Bage Sastra Terbaru

Kisah Seorang Nenek dan Kucing Hitam


Cerita oleh Fauzan Azima*

Nek Rahmi hidup miskin. Tinggal di gubuk reot, beratap daun rumbia dan berdinding bambu yang tidak terlalu rapat. Orang kampung yang melintas bisa melihat dengan jelas seluruh aktivitas beliau di dalam gubuknya. Tidak ada perabotan. Gubuk yang tidak lebih seperti kandang ayam itu, hanya terdapat dapur tungku tempat memasak dan alas tidur juga dari bambu.

Orang kampung tidak suka kepada Nek Rahmi. Tidak ada yang mau bicara dan peduli padanya, meskipun kadang sakit dan lapar. Semua akibat cerita hoax yang mengatakan beliau mengamalkan ilmu hitam yang didapat dari menggali dan mengambil bayi yang baru dikuburkan. Kemudian dibawa ke tengah hutan lalu dipanggang dengan api unggun. Posisi bayi kaki ke atas dan kepala ke bawah. Lalu menari-nari dengan telanjang mengelilingi api unggun itu sampai bayinya tertawa. Kemudian minyak dari tubuh bayi yang dibakar itu dibawa ke rumah sebagai syarat untuk mencelakai orang kampung.

Entah siapa yang pertama menyebarkan cerita itu sehingga orang kampung menjadi takut. Bahkan anak-anakpun kalau menangis, disebut nama Nek Rahmi langsung diam sesungukan. Beliau semakin dikucilkan karena memiliki peliharaan seekor kucing hitam jantan. Cerita dari mulut ke mulut bahwa kucing hitam itu adalah kucing jadi-jadian. Pada malam-malam tertentu akan menjelma menjadi makhluk menyeramkan. Cerita kucing hitam itu membuat orang semakin takut tatkala anak-anak muda saling bercerita pada malam jum’at. Mereka pun bertaruh melakukan uji nyali.

Menjelang maghrib anak-anak muda meletakan botol yang telah diisi dengan uang taruhan di samping rumah Nek Rahmi. Selepas shalat Isya mereka berkumpul di gardu jaga saling bercerita yang seram-seram tentang Nek Rahmi dan kucingnya. Setelah tepat pukul 00:00 mereka mengundi, siapa yang mendapat giliran pertama untuk mengambil botol berisi uang itu. Bagi yang sudah mendapat giliran tetapi tidak berani dianggap kalah, maka giliran yang lainnya untuk mengambil botol itu.

Demikian hari-hari Nek Rahmi, sudah miskin, dihinakan dan dizalimi pula. Pada satu malam beliau bermimpi bertemu peri cantik. “Apakah Nek Rahmi masih sanggup dengan penderitaan ini?” tanya peri dengan penuh senyum. Beliau tidak menjawab karena khawatir dengan konsekwensinya jika mengatakan tidak sanggup. Merubah kehidupan harus ada pengorbanan. Itulah yang membuat beliau ragu untuk menjawab pertanyaan sang peri.

Semakin menderita hidupnya karena tekanan ekonomi dan hinaan orang kampung, semakin sering pula peri cantik itu hadir dalam mimpinya dengan pertanyaan sama. Akhirnya Nek Rahmi luluh juga, “Aku sudah tidak tahan” beliau menangis sejadi-jadinya., sampai tangisnya terbawa ke alam jaganya. Beliau duduk mengingat mimpinya dan menyesali pernyataannya. Mengapa beliau begitu lemah dan pasrah menyerahkan kehidupannya kepada sang peri, fikirnya.

Setelah memasrahkan hidup kepada peri cantik itu dalam mimpinya, anehnya Nek Rahmi tidak pernah lagi bermimpi. Terbetik dalam fikirannya, mungkin mimpinya hanya sebagai bunga-bunga tidur saja. Beliau tidak lagi memikirkan mimpinya dan menjalani hidupnya seperti biasa. Mencari kayu bakar di hutan, membersihkan rumput di sekolah, memecah batu, dan melakukan pekerjaan berat lainnya asal bisa membeli beras.

Hari-harinya dilalui dengan berat. Hidup sebatang kara. Tidak ada sanak saudara. Kalaupun ada saudara jauh. Tidak mau mengakui sebagai saudara. Mereka malu bersaudarakan Nek Rahmi. Satu-satunya saudara, sahabat, anak dan kawan berkeluh kesah, bahkan kekasih hatinya adalah kucing hitamnya yang selalu mewarnai hidupnya dan menemaninya kemanapun beliau pergi.

Sayangnya kepada kucing hitam itu, melebihi sayangnya kepada dirinya sendiri. Buktinya, ketika kucing itu sudah terlebih dahulu merebahkan diri di tempat tidurnya, beliau lebih memilih tidur di tanah daripada mengganggu tidur kucing itu. Beliau tidak peduli kalau orang kampung menghinakan dan menuduhnya punya ilmu hitam, tetapi ketika orang kampung mengatakan “kucing hitam membawa penyakit,” sontak Nek Rahmi berang dan menyumpah serapahinya orang kampung itu.

Pada siang bolong, beliau tertidur di bawah pohon asam jawa karena lelahnya mengambil upah dengan memindahkan batu bata sebanyak satu L-300 pick up dari ujung lorong ke halaman pemilik rumah. Dalam tidur lelapya, kiranya beliau bermimpi kedatangan peri. Keringatnya bercucuran. Mulutnya hanya berucap, “Tidak..tidak..tidak!” Beliau berlari sambil menangis menuju gubuknya. Kucingnya yang setia mengekor di belakangnya. Ketika akan sampai di gubung tuannya, kucingnya berlari lebih dahulu sampai di depan pintu, seolah ingin menunjukan dia menyambut tuannya dengan penuh kemuliaan.

Setibanya di gubuk itu, beliau merebahkan dirinya. Ditutupinya mukanya untuk tidak melihat kucing kesayangannya. Beliau tidak sanggup menatap mata kucing itu. Beliau berusaha menenangkan dirinya, tetapi tangisnya semakin menjadi-jadì. Sementara kucing itu masih bermanja-manja dengan dirinya. Dia tidak tahu kegundahan hati tuannya. Nek Rahmi masih rebahan, hatinya tidak kuasa menopang tubuhnya untuk duduk. Seluruh sendi-sendinya terasa longgar. Beliau berusaha meraih kucing hitamnya, dibekapnyanya dengan berurai air mata.

“Saudaraku, sahabatku, anakku,” katanya sambil menahan tangisnya, sesekali menyeka air matanya dengan kain lusuh, “Hari ini aku menyampaikan berita buruk. Berita terburuk sepanjang sejarah hidupku. Aku bermimpi harus menjadikanmu sebagai korban. Sebagai mana korban Nabi Ibrahim AS terhadap anaknya Nabi Ismail AS. Sungguh aku tidak sanggup karena engkau benar-benar menjadi korban, tidak digantikan dengan hewan lain, wahai kekasihku” Nek Rahmi tidak sadarkan diri menahan kesedihan.

Sebelum menyembelih kucing hitam sebagai korban, tepatnya sebagai tumbal, Nek Rahmi harus menggali kuburannya pada bulan purnama penuh di simpang empat jalan sebagai mana syarat yang diwajibkan peri. Beliau tidak kuasa menahan air matanya dan membiarkan jatuh membasahi tanah galian sambil memikirkan bagaimana menyembelih sahabat yang betahun-tahun menemaninya.

Sungguh dirinya tidak tega dipandang dari sudut manapun, namun kuatnya dorongan dari peri dan terlanjur sudah diperjanjikan, walaupun perjanjian dalam mimpi sekalipun harus ditunaikan. Begitulah prinsif yang langka pada manusia di belahan bumi manapun, kecuali bagi Nek Rahmi.

Peralatan berupa pisau yang tajam, tali pengikat kaki depan dan belakang, penutup mata agar tidak berbalik hati ketika melihat matanya. Sebelum disembelih kucing hitam itu dalam keadaan kenyang, kemudian dimandikan dan dibedaki serta diberi minyak wangi japaron merah tanpa alkohol. Bahkan kain kafan pun tiga lapis sudah disiapkan.

Tepat pada pukul 00:00 sesuai rencana, tanpa proses yang rumit seperti fikiran Nek Rahmi sebelumnya, pisau yang tajam baru saja mengakhiri hidup sang kucing hitam di dalam gubuknya. Tiba-tiba rasa sedihnya hilang. Kegembiraannya timbul dan dia mulai tertawa terbahak-bahak. Sejak puluhan tahun, inilah tawa pertamanya. Perlahan-lahan beliau mengkafani sang kucing dengan suasana hati sangat gembira. “Inilah batas waktuku antara sedih dan gembira. Selamat tinggal kesedihan dan selamat datang kegembiraan,” katanya terus tertawa terbahak-bahak.

Di keremangan bayangan bulan dan suara binatang malam bersahutan mengiringi prosesi pemakaman kucing hitam itu. Setelah selesai, beliau hanya memberi tanda dengan tumpukan sampah untuk menghilangkan jejak agar orang kampung tidak tahu bahwa sesuatu telah dikubur di sana. Nek Rahmi harus menunggu 44 hari untuk menggalinya kembali.

Sementara orang-orang kampung mulai kasak kusuk dengan kehilangan kucing hitam Nek Rahmi. Mereka hanya menduga-duga kalau kucing itu sudah dijadikan tumbal, ada juga yang bicara sudah diterkam harimau di tengah hutan. Bermacam perdapat yang tidak pasti itu yang sebelumnya hanya menjadi bahan bercanda, tetapi kali ini berbeda, orang kampung menganggap peristiwa ini serius dan mereka mulai dihantui oleh rasa takut dan khawatir. “Bencana apa yang akan terjadi di kampung kita?” tanya mereka penasaran.

Berdasarkan bilangan sudah 44 hari, Nek Rahmi harus membongkar kuburan kucing hitamnya. Tanpa penerang beliau mulai menggali di kegelapan malam. Hatinya berdebar-debar, khawatir sudah kedahuluan binatang atau orang lain yang menggalinya. “Syukur!” desisnya, “Ternyata masih aman pada posisinya.”

Kucing yang sudah menjadi tulang belulang itu di bungkusnya dengan kain hitam untuk beliau bawa ke gubuknya. Setelah bungkusan dibuka maka dicobanya satu per satu tulang kucing itu dengan cermin. Manakah tulung yang tidak tampak bayangannya di cermin, maka tulang itulah yang akan dijadikan jimat. Setelah hampir semua tulang dicoba, ada satu tulang memiliki energi yang sangat kuat, ternyata benar, tulang itulah yang tidak tampak banyangannya di cermin, yaitu tulang belakang bagian ekor.

Nek Rahmi segera membungkus dan mengikatnya dengan kain merah. Kemudian diritualkan pada sepertiga malam dan tampaklah kekuatan ghaib tulang kucing hitam itu; khususnya untuk pelet.

Pada pagi harinya, kebetulan hari pasar. Setelah berdandan rapi, beliau keluar dari rumahnya menuju pasar, khusus untuk mencoba jimat peletnya. Para bujangan di pasar terhipnotis melihat penampilan Nek Rahmi seperti bidadari. Tidak ada lagi tanda-tanda tua di tubuhnya. Kecantikan yang sempurna tanpa cacat setitikpun dan umurnya kembali kepada 19 tahun. Para lelaki muda berdesak-desakan mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Bahkan beberapa di antara mereka sempat terjadi perkelahian karena tersenggol dan dianggap menghalangi hasratnya.

Tidak hanya itu, kekuatan ghaibnya membuat para lelaki “yang terpilih” rela menghambakan diri ikut dengan “sang ratu” ke gubuknya. Pada tahap awal ada lima orang laki-laki yang bersedia menjadi budaknya. Tugas pertama adalah membangun gubuknya menjadi bangunan permanen, sekali gus pemuas nafsunya sebagai bentuk balas dendamnya terhadap hinaan yang diterimanya selama hidupnya.

Pada hari-hari selanjutnya, seluruh pemuda dan lelaki muda yang telah menikah di kampung itu telah menjadi gembalaannya. Sebagian yang tidak dibutuhkan dilepaskan dari kekuatan ghaib peletnya sehingga sadar dan kembali ke rumahnya. Melihat keadaan itu tidak ada yang berani protes karena siapapun yang tidak senang akan menjadi korban hipnotis pelet Nek Rahmi.

Obsesi Nek Rahmi terhadap kekayaan dan kekuasaan terhadap kaum lelaki muda telah terwujud. Namun tubuh aslinya yang tua renta tidak mampu lagi menahan garangnya kekuatan ghaibnya. Apalagi tiga bulan terakhir sudah sering sakit-sakitan yang membuatnya tidak bisa lagi seratus persen mengendalikan kekuatan ghaibnya. Banyak “lelaki peliharaannya” yang mulai sadar dan lari dari rumahnya. Nek Rahmi tidak mampu lagi memelet mereka kembali kepangkuannya.

Ternyata Nek Rahmi telah mengalami sakratul maut dari seminggu lalu. Hanya jasadnya masih bisa berjalan karena dikuasai ghaibnya. Wajahnya yang cantik molek kembali menjadi tua. Tubuhnya pun sudah mengeluarkan bau mayat. Orang kampung belum menyadari kalau nyawa beliau sudah di kerongkongan. Hanya kekuatan ghaib dari tulang kucing hitam itu yang menguasai tubuhnya untuk berjalan ke sana ke mari.

Tubuh yang dikuasai ghaib mulai berteriak-teriak. Badannya mulai terasa panas dan ingin keluar dari tubuhnya, tetapi selama jimat itu masih menempel padanya selama itu pula nyawanya tidak akan pergi. Imum kampung datang membimbingnya dengan kalimah Lailahaillallah agar nyawanya segera dicabut, tetapi beliau semakin menantang sang imum dengan kalimat sumpah serapah.

Orang-orang pinter dari kampung tetangga dihadirkan untuk melepas jimat Nek Rahmi, tetapi tidak mampu juga. Bahkan di antara orang pinter itu ada yang mengusulkan untuk dimandikan dengan air liur lidah anjingpun sudah dilaksanakan, tetapi sama sekali tidak merubah keadaan. Nek Rahmi semakin beringas dengan perlakuan orang pinter itu dan menantangnya serta mengancam akan menghabisi keluarga mereka. Satu per satu orang pinter itu mengundurkan diri karena mendapatkan lawan yang tidak seimbang.

Seorang musafir ahli tarekat melihat kondisi Nek Rahmi, meminta orang kampung membuka beberapa lembar seng atap rumahnya. Kemudian dibacakan beberapa ayat Al-Qur’an, seketika Nek Rahmi menghembuskan nafas terakhirnya. Orang kampungpun bersuka cita dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah. Harapan mereka dengan meninggalnya Nek Rahmi, hilang pula ilmu pelet tulang kucing hitam yang selama ini “meneror” orang kampung.

Namun di akhir hidupnya, Nek Rahmi ketika menyadari akan meninggal, secara rahasia beliau telah mewariskan ilmunya kepada tiga perempuan yang kemampuannya setara dengannya. Pesannya kepada muridnya untuk mengembangkan ilmu pelet tulang kucing hitam mulai dari kampung, kecamatan, kabupaten, provinsi bahkan negara. Pada masanya mungkin bisa menjadi partai besar. Yakni Partai Kucing Hitam. []

Comments

comments