Opini Sara Sagi Sastra

Daya Etika Membangun Kebaikan


Oleh : Dr. Joni, MN, M.Pd, B.I*

A. Pendahuluan
Kehidupan manusia tidak boleh stagnan, yakni hanya mengandalkan dan mengagung-agungkan keberhasilan atau kesuksesan moyang-moyang para pendahulu mereka saja.

Pengetahuan yang pernah diperoleh secara turun-temurun yang bersumber dari para pendahulu tersebut baik adanya, namun terkadang sering tidak terpakai menjadi kebijakan saat sekarang. Hal ini disebabkan karena berubahnya sistem berfikir, faktor geografis dan semakin cangihnya alat tekhnologi.

B. Pengetahuan dan Tatanan Hidup
Pengetahuan (knowing) yang sudah mendasar di dalam diri pribadi individu yang bersumber dari pengalaman-pengalaman hidup ternyata tidak cukup dalam melahirkan suatu kebijakan yang bernilai baik. Baik dalam pengertian dalam konteks ini adalah sesuatu petunjuk arahan maupun aturan yang tidak merusak tatanan berkehidupan antar kemanusiaan, alam dan mahluk lainnya.

Tatanan yang dimaksud baik yaitu suatu bentuk kebijakan yang melingkupi bagian-bagian aspek kehidupan, seperti: (1) tata laksana, (2) tata laku, (3) tata kelola, dan (4) tata tertib/ tata krama. Jika bangunan kebijakan dalam menata berkehidupan bersumber atas asas keempat unsur tersebut, maka akan dapat melahirkan kebijakan-kebijakan yang bersifat arif.

C. Bentuk Etika
Etika yang merupakan bentuk konsep dari moral akan tersusun dengan rapi dan sesuai kebutuhan mahluk, alam lingkungan dan manusia itu sendiri. Konsep etika yang mengarah kepada kebaikan tidak cukup berjalan filosofis-filosofis yang dimiliki oleh masyarakat setempat saja (local wisdom), jika hanya tunggal maka konsep etika tersebut akan bersipat kering dan rapuh.

Dalam konteks berkehidupan tentu tidak terlepas dari interaksi sosial dengan anggota masyarakat lainnya, mahluk lainnya dan alam serta lingkungan di mana manusia tersebut hidup dan berkembang.

Konsep hidup yang di maksud kering dalam hal ini yaitu, konsep yang tidak berintegrasi, yakni konsep antara manusia, lingkungan dan alam dengan konsep keyakinan yang merupakan asas berpijak dalam mejalani kehidupan.

D. Kreasi Daya Filsafat
Dalam kreasi kerangka filsafat etika, asas-asas tersebut merupakan suatu petunjuk yang berdaya guna dalam mengembangkan norma-norma yang menjadi nilai kebiasaan pada kehidupan manusia. Hal ini bermanfaat dalam melindungi hak-hak mahluk hidup dan lingkungannya. Etika yang demikian merupakan etika yang bersumber pada perinsip dan ideologi kemanusiaan, yang tertumpu pada sudut keyakinan manusianya.

Karena itu manusia individual siapapun tidak pernah boleh dikorbankan demi tercapainya suatu tujuan yang lain. Yang harus dihargai dan dihormati pada masing-masing diri manusia itu perspektif “deontologi” Yakni, suatu tujuan pada dirinya (an end in itself). Karena itu manusia selalu harus dihormati sebagai suatu tujuan sendiri dan tidak pernah boleh diperlakukan semata-mata sebagai sarana demi tercapainya suatu tujuan lain. Hal ini seperti yang dikenal dalam terminologi suku Gayo “tetinyelen”.

E. Penutup
Jadi, jika suatu perbuatan baru bernilai bila sesuai dengan perinsip dan hak kemanusiaan itu sendiri, dan inilah yang dimaksud dengan deontologi. Daya etika kemanusiaan yang berperinsif diwujudkan ke dalam norma-norma dan nilai kebiasaan hidup sehari-hari. Oleh karenanya dalam menempuh hidup yang berkehidupam konsep etika bentuk filosofis dan etika bentuk throligis harus berjalan berbarengan atau secara bersamaan.

Kedua daya etika tersebut akan mampu membangun kedamaian dan kenyamanan bersama yang menegakan garis vertikal ke Tuhan dan garis horizontal kepada mahluk, lingkungan dan sesama manusia.

F. Rekomendasi
Berdasarkan kajian ini disarankan kepada seluruh lembaga pendidikan mulai dari tingkat PAUD sampai Perguruan Tinggi, agar dapat melembagakan dan menintegrasikan kedua bentuk etika tersebut secara bersamaan ke dalam diri peserta didik. Tujuannya adalah agar keputusan-keputusan yang diambil tidak bersifat ekstrim dan menang sendiri.

*Penulis adalah Kepala Bagian Penelitian, Pengembangan dan Pendidikan Majelis Adat Gayo (MAG)  juga Dosen STIT Alwashliyah Kab. Aceh Tengah

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *