Siapakah Datu Beru?

oleh
datu-beru-akun-twitter
Ini akun twitter @berudatu, sumber gambar yang dicomot oleh si pencetak buku tulis bercover datu beru.

Catatan: Muhammad Syukri

Dalam beberapa hari ini, pengguna media jejaring sosial di wilayah Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dihebohkan oleh buku tulis bergambar Datu Beru. Bermula dari Zuhra Ruhmi, seorang facebooker juga wartawan Lintas Gayo.co. Dia mengupload [mengunggah] gambar cover buku tulis itu ke laman facebook-nya. Disitu dia menulis: “Benarkah ini gambar Datu Beru? Foto diambil dari cover buku tulis salah satu sekolah menengah pertama di Takengon, Kamis 22 September 2016.”

Beragam komentar dan tanggapan bermunculan di kolom komentar laman Facebook Zuhra Ruhmi. Semuanya mempertanyakan keabsahan foto Datu Beru sebagaimana gambar itu. Seperti komentar Iranda Padihe: “Sudah modis ya zaman dulu?” Lalu Yusradi Usman Al-Gayoni menanggapi: “Selo ara jema jemen lagu noya. Ini nge penghinaen dan nge mayo ku ranah hukum…” Ditambahkan oleh Rejeki Iwan Tona: “Oya lebih cocok ditanyakan ku si nos bukua…”

Dizaman sekarang, ketika teknologi informasi begitu maju, menelusuri asal muasal foto itu sebenarnya cukup mudah. Tulis saja di mesin pencari Google, “datu beru.” Lalu muncul berita, tulisan dan gambar tentang “datu beru.” Supaya lebih mudah menemukan gambar itu, klik tombol gambar dilaman paling atas Google. Sesaat kemudian akan muncul sejumlah gambar, ada gambar kuburan, termasuk gambar beberapa perempuan. Diantara gambar itu, ada satu gambar yang mirip dengan gambar yang ada pada cover buku tulis yang diunggah Zuhra Ruhmi.

Rupanya, gambar itu adalah avatar [gambar profil] dari pemilik akun twitter bernama Datu Beru @berudatu. Dari profil itu, sepertinya pemilik akun ini adalah seorang perempuan kelahiran 12 Desember 1992, tinggal di Jakarta. Pengikut akun twitternya tidak banyak, hanya 21 orang, sebaliknya, dia mengikuti 162 akun milik orang lain.

Dari fakta ini dapat disimpulkan bahwa si pencetak cover buku tulis tadi mencari gambar “datu beru” melalui Google. Sewaktu dia mencari gambar “datu beru” di mesin pencari Google, maka yang muncul dilayar komputernya adalah perempuan pemilik akun twitter @berudatu. Tanpa konfirmasi, tanpa tanya kiri kanan, si pencetak cover buku tulis itu langsung mencomot gambar tersebut.

Sungguh disayangkan, ini sebuah kecerobohan “fatal” yang dilakukan oleh si pencetak buku tulis itu. Kenapa? Pangsa pasar buku tulis itu adalah siswa tingkat SD, SMP, sampai SMA. Mereka sama sekali tidak mengenal sosok rupa Datu Beru, paling-paling mereka mengenalnya dalam bentuk cerita yang dilantunkan melalui syair didong. Bahayanya, begitu  melihat gambar perempuan yang bertulis “datu beru” dicover buku tulisnya, tertanamlah dibenak anak-anak yang masih polos itu, inilah “datu beru.”

Siapakah sesungguhnya Datu Beru? Sepertinya gambar [lukisan] maupun foto tentang sosok ini belum pernah ditemukan sampai hari ini. Namun, tulisan tentang Datu Beru dapat dibaca dari beberapa tulisan, salah satunya dalam buku yang ditulis M. Junus Djamil [1959:61] berjudul Gadjah Putih yang diterbitkan oleh Lembaga Kebudajaan Atjeh. Dalam buku ini si penulis menjelaskan [saya kutip ulang sebagaimana tulisan aslinya]: “Empoeberoe [sebutan lain dari Datu Beru – pen], ialah nama gelaran seorang wanita bangsawan jang turun temurun dari Radja Lingga Pertama [Kik Betol]. Radja Lingga Pertama mempunjai empat orang anak:

  1. Seorang anak perempuan, jang bernama Empoeberoe, ialah anak tertua.
  2. Seorang anak laki-laki, jang bernama Sibajak Lingga. Anak ini tidak tinggal bersama ajahnja di negeri Lingga, bahkan ia pergi kedaerah Karo dengan sepasukan teman-teman dan budaknja, membuka negeri dilembah sebuah gunung berapi, jang terkenal hingga sekarang ini dengan gunung Sibajak di tanah Karo.
  3. Seorang anak laki-laki, jang bernama Meurah Djauhan. Anak ini pun dengan beberapa banjak pengikutnja pergi mengembara ke utara daerah Atjeh Besar sekarang, membangunkan negeri ditempat mana terkenal Lamkrak dan Lamoeri. Menurut kroniek negeri Lingga, dari Meurah Djauhan lah asal mula keturunan Sulthan-sulthan di Atjeh Raja.
  4. Jang bungsu sekali, seorang anak laki-laki, jang bernama Meurah Lingga. Ia bersama Empoeberoe jang tetap tinggal disamping ajahnja Radja Lingga Pertama itu. Meurah Lingga itulah jang menjadi Radja Lingga turun temurun setelah menghilang [mangkat] Radja Lingga Pertama.

Djadi tiap-tiap anak perempuan jang tertua dari keturunan Empoeberoe Pertama itu, digelarkan djuga dengan nama Empoeberoe. Padanjalah tersimpan pusaka asli dan keterangan silsilah keturunannja.

Empoeberoe jang dimasa Radja Lingga ke XIV, seorang wanita jang alim, tjerdik dan tangkas. Ia seorang wanita jang banjak pengertian dalam seluk beluk keturunan suku-suku bangsa di daerah Atjeh.

Empoeberoe, ialah perempuan bangsawan jang senantiasa tetap berhubungan dengan Sulthan-sulthan di Atjeh dalam masa-masanja dan tetap mendapat kemuliaan pada Sulthan-sulthan Atjeh dan didengar perkataanja. Empoeberoe ini, adalah mendjadi selaku salah seorang wakil rakjat Lingga dalam madjlis Sulthan Alaidin Ri’ajah Sjah Al-Kahar.

Begitulah profil Datu Beru yang tercatat dalam buku Gadjah Putih. Mudah-mudahan dengan uraian singkat ini, akan menambah pemahaman pembaca tentang sosok Datu Beru. Dengan demikian, kita tidak serampangan memasang foto seorang perempuan, lalu melabelnya dengan Datu Beru. Harapannya, buku tulis bercover “datu beru” segera ditarik dari pasar atau siswa, supaya mereka tidak terlanjur meyakini gambar perempuan itu sebagai “datu beru” yang asli. Semoga dapat mencerahkan. []

Comments

comments