Sastra Terbaru

[Cerpen] Sebuah kisah: Aku Hanya Ingin Berlari (Bag. 3)

Oleh: Gilang Farouzie*

“Lihat! Mustahil! Mustahil kamu bisa memecahkan rekor itu, Riko!”
Riko mengernyitkan alisnya, bingung. Maka untuk menghilangkan kebingungannya, ia meraih surat kabar yang tergeletak di atas meja itu. Ia mengira bahwa apa yang dikatakan kakaknya barusan ada kaitannya dengan apa yang tertulis di sana. Hanya satu lembar, ia membukanya dan membaca apa yang tertulis di situ. Dalam sebuah kolom khusus, ia mendapati sebuah judul Sang Pelari Yang Tak Terkalahkan.

Kurang lebih, sebagaimana yang diberitakan di dalam surat kabar itu, beberapa pelari profesional dari seluruh dunia telah berusaha dan mencoba mengalahkan catatan waktu yang dimiliki Roger Bannister, manusia tercepat di atas muka bumi itu. Mengingat bahwa Roger sendiri tidak bisa memecahkan rekornya sendiri, di surat kabar itu juga diberitakan bahwa Roger akan memberikan hadiah yang cukup fantastis bagi mereka yang bisa mengalahkan catatan waktu yang ia miliki. Riko sudah sejak lama mengetahui perihal hadiah ini. Namun begitu, hadiah ini bukanlah alasan mengapa ia ingin mengalahkan Roger. Riko hanya ingin berlari, tak lebih. Hanya itu.

Di bagian akhir Riko juga menemukan beberapa daftar nama pelari dan catatan waktu yang mereka peroleh ketika mencoba mengalahkan catatan waktu roger:
Was Sante, pelari berkebangsaan Amerika: 4 menit 02.4 detik. Gagal! John Landy, pelari berkebangsaan Australia: 4 menit 0.2 detik. Gagal! Thyodore Skynovsky, Pelari berkebangsaan Rusia: 4 menit 05.1 detik. Gagal! Abayommi Abdalla, pelari berkebangsaan Afrika: 4 menit 0.1 detik. Gagal!

Dan masih terdapat beberapa nama pelari lainnya lagi. Tidak satupun diantara mereka yang lebih cepat dibanding Roger!

“Kamu lihat apa yang tertulis disitu?” Kata kakaknya, nafasnya memburu menahan amarah, “Mereka semua pelari propesional, Riko …” Kakaknya sengaja meninggikan suara saat mengatakan profesional demi memperjelas maksud yang dia sampaikan.

“Artinya mereka semua memiliki seorang pelatih. Sedangkan kau hanya anak kampung! Bagaimana mungkin kau berpikir bisa lebih cepat dari mereka?”

“Aku akan berlatih.” Gumam Riko seraya melipat kembali kertas di tangannya dan meletakkannya di atas meja.

“Terserah… Aku sudah memperingatkan. Kau akan menyesal nantinya. Bersyukurlah ibu masih mau membiayai pendidikanmu. Tapi sekarang aku sudah tidak peduli. Terserah padamu, terserah!” Kakaknya tampak seperti orang yang tidak tahu penjelasan dan nasihat semacam apa lagi yang harus ia berikan, yang pada akhirnya ketidaktahuan itu ia lampiaskan dengan memekikkan kata terserah hingga berkali-kali. Lalu ia pergi, berjalan cepat dan geram menuju pintu, dan membantingnya.

Ini adalah tahun kedua Riko melatih kecepatan kakinya. Kali ini ia tidak lagi ditemani oleh Genta. Yang bertugas menjadi penekan tombol pada alat penghitung waktu di garis akhir itu sekarang adalah Angga, adik lelakinya yang masih lucu dan polos, pipinya tembem dan merah, semerah buah naga. Awalnya, ketika pertama kali adiknya diminta untuk mengemban tugas penting menekan tombol pada alat penghitung waktu itu, Riko tahu bahwa adiknya sama sekali tak memahami penjelasannya.

Bagaimanapun mudah penjelasan yang ia berikan, adiknya justru hanya mengedip-ngedipkan mata, atau tersenyum-senyum geli, atau malah tertawa-tawa memperlihatkan gigi-giginya yang mungil sambil menepuk-nepuk tangan. Mungkin dia mengira kalau Riko sedang menceritakan sebuah dongeng padanya. Padahal, penting bagi Riko untuk mengetahui perkembangan catatan waktu yang ia peroleh saat menyentuh garis akhir itu. Namun peristiwa tertawa dan menepuk-nepuk tangan itu sudah berlalu sejak satu tahun yang lalu. Sekarang adiknya sudah lebih besar untuk memahami betapa pentingnya catatan waktu itu bagi Riko.

Sejak saat itu, sampai beberapa bulan setelahnya. Setiap hari, bahkan sebelum ayam-ayam mulai berkokok, Riko sudah membangunkan adik kecilnya dan membopongnya menuju sebuah lintasan yang berada di belakang rumah mereka. Sebuah lintasan tanah liat dan berpasir yang di kanan dan kirinya tumbuh rimbunan pepohonan. Di lintasan itu Riko telah membuat dua buah garis: Garis start dan garis finish. Jarak antara kedua garis itu sudah ia ukur secara cermat berkali-kali: 1 Mil.

Tugas Angga, seperti mana yang dijelaskan Riko adalah berdiri persis disamping garis finish, mengambil ancang-ancang dengan jari yang siap diatas tombol sambil terus mengamati abangnya yang berada jauh di garis start. Angga akan menekan tombol penghitung waktunya saat melihat Riko mulai berlari, dan menekannya kembali ketika Riko menyentuh garis finish.

Perihal apa yang dikatakan oleh penduduk desa tentangnya selama dua tahun ini sudah sampai pada batas keterlaluan. Bahkan Genta, dengan alasan bahwa ia tidak ingin ikut dijadikan bahan lelucon karena dulunya pernah menjadi teman Riko saat berlatih, justru sekarang kerap menjadi salah satu diantara penduduk desa lainnya yang bercerita tentang Riko dan menjadikannya sebagai bahan untuk terbahak-bahak. Namun dua tahun adalah waktu yang lebih daripada cukup bagi Riko untuk tak menghiraukan lelucon tentang dirinya itu lagi. Kadang-kadang ketika suatu peristiwa yang tak menyenangkan itu sudah terlampau sering kita terima, lambat laun kita tidak lagi merasakan kesan apapun terhadapnya. Hambar.

Riko mencatat setiap perkembangan dari kecepatan kakinya di sebuah buku catatan kecil tak bersampul: “6 menit 21 detik”, “6 menit 15 detik”, “5 menit 57 detik”, “5 menit 36 detik” dan catatan waktu terakhir yang ia peroleh setelah setiap hari selama kurang lebih dua tahun lamanya berlatih adalah 4 menit 12.2 detik.

Agaknya, setelah ratusan atau bahkan ribuan kali ia berlari di lintasan itu, Riko mulai mulai menyadari dimana letak kelemahannya sehingga ia kesulitan menembus waktu kurang dari 4 menit. Kelemahan itu ia sadari terletak pada pernafasannya yang mulai tak teratur setiap kali melewati separuh lintasan, saat itulah ia kerap merasakan kecepatannya mulai berkurang secara drastis, tak peduli seberapapun kerasnya ia berusaha untuk mengajak seluruh ototnya bekerja sama demi mengembalikan kecepatannya, ia selalu gagal.

Pernafasan adalah satu hal dari kelemahannya, dan hal lainnya adalah pikirannya, yang ia kira menjadi sumber pusat masalah. Dimana ketika pikiran itu telah menanggung ketakutan akibat terlalu serius memikirkan dadanya yang akan meledak dan tulang-tulangnya terasa akan remuk, serta merta setiap otot di seluruh tubuhnya menerima sinyal itu dan menafsirkannya sebagai pengurangan kecepatan. Maka dari itu, Riko mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa masalah yang sesungguhnya yang ia miliki adalah harus terlebih dahulu menaklukkan pikirannya sendiri.
Tentu saja, menurutnya, ketika pikiran itu telah dapat ia rangkul untuk bekerja sama, yaitu dengan meyakini bahwa waktu kurang dari 4 menit bukanlah hal yang sulit dan tidak akan membuat dadanya meledak dan tidak pula meremukkan tulang-tulangnya, maka bersamaan dengan itu ia akan leluasa bisa mengatur pernafasaannya dan mengontrol secara bebas setiap otot-otonya sebagaimana yang ia inginkan walaupun telah melewati separuh lintasan.

Pagi itu, di tengah keremangan embun pagi dan kicau-kicau burung yang bertengger di ranting-ranting pepohonan, Angga yang dipaksa bangun pagi dan masih terkantuk-kantuk telah berdiri di ujung garis finish. Di lehernya telah dikalungkan alat penghitung waktu. Jarinya telah siaga di atas tombol alat tersebut, siap kapan saja untuk menekannya. Di ujung yang lain, Riko merentangkan tangan, mengayun-ayunkannya sembari menghirup udara segar beberapa kali sebelum akhirnya ia menatap jauh ke depan, menuju garis finish tempat dimana adiknya berdiri. Setelah beberapa saat ia menghimpun konsentrasi, mendengar detak jantungnya sendiri, Riko siap untuk berlari … dan,
Wuussshhh …

Riko menghentakkan kakinya. Angga menekan tombol. Burung-burung di ranting pepohonan tadi beterbangan. Riko telah melesat dalam kecepatan yang luar biasa, mencungkil tanah-tanah yang berada dalam pijakannya. Lintasan berpasir itu seketika menjadi arena yang berdebu, terhempas ke sembarang arah diantara suasana pagi yang remang dan berembun. Di ujung lintasan terdengar Angga berteriak-teriak kegirangan melihat abangnya melesat-lesat meninggalkan debu dibelakangnya.

“Abaaaang … Ayo abaaaaang … Cepat lalliii abaaaang. Lalliiiiiii …” Genta menjerit-jerit. Alat penghitung waktu itu berayun-ayun, berguncang-guncang meningkahi lompatan-lompatan kecilnya. [SY] Bersambung…

Gilang Mutahari Farouzie

*Gilang Mutahari Farouzie, lahir di Aceh Tengah, 18 Desember 1991 beralamat Bale Atu, Takengon. Alumnus SMA N 5 Jakarta, Jakarta Pusat, 2006 – 2009 dan Teknik Informatika (S1), Institut Teknologi Medan, 2009 – 2013. Mendirikan sebuah komunitas seni dan olah raga di Jakarta, Medan dan Aceh Tengah pada tahun 2010 – 2013. Menjabat Sebagai Koordinator Bidang Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Teknologi Medan periode 2012 – 2013. Admin Web di PT. Sempurna, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang distributor perangkat keras komputer di Jakarta pada tahun 2014, Admin Web di Gudangcomp.com pada tahun 2014. Promo Officer di PT. Overseaszone Education Consultan, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konsultan pendidikan luar negeri di Jakarta pada tahun 2015, administrator & Operator di CV. Bima Cipta Konsultan, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang konsultan konstruksi di Aceh Tengah pada tahun 2016. Sekretaris dan Operator di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) An-Najah pada tahun 2017, kontributor (penulis) di situs berita online sipena.com pada tahun 2015. Saat ini aktif sebagai penulis dan pembicara. Karya Yang Telah Terbit: Mercusuar Padang Pasir (sebuah novel) yang diterbitkan oleh Penerbit Guepedia, Bekasi, Jawa Barat pada Maret 2016; LENSA (sebuah novel) yang diterbitkan oleh penerbit Giatmedia (Divisi Sastra Penerbit Rayhan Intermedia), Makassar, Sulawesi Selatan pada tahun dan bulan yang sama dengan diterbitkannya karya yang pertama, Maret 2016. E-Mail: gilangmutahari@gmail.com.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *