Oleh: Mayani (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Ar-raniry Banda Aceh)
Gayo, Tanah yang Menyimpan Keindahan dan Kehidupan
Ketika mendengar nama Dataran Tinggi Gayo, banyak orang mungkin langsung teringat pada kopi Gayo yang terkenal, udara sejuk, dan pemandangan pegunungan yang menenangkan.
Di Aceh Tengah, Danau Lut Tawar menjadi salah satu pesona alam yang membentang di antara perbukitan. Hamparan kebun kopi, jalanan yang dikelilingi pegunungan, serta suasana Takengon yang khas menjadikan Gayo sebagai salah satu bagian istimewa dari Aceh.
Namun, Gayo bukan hanya tentang alam yang indah. Gayo adalah rumah bagi masyarakat yang memiliki budaya, tradisi, dan ikatan sosial yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Kekayaan Gayo juga terlihat dari kesenian Didong, yaitu seni tradisional yang memadukan nyanyian, sastra, dan tepukan tangan. Melalui Didong, masyarakat dapat menyampaikan pesan, nasihat, dan ungkapan kehidupan.
Ada pula Kerawang Gayo, kerajinan tradisional dengan motif khas yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakatnya. Selain itu, kopi Gayo bukan sekadar komoditas pertanian.
Di balik setiap hasil panen, ada kerja keras petani, keluarga yang menggantungkan penghasilan pada kebun, dan kehidupan sosial yang tumbuh bersama aktivitas pertanian. Bahkan, ikan depik yang hidup di Danau Lut Tawar turut menjadi bagian dari kekayaan alam dan kehidupan masyarakat Gayo.
Semua itu membuat Gayo memiliki arti lebih dari sekadar tempat yang indah untuk dikunjungi. Bagi masyarakat yang tinggal di sana, Gayo adalah tempat tumbuh, bekerja, membangun keluarga, dan menyimpan kenangan. Karena itulah, ketika bencana melanda, yang terdampak bukan hanya lingkungan, tetapi juga kehidupan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Ketika Bencana Mengubah Kehidupan Masyarakat
Pada akhir November 2025, bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang dan tanah longsor melanda berbagai wilayah di Aceh, termasuk Aceh Tengah dan Bener Meriah. Berdasarkan laporan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah pada 28 November 2025, bencana yang terjadi pada periode 25–28 November tersebut berdampak pada 14 kecamatan.
Data sementara saat itu mencatat 15 orang meninggal dunia, 3.213 kepala keluarga mengungsi, dan 1.890 rumah mengalami kerusakan. Akses jalan nasional menuju Aceh Tengah juga terputus.
Dampak bencana terus dirasakan pada Desember 2025. Radio Republik Indonesia melaporkan bahwa hingga 22 Desember 2025 pukul 21.00 WIB, sebanyak 35.265 warga Aceh Tengah masih terisolasi di satu kecamatan dan 49 kampung.
Pada saat yang sama, bencana tersebut dilaporkan berdampak pada 12.638 hektare lahan kopi. Data ini memperlihatkan bahwa bencana tidak hanya mengganggu tempat tinggal dan akses transportasi, tetapi juga mengancam mata pencaharian masyarakat.
Bayangkan petani yang telah merawat kebun kopi selama bertahun-tahun, tetapi kemudian harus menghadapi kerusakan lahan dan ketidakpastian hasil panen. Bayangkan pula keluarga yang kesulitan mengakses kebutuhan pokok karena jalan menuju kampungnya terputus.
Bagi mereka, bencana bukan hanya kejadian yang berlangsung selama hujan deras, melainkan persoalan yang dampaknya dapat terasa jauh setelah air surut dan material longsor dibersihkan.
Luka yang tidak selalu terlihat
Menurut saya, salah satu hal yang perlu mendapatkan perhatian lebih besar setelah bencana adalah kondisi psikologis masyarakat yang mengalaminya. Ketika berita bencana muncul, perhatian kita biasanya tertuju pada jumlah korban, rumah yang rusak, jalan yang terputus, dan bantuan yang dibutuhkan.
Semua itu memang penting. Namun, ada bagian lain yang tidak selalu terlihat, yaitu perasaan takut, kehilangan, dan ketidakpastian yang mungkin dialami para penyintas.
Dalam perspektif Psikologi Klinis, pengalaman bencana dapat menjadi sumber tekanan psikologis. Seseorang mungkin merasa cemas ketika hujan deras kembali turun, mengalami kesulitan tidur, mudah terkejut, atau terus teringat pada peristiwa yang mengancam keselamatannya.
Keluarga yang kehilangan tempat tinggal juga dapat mengalami kesedihan karena harus meninggalkan lingkungan yang selama ini memberikan rasa aman. Sementara itu, petani yang kehilangan sumber penghasilan mungkin merasa khawatir mengenai kebutuhan keluarga dan masa depan mereka.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa keadaan darurat dapat mengganggu kesehatan mental, terutama ketika seseorang mengalami kehilangan, terpisah dari keluarga, kehilangan mata pencaharian, atau kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar.
Meski demikian, tidak semua penyintas akan mengalami gangguan mental. Banyak orang dapat pulih secara bertahap, sedangkan sebagian lainnya mungkin membutuhkan dukungan lebih lanjut. Oleh karena itu, penting untuk memahami reaksi psikologis setiap orang tanpa terburu-buru memberikan diagnosis.
Menurut saya, masyarakat tidak boleh hanya dinilai dari seberapa cepat mereka mampu bangkit setelah bencana. Ada orang yang terlihat kuat di hadapan orang lain, tetapi masih menyimpan ketakutan dan kesedihan.
Ada pula yang memilih diam karena belum mampu menceritakan pengalaman yang dialaminya. Kita tidak seharusnya memaksa mereka untuk segera melupakan kejadian tersebut. Sebaliknya, mereka perlu diberikan ruang untuk beradaptasi dan mendapatkan dukungan sesuai dengan kebutuhannya.
Budaya dan kebersamaan sebagai kekuatan untuk bangkit
Di tengah situasi yang sulit, kekayaan budaya dan ikatan sosial masyarakat Gayo dapat menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Tradisi seperti Didong menunjukkan bahwa masyarakat memiliki ruang untuk berekspresi dan menyampaikan pesan melalui kesenian.
Hubungan keluarga, tetangga, dan komunitas juga dapat membantu seseorang merasa tidak sendirian ketika menghadapi kesulitan.
Namun, budaya bukan berarti masyarakat harus selalu kuat atau mampu menyelesaikan semua masalahnya sendiri. Orang yang mengalami tekanan psikologis tetap membutuhkan dukungan nyata. Keluarga dapat membantu dengan mendengarkan tanpa menghakimi.
Tetangga dapat saling membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pemerintah dan tenaga kesehatan juga perlu memastikan bahwa layanan kesehatan fisik dan psikologis dapat diakses oleh masyarakat yang terdampak.
Dari sudut pandang Psikologi Klinis, dukungan psikososial merupakan salah satu bagian penting dalam penanganan bencana. Bantuan tidak harus selalu dimulai dengan intervensi psikologis yang rumit.
Memberikan informasi yang jelas, membantu memenuhi kebutuhan dasar, menjaga hubungan keluarga, dan menyediakan ruang aman untuk bercerita dapat menjadi langkah awal yang berarti. Jika tekanan yang dialami seseorang berlangsung lama atau sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, pendampingan dari tenaga profesional seperti psikolog perlu dipertimbangkan.
Karena itu, pemulihan masyarakat Gayo perlu dilakukan secara menyeluruh. Perbaikan jalan, rumah, fasilitas umum, dan kebun merupakan hal yang penting, tetapi kesehatan mental juga harus menjadi bagian dari perhatian. Jangan sampai masyarakat telah memiliki tempat tinggal kembali, tetapi masih kesulitan mendapatkan dukungan untuk menghadapi kehilangan dan ketakutan yang dialami.
Menjaga Gayo berarti menjaga manusianya
Bencana hidrometeorologi pada akhir 2025 menjadi pengingat bahwa keindahan alam tidak membuat suatu daerah terbebas dari risiko bencana. Upaya menjaga lingkungan, meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat sistem peringatan dini, dan memastikan distribusi bantuan harus menjadi perhatian bersama. Pada saat yang sama, masyarakat yang terdampak perlu mendapatkan kesempatan untuk memulihkan kehidupan dan kondisi psikologisnya.
Saya ingin Gayo dikenal bukan hanya sebagai daerah penghasil kopi yang mendunia atau wilayah dengan pemandangan pegunungan yang menakjubkan. Saya juga ingin orang-orang mengenal Didong, Kerawang Gayo, ikan depik, dan kehidupan masyarakat yang tumbuh bersama alamnya. Lebih dari itu, saya ingin perjuangan masyarakat Gayo setelah bencana juga mendapat perhatian.
Ketika tanah Gayo berduka, yang perlu kita lihat bukan hanya kerusakan yang tampak di permukaan, tetapi juga kehidupan manusia yang ikut berubah. Rumah mungkin dapat dibangun kembali, kebun dapat dirawat kembali, dan jalan dapat diperbaiki. Namun, bagi mereka yang mengalami kehilangan, menemukan kembali rasa aman mungkin membutuhkan waktu, dukungan, dan kepedulian dari banyak pihak.
Pada akhirnya, menjaga Gayo berarti menjaga alamnya, melestarikan budayanya, dan memperhatikan kesehatan mental masyarakatnya. Sebab, keindahan sebuah daerah tidak hanya terletak pada pemandangan yang dapat dilihat oleh mata, tetapi juga pada manusia yang menghidupkan daerah tersebut melalui budaya, kerja keras, dan kebersamaan. Jangan sampai setelah air surut dan longsor dibersihkan, luka yang tidak terlihat justru dilupakan.
Gayo layak dikenal karena keindahannya, tetapi masyarakatnya juga layak mendapatkan perhatian agar dapat bangkit dan melanjutkan kehidupan dengan harapan baru. []





