Ecek Bahim, 30 Tahun Ciptakan Ratusan Syair Didong Tanpa Tulisan

oleh
Sumber foto : majalah Hariye

Oleh : Win Ruhdi Bathin & Khalisuddin

Sumber foto : majalah Hariye
Sumber foto : majalah Hariye

SUARANYA berintonasi sopran, energik. Alisnya tebal. Ingatannya masih kuat. Segelas kopi Gayo dari biji kopi arabika  menemaninya. Asap rokok filter menyembul dari mulutnya. Mengenakan celana training warna merah dan kemeja bergaris warna putih dan hijau.

Meski usianya sudah 83 tahun, lelaki sepuh yang mulai popular sejak tahun 1945-1975 ini memiliki enam orang anak dengan belasan cucu bahkan cicit. Saat ditemui dirumahnya di Arul Atong Kecamatan Bies, Kamis (25/6/2009) silam, Syeh Mahmud sedang melayani pembeli bensin dari kenderaan Vespa.

Syeh Mahmud dirumahnya bukan hanya menjual bensin. Tapi juga berbagai keperluan masyarakat sekitarnya. Bahkan Syeh Mahmud juga membeli kopi warga sekitar yang mengandalkan kopi sebagai sumber utama disana.

Syeh Mahmud mengajak kami ke ruang dapurnya yang luas.  Kebiasaan masyarakat Gayo mengajak tamunya ke bagian dapur sebagai sebuah kehormatan karena sudah dianggap akrab atau keluarga.

Bahkan di Dataran Tinggi Gayo, ruang tamu hampir tidak berfungsi karena tamu yang datang, biasanya lebih sering diajak ke dapur. Tempat segala kegiatan. Kebiasaan ini umumnya berlaku di Kampung-kampung di Gayo.

Syeh Mahmud lahir di Bebesen , 1 Desember 1926. Dari pasangan M. Adam, Reje Penghulu Kala Bebesen dan Ibu Maryam. Menamatkan pendidikan Sekolah Rakyat (SR) tahun 1948. Menurut Syeh Mahmud, di sudah memulai menjadi Ceh didong (vokalis utama) grup didong Kabinet Bebesen sejak tahun 1945.

“Saya mulai dikenal sebagai ceh di era tahun 1945 hingga tahun 1975. Kemudian  saya meninggalkan dunia didong dan mulai serius berkebun di Arul Latong”, kata Syeh Mahmud mengenang perjalanan karirnya.

Selama 30 tahun, Syeh Mahmud menjadi ceh didong dan telah ratusan lirik didong dikarangnya. Hebatnya, semua lirik didong yang dikarang Syeh Mahmud untuk grup didongnya yang beranggotakan 40 orang, tidak dicatat.

Saat ditanya bagaimana Syeh Mahmud mengingat semua liriknya saat ber-didong jalu, dia mengatakan hanya mengandalkan kekuatan ingatannya, tanpa catatan apapun.

Jika hendak bertanding dalam didong jalu, Syeh Mahmud menghabiskan waktunya mencari lirik yang akan dipakai saat bertanding. “kalaupun pergi ke kebun atau sawah, saya selalu mencari inspirasi dan coba merangkainya menjadi sebuah lirik didong yang baru. Karena setiap kali bertanding didong jalu, gaya dan lirik didongnya tidak pernah sama”, jelas Syeh Mahmud.

Ecek Bahim. (LGco_Kha A Zaghlul)
Ecek Bahim. (LGco_Kha A Zaghlul)

Dalam sebuah pertandingan didong yang dilakukan semalam suntuk. Menurut Syeh Mahmud, paling tidak ada 14 sintak (tarikan) didong yang dipersiapkan. Dimana setiap setengah jam sekali, secara bergantian satu grup didong tampil dan digantikan grup didong lawan mainnya setiap setengah jam berikutnya.

Selama setengah jam menampilkan lirik didong disertai gaya dan kata-kata yang menarik berupa tamsilan yang menyerang grup lawan. “Saat saya menjadi ceh, kami tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar atau saling menjelekkan secara vulgar dan langsung. Tapi semuanya berupa tamsilan saja”, ulas Syeh Mahmud.

Bahkan setelah selama sepanjang malam saling melempar kata saling serang dalam lirik didong yang disimpan dalam tamsil, keesokan harinya, dua grup didong yang berlaga kata ini kemudian duduk ngopi bersama. Menurut istilah Syeh Mahmud “Berakah”, sehingga tidak pernah ada singgungan setelah selesai didong jalu.

Di era Syeh Mahmud berdidong, satu grup didong biasanya beranggotan 40 orang. Dengan dua ceh ditambah ceh yang disebut “penyawahni jem”. Ceh ini hanya berfungsi menyampaikan waktu yang akan habis.

Di tahun sebelum 1945, menurut Syeh Mahmud grup didong belum memakai bantal sebagai alat tepuk. Semuanya masih mengandalkan tepukan tangan. Barulah setelah tahun 1945, tepukan tangan digantikan bantal kecil.

Berdidong di tahun pra kemerdekaan, kata Syeh Mahmud mengenang, masih tanpa penerangan. Berdidong dilakukan di bawah rumah panggung warga. Rumah masyarakat Gayo kala itu adalah rumah panggung. Dibawah rumah tersebut terkadang menjadi kandang kambing, kuda dan kerbau.

“Teleten (bagian bawah rumah) dibersihkan dulu dari tahi kambing sebelum dipakai berdidong. Untuk penerangannya tumpukan kayu dibakar. Warga yang datang ke arena didong biasanya memakai suluh dari bagian atau potongan uyem (pinus mercusi)”, kenang Syeh Mahmud.

Jika ada hajatan pernikahan, didong bisa berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Sebagai ceh didong Kabinet, Syeh Mahmud atau grup-grup didong lainnya yang popular di era Syeh Mahmud seperti Gobal, Lakiki, Dewantara dan Siner Pagi serta sejumlah grup lainnya, melakukan didong jalu karena beberapa sebab.

Salah satu sebab mereka berdidong karena berbagai kepentingan. Misalnya untuk mengumpulkan uang guna membangun Mersah (Menasah), jembatan, sekolah dan sarana umum lainnya. Untuk mengumpulkan dana tersebut, sebuah panitia mengundang dua grup didong jalu. Dari penonton ditarik uang masuk dan hasil pengumpulan uang ini dipakai untuk membangun sarana umum.

Selain itu berbagai kepentingan lainnya juga kerap melakukan undangan bagi grup-grup didong , termasuk Kabinet dalam bentuk festival dan diberi hadiah. Termasuk saat DI/TII berlangsung. Pasukan TNI dari Jawa yang dipimpin Kelowo menggelar festival didong. Demikian halnya KPW (Kepala Polisi Wilayah).

Suatu ketika, kata Syeh Mahmud, Kabinet ikut festival yang digelar KPW di Takengon. Setelah Kabinet dinyatakan menang, KPW memberi hadiah berupa lambang KPW berupa Obor. “Hadiah ini kemudian saya jual karena tidak punya uang. Tapi tidak semua orang berani membelinya karena hadiahnya merupakan lambang polisi. Akhirnya hadiah itu saya jual pada seorang Cina di Takengon yang membuat hadiah tersebut”, sebut Syeh Mahmud sambil tertawa.

Syeh Mahmud mengaku menyesal telah menjual hadiah tersebut karena sangat berarti sebagai bukti atau kenangan baginya sebagai Ceh didong di masa lalu. Tapi alasan ekonomi kala itu membuat Syeh Mahmud terpaksa menjualnya karena hanya itu barang berharga miliknya.

Setelah 30 tahun menjadi Ceh Kabinet, Syeh Mahmud kemudian meninggalkan dunia seni didong ini karena anak-anaknya mulai memasuki Perguruan Tinggi dan berprestasi. Sehingga membutuhkan biaya. Syeh Mahmud kemudian di tahun 1972 pindah dari Bebesen ke Alur Atong dan menjadi petani kopi hingga sekarang.

Empat orang anaknya kemudian berhasil menamatkan kuliah dan tinggal di Banda Aceh. Saat tsunami tahun 2004, seorang anak Syeh Mahmud, Ir, M Saleh Arla, MSi ikut menjadi korban.

Meski tidak lagi menjadi Ceh Didong selama di Arul Latong, Syeh Mahmud dipercaya masyarakat setempat menjadi Kepala Kampung (Gecik ) selama 16 tahun.

Ecek Bahim. (LGco_Kha A Zaghlul)
Ecek Bahim. (LGco_Kha A Zaghlul)

Tari Guel, Tari Sakral

Syeh Mahmud, ternyata bukan hanya seorang Ceh. Tapi juga seorang guru tari Guel bagi anak-anak di Arul Latong. Tarian sakral dijaman kerajaan Islam Linge yang mampu membangunkan Gajah Putih dari duduknya untuk kemudian diantar ke Kutereje (Kota Raja) di Banda Aceh, tempat Sultan Aceh berada, menurut sejarah.

Menurut Syeh Mahmud, tari Guel bukanlah tari sembarangan. Tapi juga mengandung berbagai makna dan diambil dari beberapa tingkah laku hewan. Seperti gerakan Seneng Lintah, Kepur Nunguk .Tari guel kemudian diperuntukkan bagi pasangan baru menikah yang dalam bahasa Gayo disebut Aman dan Inen Mayak.

“Didalam tari Guel, musik pengiringnya bukan sembarang pukul rapa’i yang digunakan”, kata Syeh Mahmud. Tari Guel juga kini digunakan menyambut tamu kehormatan yang datang ke Dataran Tinggi Gayo.

Seorang penari Guel disebut juga “Guru Guel”. Guru Guel memakai kain yang disebut Upuh Ulen-ulen yang berukir Kerawang Gayo. Bersamaan dengan tari Guel, berkembang juga tari Munalo. Syeh Mahmud menegaskan, Tari Guel hanya dilakukan laki-laki.

Tari Munalo, juga tari penghormatan yang berarti pula tari memanggil. “Tapi tapi Munalo tidak dilatari sejarah. Merupakan tari buatan atau kreasi yang berkembang sejak dahulu kala”, kata Syeh Mahmud

Sebagai seorang seniman di zaman pra kemerdekaan hingga Indonesia Merdeka, Syeh Mahmud juga seorang anggota Veteran. Oleh Pemkab Aceh Tengah, Syeh Mahmud diberi sebuah rumah yang diperuntukkan bagi seniman Gayo di kawasan Belang Bebangka Pegasing.

Ecek Bahim

Tidak banyak yang tahu atau kenal nama Syeh Mahmud di kalangan seniman dan masyarakat Aceh Tengah. Nama julukan Syeh Mahmud ternyata jauh lebih popular. “Menyebut nama bagi masyarakat Gayo, sepertinya pantangan menyebut nama”, sebut Syeh Mahmud. Nama julukan atau alias Syeh Mahmud adalah Ecek Bahim.

Nama Ecek Bahim mulai popular di tahun sekitar tahun 1942. Saat itu, Syeh Mahmud kecil yang berumur 10 tahun sudah menunjukkan bakatnya sebagai seniman didong sebagai Ceh.

Dalam suatu latihan didong di Kampung Bebesen di tahun 1942, seorang warga yang melihat latihan didong Kabinet, dimana Syeh Mahmud, belum tergabung didalam grup didong Kabinet. Warga meminta agar Syeh Mahmud diikutkan menjadi ceh, dengan ucapan, “Ecekni Ibrahim so urumen ken ceh”, kata seorang warga yang melihat Syeh Mahmud sudah menunjukkan potensi sebagai vokalis didong (ceh).

Ibrahim adalah abang Syeh Mahmud. Yang dimaksud warga dengan panggilan Ecek Ibrahim tadi adalah Syeh Mahmud. Namanya kembali diplesetkan, dan terakhir namanya menjadi “Ecek Bahim” yang ternyata lebih banyak dipakai warga untuk menyebut atau memanggil Syeh Mahmud.

Selain sebagai ceh, Ecek Bahim juga sangat ahli dan paham adat Gayo. Dalam satu kesempatan, diterangkan Ecek Bahim, dia ditanya tentang asal mula adat Gayo. Menurut Ecek Bahim, adat  dibuat untuk ketertiban masyarakat, aman , sentosa. Dan tidak bertentangan dengan agama, hukum utama.

Asal adat Gayo , kata Ecek Bahim dari “Keramat Mupakat Behu Berdedele”, yang artinya dari musyawarah untuk mupakat. Meski masih sangat bersemangat dan energik,  Ecek Bahim menyatakan sudah mulai uzur. Pendengaran dan matanya mulai kurang dan rabun.

Diantara lagu-lagu didong yang kini sudah diiringi alat musik modern seperti Manuk, Rune Runang dan lagu-lagu lain yang tak lagi diingat Ecek Bahim merupakan ciptaan anggota dan pendukung Kabinet. “Pantang bagi kami mengaku-ngaku sebuah lagu Kabinet adalah karangan perorangan. Setiap karangan lagu adalah milik bersama,” kata Ceh Bahim.

Ecek Bahim sudah mengukir karyanya sebagai Ceh yang katanya merupakan amal darinya untuk agama dan masyarakat Gayo. Dia berpulang di tahun 2013 dan dikebumikan di Bebesen, tempat kelahirannya.[]

Comments

comments