Sastra Terbaru

[Cerpen] Sebuah kisah: Aku Hanya Ingin Berlari (Bag. 4)


Oeh: Gilang Farouzie*

RIKO telah melesat melewati separuh lintasan. Sembari terus menghentak-hentakkan kakinya sekencang mungkin, ia mulai merasakan sesak yang teramat sangat di dadanya, seakan-akan dada itu akan benar-benar meledak sebentar lagi. Saat itulah Riko mulai memusatkan konsentrasi pada pikirannya sendiri. Dalam sebuah gerakan halus yang terjadi, Riko bisa menyadari bahwa seluruh otot di sekujur tubuhnya mulai menegang, namun ia mengetahui bahwa fenomena itu tidak lain dan tidak bukan berasal dari pikirannya.

Untuk itu, sembari terus berusaha menambah kecepatan larinya, Riko menggigit bibirnya dengan geram, memusatkan pikirannya dengan beberapa kata yang ia batin-batinkan di dalam hati. Lalu, hanya dalam tiga langkah hentakan kakinya, ia menemukan ketenangan di dalam pikirannya itu, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Namun ia tahu bahwa itulah yang selama ini ia butuhkan, dan ia mendapatkannya.

Bersamaan dengan rasa tenang yang mengalir di dalam pikirannya itu, Riko kembali merasakan bahwa otot di sekujur tubuhnya menunjukkan pengenduran yang teratur, dengan demikian ia bisa secara leluasa mengatur pernafasannya yang mulai tidak keruan. Sesaat setelah nafasnya menjadi teratur, Riko seakan-akan mendapati dirinya sedang terselimuti oleh keajaiban. Entah bagaimana, sedikit saja ia berusaha lebih keras untuk meningkatkan kecepatannya, kakinya seakan-akan mendengarkan, menghentak-hentak dengan kecepatan yang luar biasa.

Untuk pertama kalinya sepanjang kurang lebih dua tahun ia berlatih, belum pernah ia merasakan perasaan yang menakjubkan itu. Riko seakan-akan mendapati dirinya telah bersatu bersama angin, melaju, menghempas, melesat tak terbendung, bahkan oleh dirinya sendiri.

Angga menekan tombol. Riko melewati garis finish. Paru-parunya membutuhkan banyak udara akibat terlalu lelah. Riko meraup udara itu dengan mulutnya hingga berkali-kali, terengah-engah. Dalam beberapa detik pandangannya mengabur dan kembali normal setelah paru-parunya menerima lebih banyak udara.

“Berapaahhh?” Ia bertanya pada Angga. Dadanya naik turun. Tertunduk-tunduk mencengkeram lututnya, dan menemukan bekas jahitan sepatunya yang telah ia jahit berkali-kali itu kembali menganga. Tapi Riko tak terlalu menghiraukannya, ia akan menjahitnya lagi nanti.

Angga melepaskan alat penghitung waktu itu dari lehernya, matanya mengerjap-ngerjap sembari menyerahkan alat itu pada abangnya. Riko sempat tertegun saat mengamati angka yang tertera pada alat penghitung waktu itu. Mustahil … batinnya.

Ia sempat berpikir kalau alat itu mungkin saja telah rusak. Tidak mungkin, beberapa saat yang lalu alat itu baik-baik saja. Setelah mengusap-usap kedua matanya hingga beberapa kali, ia mengamati alat itu lebih lekat daripada sebelumnya. Tetap saja, angka yang tertera pada alat itu tidak berubah, dan memang tidak akan berubah jika seseorang tidak menekan tombolnya sekali lagi.

Sekonyong-konyong, ketakjuban yang terpatri pada wajahnya lambat laun berubah menjadi senyuman. Kian lebar, kian merekah, dan berubah menjadi teriakan. Sebuah teriakan penuh kebanggaan, sebuah teriakan penuh kebahagiaan. Riko langsung mengangkat adiknya tinggi-tinggi, melemparkannya ke udara, dan menangkapnya lagi.

“Kita berhasil, Angga! Kita berhasiiiil …” Teriakannya menggema di antara pepohonan di tempat itu. Sementara adiknya tertawa-tawa renyah menerima tubuhnya terombang-ambing naik turun di tangan Riko.
3 menit 48.4 detik!

Riko mencoba hingga beberapa kali lagi setelah itu. Hasil yang dapatkan tidak jauh berbeda, tapi tetap bisa mengalahkan catatan waktu Roger: 3 menit 59.4 detik.

Ayah Riko juga berada di sana menyaksikan anaknya ketika Riko berhasil mendapatkan catatan waktu tercepatnya saat itu. Lelaki pendiam itu memang tidak banyak berkata-kata, ia hanya mengucapkan selamat pada Riko dan Angga yang saat itu tengah berteriak-teriak kegirangan. Atas ucapan selamat itu, Riko membalasnya dengan tersenyum lebar-lebar. Matanya mengabur. Kali ini bukan karena kelelahan, melainkan setitik air menggenang di bagian bawah mata itu.

Beberapa hari setelah itu, tanpa ingin berlama-lama, Riko mengirim surat kepada Departemen Olah Raga yang terletak jauh di ibukota. Dalam surat itu Riko menyampaikan bahwa ia ingin berlari sejauh 1 mil dan mengalahkan catatan waktu tercepat terakhir yang dimiliki oleh Roger Bannister.

Surat itu baru mendapatkan balasan beberapa minggu setelahnya. Dalam surat yang diterimanya tersebut mereka mengatakan bahwa jika ia ingin berlari, ia harus pergi menuju ibukota, di sebuah lintasan dengan standard internasional. Yang, tentu saja, sebuah lintasan yang lebih memadai dibandingkan lintasan berpasir yang selama ini ia gunakan untuk berlatih di belakang rumahnya.

Untuk bisa sampai ke ibukota yang jauh, Riko tentu membutuhkan biaya untuk sampai ke sana. Maka dari itu ia membawa surat balasan tersebut kepada ibunya dengan harapan bahwa ibunya akan memberikannya biaya agar ia bisa sampai di ibukota. Tapi, amat disayangkan, belum sempat Riko menjelaskan maksudnya, ibunya telah lebih dulu menolak, dan penolakan yang lebih keras lagi datang dari kakaknya.

“Ibu sudah berjanji kalau semua uang tabungan itu akan digunakan kalau kamu mau melanjutkan pendidikanmu.” Jelas ibunya, “Ibu tidak tabung uang itu untuk kamu berlari.”

“Percuma, Riko … Kamu tidak akan berhasil! Kerjamu cuma menghabis-habiskan uang!” Kakaknya menimpali.
“Tapi aku sudah berlatih. Aku pasti berhasil!” Riko menjelaskan.
“Biar ayah yang mengantarkanmu ke sana.”
Mereka bertiga berpaling bersamaan, melihat lelaki pendiam itu di mulut pintu.
“Ayah akan menemanimu …”

Demi mendengar perkataan ayahnya itu, Riko langsung menghambur kepada ayahnya, memeluknya erat-erat. “Terima kasih, ayah… Terima kasih.” Katanya.
Sementara itu, di tempat lain, karena beberapa alasan Departemen Olah Raga mengabarkan hal ini kepada salah satu stasiun televisi swasta terkenal. Mereka ingin saat Riko berlari dan mencoba memecahkan rekor nanti, disiarkan secara langsung.
“Siapa anak ini?” Kata salah seorang dari stasiun televisi itu.
“Seorang anak kampung.” Jawab salah seorang dari Departemen Olah Raga.

Pria berseragam dari stasiun televisi itu sumringah, “Ini menarik!” Katanya.
Tak berapa lama berita tentang Riko mulai tersebar ke seluruh pelosok negeri melalui beberapa iklan yang ditayangkan di televisi. Demi meningkatkan rating, setiap stasiun televisi sering kali memandang dan menyajikan segala sesuatu dengan amat dramatis. Maka dari itu, setiap iklan yang mereka tayangkan itu sengaja di beri judul yang dramatis pula: Anak Kampung dan Impiannya: Memecahkan Rekor Lari Dunia!

Beberapa hari setelah itu, Riko yang ditemani ayahnya berangkat menuju ibukota.

Kamera-kamera yang berada di setiap pundak beberapa orang di pinggir arena itu sudah siap untuk merekam, mereka menanti seseorang keluar dari ruangan yang terletak persis di samping arena lintasan. Rupanya iklan yang ditayangkan hingga beberapa kali di televisi itu berhasil mengundang setidaknya tidak kurang dari 300 orang yang saat ini duduk berderet-deret di bangku penonton. Mereka ingin menyaksikan bagaimana kecepatan lari anak kampung itu saat berusaha memecahkan catatan waktu seorang pelari dunia Roger Bannister.

Sementara di dalam ruangan, setelah ayahnya meninggalkannya tadi, Riko mulai melangkahkan kakinya menuju hamparan cahaya matahari di ujung ruangan, ia akan keluar melalui pintu itu menuju lintasan, tempat dimana ia akan berjuang selama kurang dari 4 menit. Begitulah rencananya. Sembari terus melangkahkan kaki, beberapa kali Riko terlihat mengendur-ngendurkan otot-otot tubuhnya dengan cara mengayun-ayunkan kedua tangannya, sesekali ia juga menyentakkannya, masih dengan harapan bahwa perbuatan itu bisa menghilangkan rasa sesak akibat kegugupan dan kecanggungan yang ia rasakan.

Lampu-lampu kecil pada kamera-kamera itu berubah menjadi merah, proses merekam telah diaktifkan. Riko mulai melangkahkan kakinya keluar ruangan diiringi tepuk tangan penonton yang sejak tadi sudah menantikan kedatangannya.

Riko membutuhkan sedikit waktu untuk membiarkan matanya beradaptasi terhadap cahaya matahari yang menyilaukan. Ia mengangkat sebelah tangannya, menadahkannya di atas mata demi menghalangi cahaya matahari itu langsung menghunjam pada matanya.

Segera setelah kesilauan itu tidak lagi mengganggu, Riko mendapati beberapa pria berseragam serupa dengan pria bernama Ahmad Zainuddin yang tadi ia temui di dalam ruangan. Pria-pria berseragam itu membawa kamera dipundaknya, dan ia sangat menyadari kalau kamera itu saat ini sedang mengarah padanya. Riko sempat menduga-duga apakah ia harus melambaikan tangan pada kamera atau hanya harus tersenyum, namun ia lebih memilih menundukkan pandangannya, melihat langkah kakinya sendiri yang mengantarkannya menuju lintasan bergaris putih itu. [SY] Bersambung…

Baca : [Cerpen] Sebuah kisah: Aku Hanya Ingin Berlari (Bag. 1),  [Cerpen] Sebuah kisah: Aku Hanya Ingin Berlari (Bag. 2), [Cerpen] Sebuah kisah: Aku Hanya Ingin Berlari (Bag. 3)

Gilang Mutahari Farouzie

Gilang Mutahari Farouzie, lahir di Aceh Tengah, 18 Desember 1991 beralamat Bale Atu, Takengon. Alumnus SMA N 5 Jakarta, Jakarta Pusat, 2006 – 2009 dan Teknik Informatika (S1), Institut Teknologi Medan, 2009 – 2013. Mendirikan sebuah komunitas seni dan olah raga di Jakarta, Medan dan Aceh Tengah pada tahun 2010 – 2013. Menjabat Sebagai Koordinator Bidang Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Teknologi Medan periode 2012 – 2013. Admin Web di PT. Sempurna, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang distributor perangkat keras komputer di Jakarta pada tahun 2014, Admin Web di Gudangcomp.com pada tahun 2014. Promo Officer di PT. Overseaszone Education Consultan, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konsultan pendidikan luar negeri di Jakarta pada tahun 2015, administrator & Operator di CV. Bima Cipta Konsultan, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang konsultan konstruksi di Aceh Tengah pada tahun 2016. Sekretaris dan Operator di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) An-Najah pada tahun 2017, kontributor (penulis) di situs berita online sipena.com pada tahun 2015. Saat ini aktif sebagai penulis dan pembicara. Karya Yang Telah Terbit: Mercusuar Padang Pasir (sebuah novel) yang diterbitkan oleh Penerbit Guepedia, Bekasi, Jawa Barat pada Maret 2016; LENSA (sebuah novel) yang diterbitkan oleh penerbit Giatmedia (Divisi Sastra Penerbit Rayhan Intermedia), Makassar, Sulawesi Selatan pada tahun dan bulan yang sama dengan diterbitkannya karya yang pertama, Maret 2016. E-Mail: gilangmutahari@gmail.com.

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *