat merupakan pembeda antara amalan biasa dengan amalan syariat, semua amalan sangat tergantung dari niat.

Banyak amal perbuatan yang bercorak amal dunia, tetapi karena baiknya niat menjadi amal akhirat. Sebaliknya, banyak amal yang bercorak akhirat, tetapi menjadi amal dunia karena jeleknya niat, begitu pula dalam persoalan berteman dan bersahabat. Dalam menjalin persahabatan sejatinya didasari oleh landasan untuk saling melengkapi, saling membantu satu sama lain serta untuk menebar mamfaat dan kebaikan. Jangan pernah selipkan kepentingan yang hanya akan mengotori niat kita, yakinlah bahwa niat baik pasti akan dibantu oleh Allah.

Kedua, menjaga silaturrahmi. Syaikh Ali Ahmad al-Jurjawi dalam kitab hikmatut-tasyri wa falsafatuh (diterjemahkan oleh Nabhani Idris kedalam bahasa Indonesia dengan judul Indahnya Syariat Islam) menyebutkan bahwa ada beberapa ayat yang berkenaan langsung dengan menyambung silaturrahmi dan berbuat baik dengan kerabat, diantaranya adalah al-Anfal ayat 75, an-Nisaa ayat 1, al-Baqarah ayat 27, dan ar-Raad ayat 20 sampai dengan ayat 25. Menjaga silaturrahmi bermakna ikut menjaga keseimbangan dalam kehidupan ini. Contoh sederhana, jika ada orang kaya tetapi tidak memperhatikan kerabatnya yang miskin ia akan tercela dan jelek namanya dalam masyarakat.

Silaturahim berasal dari dua kata, yaitu silah yang artinya tali atau hubungan dan rahim yang artinya kasih sayang. Sederhananya, silaturrahmi diartikan dengan menyambung tali kasih sayang atau tali persaudaraan. Silaturrahmi akan menepis segala desas desus yang akan merenggangkan pertemanan dan persahabatan, semakin kuat dan terjaga silaturrahmi maka hubungan pertemanan akan semakin erat, sehingga tidak akan timbul celah celah yang bisa mempengaruhi rusaknya hubungan dua orang yang telah bersahabat.

Ketiga, membangun kepercayaan. Mengapa kita memilih seseorang untuk menjadi sahabat. Jawaban sederhana, sebab kita percaya dengan yang bersangkutan untuk saling berbagi dalam kelebihan dan menutupi dalam setiap kekurangan. Membangun kepercayaan adalah tameng untuk melawan suuddhan (buruk sangka).

Jika suuddhan telah hinggap di hati seorang manusia, maka akan membuka celah bagi syaithan untuk merusakan persahabatan dengan merusak niat atau merenggangkan silaturrahmi. Husnuddhan (sangkaan baik) dalam persahabatan dan pertemanan adalah keniscayaan, sehingga tidak akan ada trik dan intrik politik dengan sahabat dan teman.

Tiga hal yang dijelaskan di atas merupakan bahagian kecil dari upaya menjaga dan merawat persahabatan dan pertemanan. Hidup di era milenial dengan informasi yang begitu cepat berkembang akan membantu fitnah dan hoax menyebar yang akan mengubah persepsi seseorang terhadap sahabatnya sendiri. Dalam kenyataan, banyak yang bersahabat sejak lama hancur oleh desas desus yang belum tentu benarnya dan rusak oleh kepentingan politik.

Jika ada diantara kita yang hubungan persahabatannya mulai renggang, perkuat kembali dengan silaturrahmi. Jika persahabatannya telah hancur karena politik dan kepentingan, segera perbaiki kembali dengan saling bermaafan dan silaturrahmi. Hidup ini akan terasa indah jika kita bisa saling memahami, berbagi dan saling menasehati dalam kebaikan.

Dalam hikmatutasyri’ wa falsafatuh disebutkan bahwa seseorang sehat perasaan, lembut perasaan dan berakhlak mulia dapat dilihat ketika bicara dengan memperhatikan hal-hal berikut; (1) bicara kepada seseorang sesuai tingkat pendidikan dan levelnya (2) mendengar dan berbicara dengan baik (3) tidak memutuskan bicara orang lain yang belum selesai (4) tidak berbicara dengan orang yang sedang berbicara dengan orang lain (5) ucapannya bukan pertanyaan yang bersifat mutlak supaya tidak dijawab dengan jawaban yang mutlak, kecuali majelis menuntut hal itu (6) tidak dusta (7) tidak menggungjing dan mengadu domba (8) tidak mengada-ada atau berlebihan (9) tidak mengeraskan suara melebihi lawan bicara, apalagi lawan bicara lebih tinggi kedudukannya (10) berbicara panjang atau pendek saat dibutuhkan.

Akhirnya, mari berteman dan bersahabat dengan orang orang baik, kemudian jadilah sahabat yang baik, sahabat yang selalu menunjukkan kebaikan. Manusia yang baik adalah yang mampu menebarkan kebaikan, memberikan mamfaat serta baik dalam bergaul dengan manusia lain, sehingga senyuman, saling tegur sapa dan nasehat menasehati akan selalu hadir dalam kehidupan ini. Memang menjadi orang baik pasti banyak cobaan dan halang-rintang, apalagi hidup di lingkungan dan iklim yang menentang prinsip prinsip kebaikan.

Meskipun demikian, pertemanan dan persahabatan harus tetap dijaga, agar hidup ini selalu berjalan seimbang dan tentram dan diridahi oleh Allah yang Maha Kuasa.

*Penulis adalah ASN Pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, alumni Dayah Teungku Chik di Reung Reung Kembang Tanjong, Pidie.

Comments

comments